PETUAH LELAKI HEBAT
LOMBA MENULIS BUKU
AYAH PEJUANG KELUARGA
Oleh. Thanil.Abu
#Tagur siana ke - 39
Dalam lika-liku kehidupan yang mewarnai setiap manusia, menjadi sebuah inspirasi untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Dari sebuah jendela kehidupan seorang ayah yang menjadi kebanggaan dalam keluarga terutama bagi istri dan anak-anaknya. Ayah adalah bagian yang sangat terpenting bagi keluarga, yang menempatkan posisi utama dan pertama. Laksana pondasi yang memperkokoh berdirinya suatu bangunan. Fenomena seorang ayah yang menjadi tuntunan dan tontonan, bagiku terasa berat untuk mengulik dan menuliskan bagaimana Ayahku menghidupi seorang istri dan enam orang anak, untuk bertahan hidup. Aku termasuk anak yang paling bontot dari enam bersaudara. Hanya dengan mengandalkan perahu tuanya dan sebuah dayung yang sudah termakan usia. Berbeda dengan saat sekarang, dimana para nelayan sudah menggunakan mesin dan alat tangkap yang modern. Hal itu tak pernah dirasakan oleh Ayahku, disaat ia berjuang menghidupi keluarga. Ayahku seorang pelaut ulung dengan ilmu yang diwariskan oleh orang tuanya.
Setiap petang ibu sudah menyiapkan bekal dan perlengkapan Ayah untuk melaut. Kami aak-anaknya, diberikan tugas masing- masing untuk mengantarkan perlengkapan Ayah, sampai kebibir pantai. Karena mengingat usia ayah sudah mulai senja. Waktu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Ayah bercerita, bahwa usia ayah sudah enam puluh tiga tahun. Usia yang sudah tak muda lagi untuk bekerja keras, apa lagi sebagai seorang nelayan. Demi sesuap nasi ayah rela melakukannya. Ayah tak sepiawai orang -orang zaman sekarang, dalam hal menagkap ikan. Namun dengan bakat dan kemampuan yang sudah berpuluh tahun, ayah bisa menafkahi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.
Disaat ayah pergi melaut kami tak mengetahui, bagaimana keadaan ayah ditengah lautan luas. Pernah sekali kejadian yang tak pernah ayah lupakan. disaat ayah berada dalam laut lepas sedang menambatkan perahunya kerakit, tiba-tiba, datanglah badai, angin kencang, serta hujan deras dan ombak besar. menghantam perahu ayah hingga terbalik dan tenggelam dikesunyian malam. Betapa menderitanya seorang ayah yang telah tua terombang ambing dalam lautan. Alhamdulillah, dengan ketrampilan otodidak yang dimiliki ayah, dan atas pertolongan dari Allah SWT, ayah bisa selamat sampai kedarat, hanya mengandalkan sebuah papan puntung untuk berenang. Walaupun berkali-kali mendapatkan musibah ayah tak pernah menyerah pada nasib yang menimpanya. Dalam benaknya, jika ia tidak melaut lagi siapa yang menafkahi keluarganya. Sedang untuk beralih profesi menjadi seorang petani, ayah tak mempunyai lahan untuk digarap.
Disamping keseharian ayah mencari nafkah sebagai nelayan, ayah juga diberikan Allah talenta sebagai seorang guru ngaji. Sepulang dari melaut pada pagi hari, pada siang harinya ayah mengajar aku dan anak-anak tetangga untuk mengaji. Kadang ayah diberikan upah seadanya dari jasa sebagai guru ngaji. Sehingga dapat menambah penghasilan dari melaut. Ayah tak pernah mengeluh apa yang ia kerjakan . Masih terngiang di telingaku waktu ayah nenasehati kami. " Ayah tak mempunyai harta, untuk diwariskan kepada kalian, tapi ayah memiliki kasih yang tak ada Tara demi kasih sayang dan cinta ayah." saling menyanyangilah dan saling membantu antar saudara. Betapa berartinya kalimat yang diucapka ayah kepada kami. Itulah petuah yang ayah sampaikan sebelum ia dipanggil sang pencipta.
Belum sempat aku menamatkan Sekolah Dasar, waktu itu aku masih duduk di bangku kelas V. Ayah mulai sakit- sakitan. Ekonomi keluarga semakin terpuruk. Ketiga kakak saya putus sekolah, karena terhambat oleh biaya. Mereka melanjutkan profesi ayah sebagai nelayan. Aktifitas ayah saban hari hanya mengajar anak-anak mengaji. Mata ayahpun mulai rabun, atas kebaikan seorang guru, ayah diberikan kaca mata baca.
Ayahku tak bosan memberikan petuah kepada kami. Pernah ayahku meneteskan air mata, karena aku belum bisa membaca Alqur'an besar, kulihat raut wajahnya yang keriput penuh dengan rasa kecewa. Ayah tak memarahiku, tapi ayah memberikan kata-kata yang sangat membekas dalam hidupku. " Bila ayah tak ada lagi, kepada siapa engkau belajar mengaji" itulah ucapan ayah kepadaku . Aku hanya menatap wajah ayah yang penuh dengan rasa kesedihan diusiaku yang masih polos. Atas jasa dari Ayah dan ketiga kakakku cita-citaku sebagai seorang pendidik tercapai.
Ayah, kutahu aku bukan lahir dari rahimmu, tapi disetiap jantungku mengalir darahmu. Ayah kutahu bukan engkau yang menyusuiku, tapi...disetiap nafasku mengalir peluhmu. Ayah setiap sujudku, aku berdoa untukmu. Semoga ayah tenang disisinya, dilapangkan kuburnya. Syurga tempatmu Ayah .
~~~~~
#parigimoutong#
# thanilabu#
#10022021#
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan