Menoreh Kasih di Sela - Sela Keniscayaan
Perasaan Ibu Juwita nyesek banget hari ini. Ia kecewa karena siswa yang tampil kultum mengecewakan sekali. Sehingga perasaannya jadi terbawa masuk ke ruang kelas, dengan roman wajah yang suram. Takhala sampai di kelas. Siswanya jadi terheran-heran melihat Ibu Juwita yang bawaannya kurang bersemangat. Padahal kesehariannya dalam mengajar selalu membuat siswanya terpicut. Tapi hari ini tampak wajahnya memerah. Tiada senyum membias di garis bibirnya yang selalu dipoles dengan lipstik berona merah fanta.
*
Kakinya melangkah tertatih _ tatih menuju meja yang telah disediakan , tetiba Doni siswanya yang kreatif dan pintar pun bertanya.
" Bu, penampilan kultum Doni, di lapangan tadi bagaimana menurut Ibu ?" Ujar Doni dengan polos, sembari mengeluarkan buku Bahasa Indonesia dan menaruhnya ke atas meja belajar.
Ibu Juwita hanya diam. Lalu berapa detik setelah itu dengan lesu Ibu Juwita menjawab pertanyaan Doni. Suasana di kelas hening kini terfokus pada mereka berdua.
" Oh, ya bagus sekali Don, " jawab Bu Juwita kurang bersemangat terlukis adanya kecewa berat. Doni melihat merasa kecut hatinya. Tetapi hal itu tidak lama. Setelah itu, Ia bertanya lagi karena penasaran dengan sikap dan jawaban dari Bu Juwita yang kurang memuaskan. .
" Oh ya Bu. Ibu mengatakan bagus, tapi mengapa raut muka Ibu terpancar suram?" timpalnya. Ibu Juwita menatap Doni sekejab dan berusaha meredakan lara di hatinya .
*
Sementara itu teman Doni yang lain hanya diam. Mereka tak mau bicara, karena memang di kelas tidak boleh bicara. Jika tidak ada iizin dari guru. Mendengar perkataan Doni yang
menyentuh. Ekspresinya mulai terpancar normal. Lalu Ia pun melangkah ke depan . Kini posisinya sudah berhadapan dengan siswa yang lain. Ia pun menjawab pertanyaan Doni tadi.
" Doni dan yang lainnya, Ibu klarifikasi materi tentang pidato ya. Mohon perhatikan. Dalam penyusunan naskah pidato, seharusnya ada landasan teorinya. Tadi, ketika Doni berpidato. Ibu tidak mendengar hal itu. Semua yang disajikan hanya berupa opini saja, itu hanya pendapat Doni saja, tidak ada Ibu dengar fakta dan data yang bisa membujuk dan mwngajak audiens. Ingat ya siswa semuanya, pidato itu termasuk karya berupa nonfiksi, hindari mengarang indah tanpa ada konsep. Contohnya pidato Doni topiknya tentang Kebersihan Lingkungan. Sebaiknya Doni jelaskan juga pengertiannya apa, manfaat dari menjaga kebersihan serta contoh. Sebab, pidato termasuk tulisan berupa nonfiksi harus punya landasan teori," terang Ibu Juwita dengan penuh bersemangat. Doni hanya manggut-manggut. kini Doni perasaanya sudah senang karena melihat ekspresi Bu Juwita sudah mereda.
" Baiklah Bu, kalau begitu kultum minggu depan, Doni lagi yang tampil," tukas Doni dengan percaya diri. Mendengar jawabam Doni. Salah seorang temannya menyela, sambil mengacungkan telunjuknya ke atas.
" Izin Bu, Jumat depan giliran kelas lain ya Bu. bukan lagi giliran kelas kita. Ibu Juwita memalingkan tatapanya. Semua siswa tertawa, tapi hanya sekejab saja . Ibu Juwita terlihat tersenyum sumringah dengan tanya dan canda siswa. Sambil mengangkat telunjuknya.
" Oh, ya setiap kultum naskah pidato yang dibuat lihatin dulu sama Guru Bahasa Indonesianya, ya." sela Ibu Juwita.
" Baik Bu...," jawab siswa serentak.
( Salam literasi digital )
----------------------------------------
#Tag_04
#Tagur_ 194
Tantangan menulis hari Ke_ 286
Gurusianer menulis hari Ke_ 492
Selasa, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan