Parjiati (zainal arifin)

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Satya dan Syaka

Satya dan Syaka

Dua sahabat dari kampung ketapang letaknya di pegunungan Wilujeng, mereka setiap harinya selalu bersama dari mulai berangkat sekolah, pulang sekolah, bermain, belajar dan mengaji. Namanya Satya dan Syaka.

Syaka pendiam, cerdas pemaaf, sedang Satya periang, cerdik dan agak jahil. Tapi mereka memiliki kesamaan, sama-sama suka membaca. Bedanya Syaka suka membaca buku sejarah dan ragam hewan bawah laut, sedang Satya suka buku-buku tentang petualangan dan antariksa. Mereka sama-sama duduk di kelas 6 SD.

Suatu hari saat liburan sekolah tepatnya hari minggu. Satya ingin mengajak berpetualang ke hutan pinus. Hutan pinus itu letaknya sekitar 2 jam dari kampung mereka. Syaka sebenarnya malas, dia lebih suka dirumah saja, bermain atau membaca buku kegemaran masing-masing seperti yang mereka lakukan setiap harinya. Karena Satya memaksa akhirnya dia mau ikut juga. Berangkatlah sekitar jam 06.00 WIB, seperti nasehat orang tua berangkat pagi saja agar nanti bisa pulang sebelum sholat dhuhur tiba.

Perjalanan mereka lalui dengan riang dan santai berbekal makanan dan minuman seadanya, yang dipersiapkan oleh orang tua mereka. Satya riang sekali sambil bernyanyi. Syaka pun mengikuti dan ikut tersenyum simpul melihat kebahagiaan sahabatnya itu. Perjalanan yang seru melewati sungai kecil dan petakan sawah, melewati kampung durian runtuh juga. Melewati jalan kecil yang disamping kiri kanan perkebunan warga tertata dengan apik, berpagar bambu. Nah saat melewati jalanan itu Satya jahilin sahabatnya dengan tiba-tiba menjegal kaki Syaka. Walhasil dia terjatuh ke tanah, bukannya marah Syaka malah menulis sebuah kalimat yang bertuliskan "Sahabatku Jahil"

Satya yang melihat cuek saja, sambil bersiul melanjutkan perjalanan, Syaka tetap mengikuti dari belakang berjalan dijalanan itu.

Dan terjadi lagi ke jahilan Satya, dia tiba-tiba berhenti walhasil tubuh mereka bertabrakan, tetapi tidak sampai terjatuh.

"Sat kamu jahil banget sih." Syaka berlari mengejar Satya.

"Ayo kejar aku, weeekkk." Satya menjulurkan lidah sambil berlari.

Mereka berkejaran, sambil cekikikan, lalu mereka berjalan lagi sambil ngos-ngosan, karena perjalanan semakin dekat dengan hutan pinus yang akan di tuju. Mereka semakin bersemangat, melewati sawah, ladang dan sungai sudah dilalui,kampung juga.

"Hufff. Capek tidak Syak." ucap Satya sambil ngelap ketingat dan nafasnya ngos-ngosan.

"Lumayan capek sih, lagian kamu jahil mulu ya." balas Syaka yang terlihat lelah juga.

"Biarin, emang aku diciptain untuk jahilin kamu kek nya." ucap Satya sambil cengengesan.

"Uch dasar raja tega, nyidam apa sih dulu Bude saat hamil kamu." gerutu Syaka.

"Nyidam makan kulit durian,hahaha." balas Satya.

Dan mereka akhirnya tertawa bareng.

Perjalanan ini sudah beberapa kali mereka lakukan sejak kelas 5 SD, karena memang hutan pinusnya aman tidak ada binatang buas, hutan pinus yang di rawat oleh masyarakat sekitar, biasanya dibuat kegiatan sekolah sekitar kelurahan, belum dijadikan tempat wisata.Sampailah di hutan yang asri mereka beristirahat dan menggelar tikar lipat di area hutan pinus, mereka bermain di pinggir sungai, duduk-duduk dibebatuan, satya mandi disungai tetapi syaka hanya melihat dari atas bebatuan, sambil membaca buku, sesekali satya gangguin sahabatnya dengan memercikkan air, dan syaka pun hanya bisa mencondongkan tubuh ke kiri atau ke kanan untuk menghindari percikan air, untung yang dibawa buku waterprof jadi meski kena percikan air tidak sampai basah, sambil makan cemilan, syaka terlihat asyik sekali membaca buku, begitupun satya sesekali mendekat ke batu tempat syaka duduk untuk ikut makan cemilan lalu kembali mandi lagi.

"Sat, lihat; ada anak-anak pramuka." sambil terlihat antusias Syaka berdiri dan berjalan melewati bebatuan di sungai.

"Tunggu jangan ditinggalin, aku ikuuuuttt." teriak Satya ikut antusias.

"Ayo cepetan." Syaka sudah sampai pinggir sungai lalu jalannya dipercepat.

Ah rupanya ada rombongan dari sekolah SMP desa Kenanga yang membuat kegiatan di hutan pinus, dan syaka pun mendekat ikut melihat kegiatan dari tikarnya yang digelar tadi. Satya mengikutinya setelah memakai kaos, meski celana pendeknya masih basah dia tidak memperdulikan, mereka sangat bahagia bisa melihat kegiatan-kegiatan pramuka, dari mulai permainan seru dan ilmu pengetahuan yang di sampaikan kakak pembina. Mereka terkagum jadi semakin ingin menjadi kakak pembina pramuka, karena asyik banget bagi mereka, kegiatan pramuka pun belum usai, para siswa dan pembina bersiap mau melanjutkan kegiatan selanjutnya.

Yat

Matahari mulai meninggi, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB.

Mereka bergegas merapikan barang yang dibawa tadi lalu dimasukkan kedalam tas, mereka pulang dengan berlari karena takut terlambat sampai rumah karena tadi pagi janji mau pulang sebelum waktu sholat dhuhur.

Terkadang jalan lalu berlari lagi, saat melewati pematang sawah, tiba-tiba terdengar suara gubrak!

Syaka terjatuh masuk kedalam sumur petani, sumur yang letaknya dekat sama pematang sawah, sumur sementara yang dibuat oleh petani untuk mengairi tanaman. Satya pun bergegas menolongnya, dengan sekuat tenaga dia membantu sahabatnya agar bisa keluar dari lubang sumur itu. Dia mengeluarkan seutas tali dari dalam tasnya yang selalu dia bawa saat perjalanan ke hutan. Akhirnya Syaka bisa segera keluar dari lubang sumur petani yang cukup dalam bagi anak kelas 6 SD.

"Terima kasih Sat." Ucap Syaka, sambil menyeka baju yang basah kena lumpur dengan sapu tangan.

"Iya, jelek." Ledek Satya, sambil ikut bersihin di bagian celana.

"Ish, Dasar." Greget Syaka

Setelah lumayan bersih baju dan celana Syaka, Satya mengajak untuk melanjutkan perjalanan, tetapi Syaka malah berjalan ke batu besar di dekat sumur, Syaka lalu menulis di atas batu, sebuah kalimat ini "Satya Sang Penolong."

Usai menulis lalu Syaka mengajak melanjutkan perjalanan pulang sambil berjalan saja, kiranya masih ada waktu untuk sholat dhuhur dirumah. Dan akhirnya sudah dekat dengan kampung ketapang,

Satya dari tadi diam karena penasaran, dia tidak bisa lagi sok cuek, dia harus bertanya, agar rasa penasarannya tidak dibawa sampai rumah.

"Syak, kenapa tadi kamu menulis ditanah dan barusan menulis di batu, dengan ungkapan yang berbeda." Pertanyaan itu akhirnya terucap juga dari mulut Satya, sambil mengeryitkan dahi dan memandang serius ke sahabatnya.

Lalu Syaka menjelaskan “Aku teringat pesan Ayah. Beliau bilang "Jika orang menyakitimu, kamu harus menulis di pasir atau di tanah agar angin menghapusnya dan kamu harus memaafkannya. Namun, ketika orang melakukan hal baik padamu, maka kamu harus mengukirnya di batu atau dikayu agar tulisan itu tidak mudah terhapus dan kebaikannya selalu kita ingat ketika kita datang ke tempat itu lagi. Nah karena aku masih kecil aku tidak bisa mengukir maka aku tulis saja di batu, agar angin tidak bisa menghapusnya." Seperti itu penjelasan syaka.

"Terima kasih Syak, telah memberi pelajaran berharga hari ini, dan aku janji akan lebih jahil lagi sama kamu, weeeeekkk." Satya berlari sambil menjulurkan lidah, tidak terasa sudah sampai kampung ketapang.

"Dasar bocah sableng." Gerutu Syaka.

"Mentang-mentang sudah sampai kampung sendiri aja aku ditinggalin." Syaka sambil berjalan menuju rumah.

Alhamdulillah perjalanan yang asyik bagi mereka, dan Satya pun semakin yakin ingin bersahabat dengan Syaka, meski kadang jahil tetapi itu hanya bermaksud mencairkan suasana karena Syaka yang kadang kumat pendiam akutnya, begitupun sebaliknya. Syaka pun akan selalu menjadi sahabat Satya, akan merasa tetap nyaman meski sering di jahilin, karena saking terbiasanya.

Begitulah dalam hidup, bukan hanya kepada sahabat, kepada orang yang baru dikenalpun, kita harus selalu berusaha melupakan kesalahan dan mengingat-ingat kebaikannya saja, yang salah ditelaah di ambil pelajaran baiknya saja, lalu lupakan kesalahan tersebut, yang baik di ingat, agar bisa dipraktekan dalam menjalani hari-hari berikutnya.

By. Mayra

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post