Ilma Wiryanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Sahara (15) Berita dari Kampung
Sahara sumber smart.pustaka.blogspot.com.com

Sahara (15) Berita dari Kampung

Kebahagian benar-benar meyeliputi kehidupan Sahara dan Ihsan. Rasanya dunia milik mereka berdua. Tidak ada lagi kekhawatiran. Sahara sangat mencintai Ihsan. Dunianya hanya berkutat pada Ihsan seorang. Semua menjadi tidak berarti selain kekasih hatinya. Bahkan cita-cita yang telah dikrarkannya dalam hatinya sedari kecil pun rela dia lepaskan demi mengikuti Ihsan ke negeri orang.

Harapan mahligai rumahtangga yang mereka impikan terasa makin dekat. Semakin memacu semangat mereka untuk segera pulang ke tanah air dan menyatukan cinta mereka dalam bingkai rumah tangga yang sakinah, mawadah warahmah. Sampai akhirnya semua impian itu hancur, saat mamak (Paman Ihsan) meminta pengorbanannya atas nama adat dan balas budi.

Mata Sahara berkunang-kunang ketika Ihsan menunjukkan percakapannya melalui pesan singkat dengan pamannya. Pamannya meminta Ihsan untuk menikahi anak gadisnya yang telah berbadan dua. Kepala Sahara terasa pening dan dadanya terasa sesak menahan rasa sakit.

[Ihsan, sekarang saatnya kamu harus menunjukkan baktimu kepada keluarga besar kita. Aku memintamu untuk menjaga nama baik keluarga. Apalagi kita sangat berhutang budi kepada Mamakmu. Dialah yang telah membiaya hidup kita sejak ayahmu meninggal dunia. Membiayai pendidikanmu dari kecil hingga kamu sekolah di pondok pesantren. Ibu sangat berharap kamu dapat membalas hutang budi ini dengan meyelamatkan muka Mamakmu!].

Pesat Ibu Ihsan melalui chat yang diperlihatkannya kepada Sahara, membuat Sahara makin merasa tidak akan tempat untuk dirinya masuk ke dalam keluarga Ihsan. Hatinya benar-benar hancur. Kekuatan yang menyokong hidupnya roboh berkeping-keping. Tubuhnya luruh ke lantai setelah meyadari semua yang dikejarnya kini tak ada celah lagi untuk mendapatkannya. Tujuan yang menjadi pemacu semangatnya kini hilang, pelita hidupnya pun terasa padam.

Hanya tangis yang menemani malam-malamnya setelah menyadari takdir yang begitu kejam merenggut satu-satunya tujuan hidupnya. Ihsan pun tidak punya pilihan lain selain menjalankan tanggung jawabnya terhadap keluarga besarnya.

Kini hanya air matanya yang berbicara ketika kata-katanya tak mampu lagi untuk mengungkapkan rasa sakit hatinya. Betapa dia merasakan kekecewaan yang sangat dalam, karena cintanya kepada Ihsan juga sangat mendalam.

“Akhirnya, kamu pulang menunaikan tanggungjawabmu, menyelamatkan nama baik keluargamu. Aku tak menyangka, dirimu yang biasanya realistis dan kritis, kini tunduk dengan keputusan adat dan ninik mamakmu. Meski kau tetap berjanji akan kembali untuk mewujudkan impian kita. Aku tahu, tidak ada harapan untuk kita bersama lagi.” Tangis Sahara sepeninggal Ihsan. Matanya menatap kosong sepeninggal kepergian Ihsan pulang ke tanah air.

Bagaimanakah kehidupan Sahara selanjutnya setelah ditinggak Ihsan. Dapatkan dia menyelesaikan pendidikannya ditengah hatinya yang sedang berdarah-darah?

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post