Alvonsus Glori A, S.Pd

Lahir di Kota MalangHobby : menulis dan membaca bermusik melukis hiking Profesional: 1. Penulis 2. Guru Bah...

Selengkapnya
Navigasi Web
MATERI COACHING CLINIC CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 6

MATERI COACHING CLINIC CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 6

MATERI COACHING CLINIC CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 6

Apa yang dilakukan coach dalam membantu coachee mengenali situasi permasalahan) yang dihadapi coachee?

Hal pertama yang dilakukanU coachee adalah membantu siswa merumuskan tujuan yang ingin dicapai, selanjutnya mengarahkan siswa mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi. Serta merumuskan aksi nyata apa yang akan dilakukan oleh coachee untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi dan yang terakhir seorang coachee haruselakukan penegasan terhadap model bentuk tanggung jawab yang akan dilakukan oleh seorang coachee.

Untuk bisa membantu coachee mengidentifikasi dan menemukan aksi nyata yang akan dilakukan oleh coachee, seorang coachee harus mampu membuat pertanyaan yang bersifat afektif dan terbuka agar coachee dengan lebih leluasa mengungkapkan permasalahan dan bisa menemukan jalan keluar dari permasalahannya tersebut

2. Bagaimana cara coach memberi respons terhadap situasi (permasalahan) yang dihadapi coachee? (perhatikan secara cermat sikap dan perilaku coach)

Cara yang dilakukan seorang coach dalam merespon permasalahan yang dihadapi oleh coachee adalah dengan membangun kepercayaan, keakraban diantara keduanya. Hal ini bisa terjadi jika seorang coach mampu menunjukkan sikap empati, menjadi pendengar yang baik, dan memperhatikan setiap kalimat dan tujukan bahasa tubuh yang membuat seorang coachee merasa diperhatikan dan dipedulikan. Sehingga diharapkan dengan bersikap seperti itu coachee akan dengan sukarela mengatakan permasalahannya dan bersemangat untuk mengatasi permasalahannya tersebut.

3. Apakah praktek coaching model TIRTA dapat dipraktekkan dalam situasi dan o99 lokal kelas dan sekolah Anda? apa tantangan utama Anda dalam melakukan praktek coaching model TIRTA?

Praktik coaching model TIRTA dapat dipraktikkan dalam situasi dan konteks lokal kelas dan sekolah saya. Namun tantangan utama saya dalam melakukan praktik coaching model TIRTA adalah pada tahap identifikasi dan tahap pelaksanaan aksi nyata.

Pada tahap identifikasi seorang coach harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang efektif dan afektif untuk menumbuhkan rasa nyaman, aman percaya kepada coach, sehingga merangsang coachee dengan suka rela dan terbuka untuk menyampaikan permasalahan yang dihadapinya.

Sementara pada tahap aksi nyata diperlukan kerjasama dari berbagai unsur seperti guru bidang studi, orang tua atau teman siswa untuk memantau perkembangan yang dialami coachee. Di samping itu saya sebagai seorang coach tidak bisa memantau pelaksanaan aksi nyata yang akan dilakukan oleh coachee terutama saat coachee berada di rumah.

4. Siapakah yang dapat membantu Anda melatih praktek coaching model TIRTA di kelas dan sekolah Anda? Bagaimana Anda melibatkan mereka?

Dalam melatih praktek coaching menggunakan model TIRTA di sekolah, saya bisa bekerjasama dengan kepala sekolah, wali kelas, guru mata pelajaran, guru pembimbing, orang tua siswa dan teman siswa sendiri.

Kegiatan yang saya lakukan dengan membangun komunikasi serta sharing tentang praktek coaching model TIRTA. Sebagai guru bimbingan konseling cara yang dijelaskan dengan model TIRTA ini sering saya lakukan untuk membantu para siswa menyelesaikan permasalahannya. Namun saya tidak tahu bahwa tahapan yang saya lakukan ini dinamakan metode TIRTA. Dengan demikian model TIRTA ini menambah kemampuan dan wawasan saya sehingga hal ini akan mampu meningkatkan kompetensi saya sebagai seorang pendidik.

Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan Program ini adalah berumunculannya Guru Penggerak. Guru Penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif, dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila. Guru Penggerak diharapkan mampu menjadi pemimpin pembelajaran yang menerapkan merdeka belajar dan menggerakkan seluruh ekosistem pendidikan untuk mewujudkan pendidikan yang berpusat pada murid. Guru Penggerak juga mampu menggerakkan komunitas belajar bagi guru di sekolah dan di wilayahnya serta menumbuhkan kepemimpinan murid untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.

Untuk meningkatkan animo bagi guru untuk mengikuti Program PGP maka perlu diadakan sebuah kegiatan yang mampu mewadahi hal tersebut. Salah satu kegiatan tersebut adalah kegiatan Coaching Clinic. Dalam kegiatan coaching clinic akan diberikan sosialisasi dan pembimbingan singkat terkait dengan Program PGP, tata cara perekrutan dan pendaftaran peserta.

Model TIRTA Coaching dalam Guru Penggerak

Model TIRTA Coaching dalam konsep Guru Penggerak.

Apa itu Tirta Coaching?

TIRTA dikembangkan dari satu model coaching yang dikenal sangat luas dan telah diaplikasikan, yaitu GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Will.

Berikut ini penjelasan mengenai tahapan – tahapan GROW :

Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,

Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,

Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.

Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.

Model TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. Melalui model TIRTA, guru diharapkan dapat melakukan praktik coaching di komunitas sekolah dengan mudah.

TIRTA kepanjangan dari

T: Tujuan I: Identifikasi R: Rencana aksi TA: Tanggung jawab

Dari segi bahasa, TIRTA berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya. Anda, sebagai guru memiliki tugas untuk menjaga air itu tetap mengalir, tanpa sumbatan.

Seorang guru penggerak diharapkan mampu menyingkirkan sumbatan-sumbatan yang mungkin menghambat potensi murid Anda. Bagaimana cara seorang guru menjaga agar dapat menyingkirkan sumbatan yang ada? Jawabannya adalah keterampilan coaching.

Dalam program Guru Penggerak terdapat konsep TIRTA Coaching, berikut pembelajaran yang berkaitan dengan TIRTA Coaching dalam program Guru Penggerak.

1. Tujuan Umum

Biasanya ini ada dalam pikiran coach dan beberapa dapat ditanyakan kepada coachee. Dalam tujuan umum, beberapa hal yang dapat coach rancang (dalam pikiran coach) dan yang dapat ditanyakan kepada coachee adalah:

Apa rencana pertemuan ini?

Apa tujuannya?

Apakah tujuan dari pertemuan ini?

Apa definisi tujuan akhir yang diketahui?

Apakah ukuran keberhasilan pertemuan ini?

Seorang coach menanyakan kepada coachee tentang sebenarnya tujuan yang ingin diraih coachee. 2. Identifikasi Beberapa hal yang dapat ditanyakan dalam tahap identifikasi ini adalah:

Kesempatan apa yang kamu miliki sekarang?

Dari skala 1 hingga 10, dimana kamu sekarang dalam pencapaian tujuan kamu?

Apa kekuatan kamu dalam mencapai tujuan?

Peluang/kemungkinan apa yang bisa kamu ambil?

Apa hambatan atau gangguan yang dapat menghalangi kamu dalam meraih tujuan?

Apa solusinya?

3. Rencana Aksi

Apa rencana kamu dalam mencapai tujuan?

Adakah prioritas?

Apa strategi untuk itu?

Bagaimana jangka waktunya?

Apa ukuran keberhasilan rencana aksi kamu?

Bagaimana cara kamu mengantisipasi gangguan?

4) Tanggung Jawab

Apa komitmen kamu terhadap rencana aksi?

Siapa dan apa yang dapat membantu kamu dalam menjaga komitmen?

Bagaimana dengan tindak lanjut dari sesi coaching ini?

Penutup

Demikian penjelasan mengenai TIRTA Coaching yang di sadur dari sumbernya. Semoga dapat bermanfaat. Salam guru penggerak

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post