Agus Sumarno, S.Pd.,MM.,M.Pd.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
CINTA YANG KANDAS  (52)

CINTA YANG KANDAS (52)

Cerpen:

CINTA YANG KANDAS

Oleh: Agus Sumarno

 

Every night in my dreams. 

I see you, I feel you. 

That is how I know you go on ...

Begitulah Rendra menyanyikan My Heart Will Go On lagunya Celin Dion. Lagu itu terngiang setiap Rendra menghayalkan sosok Fanny di kamarnya. Setiap malam cewek itu hadir dalam mimpi. Cantik, manis, dan pintar. 

Rendra terkadang merasa minder apabila berada di dekat Fanny. Rendra beruntung sekali bisa dekat dan akrab dengan Fanny. Meskipun Rendra agak telmi, tapi Fanny tidak pernah bosan untuk memberikan nasihat. Hal ini membuat semangat Rendra bangkit kembali. 

Duh, Fanny di mata Rendra adalah sebagai dream girl. Belum ada yang bisa menandingi Fanny. Baru kali ini Rendra bisa menilai sosok cewek yang betul-betul baik dan sempurna. Tidak terasa sudah setahun persahabatan mereka berdua. Tanpa disadari ada perubahan dalam diri Rendra. Fanny bukan saja sebagai teman. Tapi lebih dari itu. Entah dari mana awalnya perasaan itu. Kedekatan itu telah membuahkan rasa cinta.

“Hati-hati Ren, Fanny itu tipe cewek cemburu. Kamu nggak takut persahabatanmu hancur gara-gara cinta?” Roy sahabat karibnya mencoba memberi pandangan.

“Aku terbayang terus Roy. Fanny telah menguasai hatiku,” dalih Rendra.

“Ingat Ren, cemburu itu buta. Kalau kau siap, ya terserah,” ujar Roy.

Rendra penasaran ingin membuktikan ucapan Roy. 

Pada hari Minggu Rendra mengajak Fanny refreshing ke Indrayanti pantai selatan. Keduanya berkejaran di atas hamparan pasir putih. Mereka tampak happy menikmati panorama pantai yang indah itu. 

Di kejauhan tampak ombak selalu bertempur menghantam bebatuan. Angin berhembus sepoi tanpa henti. Di sepanjang pantai, pohon kelapa berdiri menyambut kedua insan yang sedang dilanda asmara. 

“Fan...boleh dong aku mengungkapkan isi hatiku?” ucap Rendra memecah keheningan.

“Serius amat sih... bilang aja Ren,” jawab Fanny sembari menyandarkan punggungnya pada batang pohon kelapa. 

“Kita bersahabat sudah lama. Aku ingin hubungan kita lebih serius,” ucap Rendra dengan hati dag-dig-dug. Dia menatap dalam-dalam wajah Fanny di depannya.

“Kau mau bikin masalah. Aku tahu keinginan ayahmu seperti apa. Bukankah keluargamu menginginkan Yolla jadi menantunya?” 

Kata-kata Fanny bagai pukulan uppercut yang telak. Ucapan itu sangat menyakitkan. Dalam diam, hati Rendra bergolak. Fanny harus mengikuti keinginannya.  

“Sabar Fan... kau tahu aku belum memutuskan apapun kepada orangtuaku,” dalih Rendra berusaha meyakinkan.

“Enggak Ren! Omong kosong! Aku tahu Yolla sudah sangat dekat dengan keluargamu,” ucap Fanny bernada ketus. 

Beberapa kali Rendra berusaha membujuk Fanny, tapi beberapa kali pula kandas. Cewek itu tetap keras pada pendiriannya. Rendra kalah. Persahabatannya selama ini berbuah pengorbanan yang sia-sia.

***

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Trims cerita yg menarik

22 Sep
Balas

Bu Risma penggemar cerita juga ...trims

22 Sep
Balas



search

New Post