Neli Wardani

Guru BK di SMA N 2 Bukittinggi...

Selengkapnya
Navigasi Web
Ibu Kedua Untuk Anak (Day 52)

Ibu Kedua Untuk Anak (Day 52)

Oleh : Neli Wardani

Istilah “ibu kedua” ini disebutkan oleh ayah Edy, seorang konsultan Parenting dan penggagas gerakan Indonesian Strong For Home (membangun Indonesia yang kuat dari keluarga) dalam bukunya yang berjudul “Mengapa Anak Saya Suka Melawan Dan Sulit Diatur? 37 Kebiasaan orang tua yang menghasilkan prilaku buruk pada anak”.

Pernyataan ayah Edy ini menarik perhatian saya, dan menjadi bahan pemikiran bagi saya. Saya setuju dengan apa yang dikemukakan ayah Edy dalam bukunya, bahwa kadang-kadang kita sebagai orang tua menjadikan televisi sebagai ibu kedua bagi anak. Kenapa televisi disebut ibu kedua? Karena salah satu kebiasaan orang tua mengasuh anaknya menggunakan televisi dengan harapan anaknya menjadi anteng, terhibur dan senang, betah di rumah, tidak merajuk, tidak mengganggu orang tua, sehingga orang tua dapat melakukan pekerjaannya dengan aman. Anak dibiarkan menonton televisi dalam waktu yang lama.

Tugas pengasuhan orang tua beralih kepada televisi. Diakui, anak memang jadi tenang, betah dan terhibur dengan tayangan-tayangan di televisi. Akan tetapi ada dampak yang dapat merusak perkembangan anak, tertutama pada usia balita sampai usia SMP.

Ada beberapa dampak negatif dari membiarkan anak memiliki kebiasaan menonton televisi, apalagi dalam durasi yang lama.

Pertama, membuat perkembangan bicara anak terlambat. Hal ini terjadi karena ketika menonton televisi, anak hanya mendengar, tanpa ada berlatih bicara. Padahal pada usia balita, anak sedang mengalami perkembangan bahasa yang pesat. Jadi pada usia ini anak harusnya mendapat rangsangan dan latihan bicara yang banyak dari orang tuanya dengan mengajaknya berbicara dan bercakap-cakap.

Kedua, anak meniru prilaku buruk dari televisi. Prilaku kasar dan tidak sesuai dengan norma, seringkali muncul dalam tayangan-tayangan ditelevisi. Tontonan di televisi yang biasanya disukai anak seperti film kartun, animasi, dan film-film lain serta tayangan-tayangan lainnya. Banyak dari muatan acara tersebut, yang tanpa disadari akan ditiru oleh anak. Sebagai contoh, prilaku bullying, berkata-kata kasar kepada orang tua, mencuri, malas belajar. Prilaku tersebut diadopsi anak dari tontonannya.

Ketiga, anak mengadopsi kata-kata kasar dari televisi. Percakapan yang muncul dalam tayangan di televisi, khususnya dalam film-film yang ditonton oleh anak, kadang-kadang tidak pantas dan kasar. Seringkali orang tua terheran-heran, kok tiba-tiba anak mengucapkan kata-kata yang tidak pernah diajarkan kepadanya? Ternyata televisi telah duluan mengajarkannya kepada si anak. Sebagai contoh, anak-anak sangat menyukai film spongbob. Kata-kata yang sering diucapkan oleh spongbob adalah “dasar”, “menjijikkan”, “sial” dan lain-lain. Kata-kata yang lebih kasar lagi juga banyak ditiru anak dari beberapa film Indonesia untuk anak-anak.

Keempat, anak bosan mendengarkan nasehat orang tua dan ketika belajar di sekolah. Hal ini terjadi karena anak terbiasa melihat iklan dan tayangan di televisi yang lebih fleksibel, kreatif, imajinatif, bergerak, dan full colour. Jadi, ketika orang tua atau guru menjelaskan suatu pelajaran, anak cepat bosan mendengarkannya, karena tidak seperti tampilan ditelevisi yang disukainya.

Kelima, anak jadi kurang bergerak, sehingga berpotensi obesitas dan penyakit batu ginjal. Lemak di dalam tubuh jadi menumpuk, karena lebih banyak duduk diam dan tidur-tiduran saat menonton televisi, apalagi kalau disertai dengan cemilan. Kemungkinan sebaliknya juga bisa terjadi, anak menjadi lupa makan, sehingga berpotensi kurus dan kurang gizi. Penyakit batu ginjal bisa juga menyerang anak, karna saking asyiknya menonton, anak menahan hasrat ingin buang airnya.

Keenam, dapat membuat mata anak menjadi cepat lelah, kekeringan dan cepat rusak. Hal ini terjadi, apabila anak menonton televisi dalam durasi yang sangat lama. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, lebih banyak diisi dengan kegiatan melihat layar televisi.

Ketujuh, anak kurang istirahat. Di usia balita, anak masih membutuhkan banyak waktu untuk istirahat, terutama tidur siang sekitar 30 menit sampai 1 jam dalam sehari. Tidur siang bagus untuk anak, khususnya dalam masa pertumbuhan. Saat asyik menonton televisi, anak melupakan jadwal tidurnya.

Itulah beberapa dampak yang mungkin akan terjadi, bila kita sebagai orang tua membiarkan anak menonton televisi, apalagi dengan durasi yang lama. Disatu sisi sebagai orang tua, kita memang terbantu untuk membuat anak anteng, tapi disi lain, justru berbahaya bagi perkembangan fisik dan psikis anak kita. So, menjadikan televisi sebagai ibu kedua bagi anak bukanlah solusi yang baik. Sebagai orang tua, yang mana yang akan kita lakukan?

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

ondeh mandeh katujuh bana ambo tulisan buka nel ko...a...la smo jo redaksi kompas ko untuk tim parenting... saya suka membacanya ...karena proses pendidikan dan langsung praktek terimakasih buk anel luar biasa...

12 May
Balas

makasih pak Salim...pujian yang sama juga untuk pak Salim.

13 May

Benar itu televi dan hp sangat besar pengaruhnya pd karakyer anak anak

12 May
Balas

Benar itu televi dan hp sangat besar pengaruhnya pd karakter anak anak

12 May
Balas

Iya bu. Betul sekali bu..

12 May

Jangan sampai posisi kita gantikan televisi.. terimakasih telah mengingatkan bu anel

12 May
Balas

Iya bu Erria...jangan sampai jadi ibu kedua

12 May

Sebagai orang tua harus bijak menyikapi tayangan yg mana yg boleh atau tidak boleh di tonton anak kita. Bagus Bu tulisannya, salam literasi.

12 May
Balas

Terimakasih bu...barakallah

12 May

Syok membaca judulnya ,dikira ibu kedua apa, taunya mmg bikinn syok ,makaish buk anel

12 May
Balas

Hahaha...maaf bu Likna...

12 May

Benar bu, terkadang kita yang salah arah ke anak. Maunya anak anteng sehingga diberikan tivi atau gadget. Yuk,para ortu jangan berhenti belajar menjadi ortu yang baik. Generasi terbaik bangsa ada di tangan kita. Mksh bu anel

12 May
Balas

semnagat belajar menjadi orang tua bersama sama bu..

07 Jun

self reminder.....ambil praktis dan mudahnya, dengan alasan kita banyak kerjaan sehingga menyerahkan pengasuhan anak pada tv dan hp...terimakasih kawan...selalu mengingatkan peran dan kewajiban kita sebagai ibu

13 May
Balas

kembali kasih kawan....ana juga dalam proses belajar dan memantaskan diri. barakallah.

13 May



search

New Post