Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Pentingnya Adab, Baru Ilmu (Bagian 4)
Ilustrasi gambar: Pngtree

Pentingnya Adab, Baru Ilmu (Bagian 4)

Tantangan Hari ke-1789

#TantanganGurusiana-5

***

Ada keseruan memang dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik. Terlepas dari berbagai pendapat yang mengiringinya. Bahwa semua orang bisa menjadi guru, karena dengan alasan bahwa mengajarkan ilmu itu mudah. Apapun profesi seseorang, ia bisa menjadi guru dan mengajar serta berbagi ilmu. Pendapat ini tidak salah, tapi tidak sepenuhnya benar.

Mengajar dan membelajarkan siswa, tentu saja memerlukan pemahaman yang khusus. Itulah mengapa, dulu perguruan tinggi kependidikan sangat ketat, manakala seorang mahasiswanya akan melaksanakan tugas Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Kependidikan. Tugasnya di sekolah bukan hanya mengajar. Sehingga beberapa mata kuliah kependidikan yang menjadi prasyaratnya wajib sudah diselesaikan dan dinyatakan lulus.

Saat menjadi guru yang sebenarnya (bukan berarti sewaktu PPL, statusnya guru main-main alias belum menjadi guru beneran), seorang guru dihadapkan kepada berbagai masalah siswa yang tidak terkait langsung dengan mengajar. Justru yang melelahkan adalah tentang bagaimana mendidik si siswa tersebut. Apalagi tidak jarang bertentangan dengan pihak keluarganya.

Pernah satu waktu ada seorang anak melanggar aturan sekolah. Begitu orang tuanya didatangkan ke sekolah, bukannya memberikan nasihat kepada anaknya, malah menyalahkan sekolah. Walaupun mereka tahu anaknya melanggar aturan, sekolah tidak boleh memberikan sanksi atas pelanggaran tersebut. Dari sini sebagai guru menjadi paham, bahwa anaknya tidak pernah diajarkan akhlak dan karakter di dalam keluarga. Tidak pernah diajarkan apa yang boleh dan tidak boleh.

Menghadapi banyak kasus adab dan rendahnya karakter siswa di sekolah bukanlah hal mudah. Kadang dan bahkan banyak sekolah yang menghindari konflik tersebut dengan cara aman. Pura-pura tidak tahu bahwa anaknya melanggar aturan. Apalagi jika orang tua siswa memiliki jabatan tinggi. Bukan solusi yang didapatkan, malah ancaman yang datang menghadang.

Mengajarkan akhlak dan adab, bukanlah pekerjaan mudah. Ada banyak keluarga yang abai dan lalai. Bagi mereka yang penting semua keinginan dan kebutuhan anaknya bisa dipenuhi, maka tanggung jawabnya sebagai orang tua sudah ditunaikan. Eh bukan begitu juga ferguso. Tanggung jawab terbesar dan paling berat itu bukan memenuhi keinginan anak, tapi mendidik anak menjadi baik adab dan akhlaknya.

(Bersambung)

***

~~ Mendalo Mas, 091224 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post