Adik Iparku (Part 4) T-290
#tantangangurusiana
Diam-diam aku perhatikan Sandi dari tempatku duduk. Wajahnya lumayan ganteng. Mirip dengan almarhum suamiku. “Apa ya yang membuat dia tak mau menikah ?” batinku.
“Mbak Airin, ayok gabung main sama kami!” Sandi berkata sambil melambaikan tangannya padaku.
Aku sebenarnya agak sungkan, tapi karena Haifa menarik bajuku dengan separoh hati aku gabung sama mereka.
Anak-anak aku ihat sangat bahagia sekali. Semenjak almarhum papanya meninggal tak pernah aku lihat mereka sebahagia ini.
Sandi menyuruh kedua ponakannya berhenti main setelah jam di dinding menujukan pukul sembilan. Haifa nampak protes. Tapi aku membujuk putri kecilku. Haifa akhirnya setuju untuk segera tidur.
Aku membawa kedua buah hatiku ke kamar. Aku menidurkan mereka dengan shalawat seperti yang dulu sering Mas Ilham lakukan kepada anak-anaknya. Memandangi mereka berdua membuatku semangat hidup. Aku sekarang hidup buat anak-anakku.
*****
Tinggal di rumah mertua membuatku tahu diri. Walaupun di sini ada Bik Asih, ART keluarga ini aku tidak mau berpangku tangan.
Pagi-pagi setelah salat shubuh aku membantu Bibik menyiapkan sarapan buat seluruh keluarga. Ketiga adik Mas Ilham sudah bekerja. Deddy adalah adik iparku yang paling tua, dia bekerja sebagai manager di sebuah hotel. Sikapnya agak pendiam.
Sandi beda satu tahun dengan Deddy, Sandi adalah seorang guru olah raga di sebuah sekolah terkenal. Disamping guru olah raga Sandi juga pelatih taekwondo. Beda dengan abangnya, Sandi lebih ceria dan cepat akrab dengan siapa saja.
Yang paling kecil namanya Yudhi. Yudhi paling dekat dengan Mas Ilham. Sewaktu suamiku masih hidup dia paling sering bermain ke rumah kami. Dia sangat menyayangi ketiga ponakannya. Yudhi bekerja sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan.
Selesai membantu Bik Asih dan menata sarapan di meja, aku membangunkan anak-anakku. Hafiz dan Haifa aku biasakan salat subuh. Kemudian mereka mandi dan aku pasangankan pakaian. Kedua balita itu ikut sarapan pagi bersama nenek dan paman-pamanya.
“Masakan Kakak Ipar betul-betul lezat,” Sandi mulai mengomentari sarapan pagi ini.
“Bukan kakak yang masak, Sandi. Tapi Bik Asih.” Aku mencoba mengelak.
“Nggak ah, aku hapal masakan Bik Asih.” Sandi menjawab sambil terkekeh.
“Kakak, aku siang ini dibuatkan bekal ya Kak. Biar hemat. Kan tak payah makan di kantin. Uangnya bisa ditabung nanti buat modal menikah.” Yudhi yang bungsu berkata sambil terkekeh.
“Tak sabar amat kamu, Yud. Tuh yang tua belum. Tak boleh melangkahi.” Sandi berkata sambil matanya menoleh ke arah Deddy.
“Kapan nunggu Bang Deddy, cewek aja tak punya.” Yudhi menjawab tak kalah sengit.
Suara sendok dihentakan ke piring membuat percakapan dua adik kakak itu terhenti. Semua mata menoleh ke arah Deddy. Deddy memandang tak senang kepada kedua adiknya. Tiba-tiba dia menyudahi makan. Dia berpamitan kepada mama, papa dan aku. Sebelum pergi dia mengusap kepala kedua anakku.
“Kalian berdua itu jangan buat abang kalian kesal.” Mama mertuaku menasahati kedua putranya.
“Bang Deddy aja yang baperan. Gitu aja marah.” Yudhi berkata sambil monyongkan bibirnya.
“Lagian Mama, tak pernah menyuruh dia menikah. Kan kita berdua jadi terhambat. Atau mama membolehkan kami melangkahi si “gunung es” itu ?” Yudhi kembali ngerocos.
“Sudah... sudah. Kalian pergi kerja sana nanti terlambat.” Papa yang dari tadi diam menengahi diskusi kecil di pagi itu.
*****
Rumah terasa sepi setelah ketiga adik iparku pergi. Hafiz berada di kamar papa mertua. Papa membacakan buku cerita buat cucunya. Almarhum papa mertuaku adalah pensiuanan kepala sekolah. dari tiga anaknya hanya Sandy yang mengikutu beliau jadi guru.
Aku, Haifa dan mama mertua berada di taman belakang. Mama mertua punya hobbi merawat tanaman. Halaman belakang yang luas dipenuhi berbagai macam tananam. Haifa nampak senang melihat tanaman neneknya.
“Airin, apa kamu tidak punya rencana untuk mencari pengganti putraku ?” Mama bertanya tiba-tiba.
Jantungku berdetak kuat. Apa maksud mama ? Kenapa mama menanyakan itu ? Aku mau bertanya, tapi lidahku terasa kelu.
bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan