Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Aku Bukan yang Terbaik
Ilustrasi gambar: Dokumen Pribadi

Aku Bukan yang Terbaik

Tantangan Hari ke-1777

#TantanganGurusiana-5

(Kilas balik Kisah Sang Guru)

***

Fenomena "aneh" yang sering menimpa profesi guru sangat unik ditelisik. Bukan karena makin banyak kejadian yang menyakitkan menimpa guru, tapi kepedulian berbagai pihak terhadap guru yang rendah juga menghadirkan banyak tanya. Lembaga pemerintah yang menaungi guru saja, banyak yang memilih cuci tangan dari masalah yang dihadapi oleh guru. Kacaunya lagi, kadang dan bahkan tidak jarang, sumber kekacauannya juga bersumber dari kebijakan lembaga tersebut.

Saya pernah suatu waktu hadir dalam sebuah rapat di kantor yang menaungi sekolah. Bukan bermaksud tidak sopan atau sejenisnya. Tapi semata-mata karena sudah jengkel dengan banyaknya kejadian yang menimpa sekolah, lalu sekolah tidak mendapatkan dukungan dari mereka para petinggi tersebut.

Kekecewaan itu saya sampaikan langsung di dalam ruang pejabat di kantor, sebut saja kantor X. Bagaimana sekolah akan menjadi maju dan mandiri serta bisa berdiri kokoh dalam menjalankan aturan sekolah. Misalnya ada seorang siswa yang melakukan pelanggaran disiplin di sekolah, kadang bukan hanya pelanggaran ringan, tapi sudah melakukan pelanggaran berat, yang menurut aturan, sanksinya adalah harus di keluarkan dari sekolah.

Anehnya, karena orang tua atau keluarga siswa tersebut punya "koneksi" dengan pejabat, baik di pemerintahan bahkan juga punya kedekatan dengan aparat, pihak intstansi bukannya berdiri tegak mendukung sekolah memberikan sanksi tegas tersebut, malah berdiri bersama orang tua siswa menyerang sekolah. Kalau sudah seperti ini, sekolah harus mengadu dan meminta perlindungan kepada siapa.?

Pertanyaan demi pertanyaan yang saya sampaikan, terus terang membuat pejabat tersebut tidak bisa memberikan jawaban apapun. Karena faktanya memang seperti yang pernah dialami oleh sekolah. Jangan hanya karena demi mengamankan jabatan, lalu mengorbankan lembaga sekolah dalam mengajarkan pentingnya menegakkan aturan. Kalau lembaga diatasnya saja tidak mampu memberikan perlindungan kepada sekolah dan guru. Lalu siapa yang akan peduli dengan nasib guru.

Jika sekarang akhirnya guru bangkit, walaupun mereka akan berhadapan dengan lembaga yang menaungi sang guru, jangan harap generasi penerus bangsa ini akan menjadi lebih baik. Memang, dalam menanamkan pendidikan karakter akhlak mulia, tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah, karena peran tersebut sebesar-besarnya adalah tanggung jawab keluarga dan lingkungannya. Tapi tetap saja, sekolah dan guru yang menjadi sorotan manakala banyak siswa yang berkelakuan tidak baik. Aneh memang, tapi nyata.

Semoga momentum Hari Guru Nasional tahun 2024 menjadi tonggak memersatukan langkah guru di negeri ini. Apalagi pada hari yang istimewa tersebut, seorang rekan guru dari Konawe Selatan (KonSel) dibebaskan dari semua tuntutan hukum atas penangkapan dirinya, karena tuduhan yang tidak ia lakukan. Mari kita jadikan sebagai cerminan, bahwa kedepan tugas guru bukan makin ringan, tapi makin berat. Jika hanya mengajarkan ilmu, siswanya suruh saja belajar dari internet. Tapi terkait mendidik? Sangat bisa jadi, kita akan memilih jalan aman.

Biarkan saja mereka rusak, toh tidak ada untung dan ruginya bagi guru. Semoga bukan itu yang akan menjadi pilihan kita para guru. Tapi hadir membersamai siswa dalam mengajarkan akhlak mulia. Sampai nanti mereka merasakan, ternyata apa yang disampaikan oleh guru saya dulu di sekolah adalah untuk kebaikan dirinya sendiri. Bukan untuk kepentingan sang gurunya.

Jaya selalu semua guru di negeri tercinta ini. Walau kita hanyalah lilin kecil ditengah terangnya sinar mentari. Tapi ia tetap memberikan warna yang sangat berarti dalam gelapnya hati nurani. Itulah ending dari sebait naskah puisi Aku Bukan yang Terbaik. Puisi yang hadir dari keprihatinan sang guru terhadap dunia pendidikan di negeri ini.

Aku memang bukan yang terbaik, tapi tekat dan niat dengan tulus untuk keberhasilan anak didik adalah yang utama. Biarlah dirinya hancur lebur menjadi debu, tapi takkan ia biarkan anak didiknya gagal menjadi yang terbaik. Aku bukan yang terbaik, tapi dalam sepi dan hening malam, masih dia sempatkan mengirimkan sebait doa , agar anak didiknya memiliki akhlak mulia.

***

~~ Mendalo Mas, 271124 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post