Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 47 (Di Ujung Tanduk)
www.google.com

Mahkota Palsu 47 (Di Ujung Tanduk)

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-95

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

 

“Mbak Nela masih mau mempertahankan laki-laki benalu itu?” ujar Fatma dengan mata membelalak pada Nela.

Fatma telah mengadukan semua peristiwa yang ia liihat kepada ayah-ibunya, namun mereka berdua masih menahan agar Fatma tidak perlu ikut campur dan tidak perlu menghakimi Tiyok sebelum ada bukti yang bisa dilihat Nela. Begitulah, Akung dan Uti selalu memberi harapan agar keluarga Nela tetap utuh demi anak-anak.

Sementara itu sikap Tiyok semakin tidak menyenangkan bagi Fatma yang memang telah lama menyimpan kekecewaan, bahkan kini telah berubah menjadi benci melihat kelicikan-kelicikan Tiyok yang tak pernah bisa dilihat oleh Nela yang telah tertutup rasa cinta. Entah cinta entah bodoh, semua membuat Fatma geram.

“Sabar dulu, Mas Tiyok kemarin memang bersama Mira karena dia memang rekan bisnisnya, Mas Tiyok ingin membuka counter di sini.” Seperti biasa dan telah terduga, Tiyok pasti telah memberi penjelasan panjang lebar pada Nela untuk membenarkan semua tidakannya. Dan anehnya, Nela selalu membela Tiyok begitu saja, ia selalu percaya begitu saja bualan bahkan khayalan Tiyok.

“Modal dari mana? Untuk kebutuhan sehari-hari saja dia pasrah ke mbak? Kok mau buka bisnis?” Suara Fatma semakin keras dan melengking, ia sangat emosi dengan kebodohan kakak yang sangat ia sayangi itu.

“Oalah, mbaaaaak …, sudah berapa kali Mas Tiyok ngegombalin mbak? Sudah berapa banyak tetangga yang laporan tentang tingkah lakunya yang sok kaya itu? Malu Mbak!” cerocos Fatma geram ingin kakaknya sedikit saja berpikir.  

“Mana Alan?” tiba-tiba Fatma ingat akan keponakan kecilnya yang masih berusia dua tahun itu.

“Main dengan Yanti,” jawab Nela ringan dengan tetap fokus pada kain yang sedang ia potongi untuk dijahit menjadi baju.

“Harusnya bukan Yanti yang nemanin Alan, harusnya Mas Tiyok daripada dia keluyuran gak jelas!” seru Fatma sambil bergegas mencari Alan yang ternyata sedang bermain tanah bersama Yanti, Rico juga Dani di halaman rumah tetangga. Alan yang sudah bisa berjalan itu dibiarkan duduk bermain tanah, begitu juga dengan Dani dan Rico. Sementara Yanti juga asing bermain pasaran.

 Keempat anak itu tampak tak terurus dengan baju-baju kumal yang kotor karna bermain tanah. Rambut Yanti yang panjang terurai agak gimbal, hari itu Fatma memang belum sempat menyisir rambut Yanti karena dia sibuk memandikan Alan sementara Ibu memasak dan Ayah bertugas membersihkan rumah. Semua telah melakukan tugas masing-masing kecuali Tiyok yang biasa  masih mendengkur ketika orang seisi rumah sibuk.

 Fatma sangat geram dengan prilaku Tiyok, demikian pula dengan Ayah dan ibunya, namun tetap tak bisa berbuat apa-apa selama Tiyok berhasil meyakinkan Nela.

Rumah tangga macam apa yang sedang dipertahankan Nela? Demi anak-anak? tidak mungkin, sebab anak-anak tak pernah mendapat perhatian Tiyok. Bahkan anak-anak lebih bahagia tanpa Tiyok.

Fatma tak habis pikir terhadap Nela yang menikahi laki-laki semacam Tiyok. Apakah Nela memang berubah menjadi wanita sholehah yang patuh pada suami? Apakah Nela terlalu mencintai Tiyok? Ataukah Nela memang terlalu bodoh hingga tak mampu berpikir logis?

Bersambung …

Balung, 2 Nopember 2020

 

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post