MUSTAMIN

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Abi dan Ummiku ( Bagian ke - 2)
Tantangan menulis gurusiana hari ke - 90

Abi dan Ummiku ( Bagian ke - 2)

Sebulan sudah aku belajar di pondok Pesantren Imam Syafi'i. Masih terngiang dalam ingatanku saat pertama kali Abi dan Ummi mengantarku ke pondok. Aku merasa kurang percaya diri dan ragu. Karena tak seorang pun santri yang kukenal. Sambil menunggu Abi mendaftar ulang ke panitia penerimaan santri baru, ummi berusaha menghibur dan mengajak keliling pondok. Puas berkeliling aku kembali ke mobil. Rasa was - was pun kembali mengusik pikiranku. Sebelum berangkat ke pondok aku sempat curhat sama Abi. Sekiranya nanti sampai di pondok kenalkan sama teman sekamarku ya Abi, pintaku. Iya...jawab Abiku pelan.

Sambil memegang pintu mobil dan mengamati santri yang lalu lalang di depanku, tiba - tiba Ahmad muncul bersama keluarganya. Ia adalah teman sekamar dan sepermainanku di Pondok Tasabah. Hatiku mulai tenang dan sangat gembira. Betul kata Ahmad, Ia memenuhi janjinya untuk mondok bersama di Pesantren Imam Syafi'i. Sepekan kami lalui bersama di pondok. Namun ada yang berubah pada diri Ahmad. Mungkin karena ia pandai bergaul akhirnya kami berdua sudah jarang bersama. Ia lebih memilih teman yang satu frekuensi. Bahasa yang digunakan adalah bahasa ibu dari orang tuanya. Ahmad mahir berbahasa bugis, sehingga lebih mudah untuk berkomunikasi dengan teman yang rata - rata dari daerah bugis. Aku harus mencari teman yang bisa diajak nyaman berkomunikasi, ujarku dalam hati. Sampai pada akhirnya kudapatlah teman yang kebetulan dari seberang pulau Kalimantan. Aku perkenalkan diri kepadanya, begitupula sebaliknya. Setelah berbincang - bincang, ternyata nyambung.

Fauzi itulah sapaan akrab ketika aku memanggilnya. Badannya agak pendek dan kecil dibandingkan dengan diriku. Tetapi ia jauh lebih mandiri dan tabah menjalani kehidupan di pondok. Jauh dari Ibu dan bapaknya membuat Fauzi harus mengurus semua kebutuhan sehari - harinya. Berbeda dengan diriku yang belum mahir mengurus semua kebutuhanku. Padahal Abi sudah sering mengajari dari rumah. tetapi aku bandel, setiap kali menyuruhku selalu kuabaikan, sehingga akibatnya seperti ini. Untunglah Abi selalu mengunjungiku walau sekali seminggu. Karena mungkin ia mengkhawatirkanku yang belum pandai mengurus diri sendiri. Tetapi aku harus belajar dari Fauzi, supaya bisa mandiri dan menjadi santri yang kuat dan sabar.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Menginspirasi pak. Luar biasa

03 Aug
Balas

Terima kasih pak tri

05 Aug



search

New Post