Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 10 Saat Langit Membuka Diri (T.422a)

Bab 10 Saat Langit Membuka Diri (T.422a)

Hari itu, kampung diramaikan kabar bahwa Ustaz Salman akan mengadakan pengajian besar di masjid untuk memperingati Maulid Nabi. Warga bersiap sejak pagi, memasak, menghias halaman masjid, dan menata kursi-kursi bambu. Afkar juga ikut sibuk, menjadi panitia yang mengatur sound system dan membantu para pemuda lainnya.

Namun di balik keramaian itu, hati Afkar masih saja diliputi tanda tanya. Sudah hampir setahun sejak kunjungan pertamanya ke rumah Ustaz Salman bersama ayahnya. Hubungan mereka berjalan dalam sunyi, penuh kehati-hatian, dan tetap belum ada kepastian. Ia tak tahu sampai kapan harus menunggu, tapi ia yakin selama sabar menyertai cinta, maka harapan masih bisa dijaga.

Malamnya, pengajian dimulai. Suara sholawat bergema, dan aroma dupa bercampur harumnya bunga melati mengisi ruangan. Ustaz Salman berdiri di depan, menyampaikan ceramah dengan suara yang tenang namun dalam. Tentang cinta Rasulullah, tentang perjuangan, dan tentang keikhlasan.

Di antara kata-katanya, tiba-tiba Ustaz Salman menyebut nama Afkar.

"Saya ingin bercerita tentang seorang pemuda di kampung ini," ucapnya sambil menatap hadirin.

"Pemuda yang sejak kecil hidup sederhana, namun hatinya besar. Ia mencintai bukan hanya dengan perasaan, tapi juga dengan kesabaran dan kesungguhan. Ia datang kepada saya, bukan untuk memaksa, tapi untuk mengenal, untuk menghormati."

Suasana hening. Semua mata kini tertuju pada Afkar yang duduk di barisan tengah. Jantungnya seperti berhenti berdetak.

"Dan malam ini," lanjut Ustaz Salman, "saya ingin mengatakan di depan kalian semua, bahwa saya sebagai ayah telah membuka pintu itu sepenuhnya. Saya merestui jika Allah mengizinkan, dan keluarga pun telah bermusyawarah serta bersepakat."

Desir angin malam membawa bisik-bisik kecil di antara para jamaah. Tapi di telinga Afkar, hanya ada gema satu kalimat: Saya merestui.

Afkar menunduk. Matanya berkaca-kaca. Tak terasa, setetes air mata jatuh ke sajadah yang ia duduki. Doa-doa yang ia simpan selama ini, surat yang tak pernah sampai, usaha yang tak pernah ia pamerkan semuanya seperti dikabulkan sekaligus malam itu.

Setelah pengajian selesai, Ustaz Salman menghampiri Afkar yang masih terpaku.

"Kau masih punya surat itu?" tanya beliau sambil tersenyum.

Afkar mengangguk pelan. Ia mengambil kertas lusuh dari saku dalam bajunya, surat yang ditulis hampir setahun lalu.

"Berikan padanya. Malam ini," ujar Ustaz Salman, lalu melangkah pergi.

Tak lama kemudian, Aisyah datang bersama ibunya. Wajahnya tersipu, matanya bergetar namun bersinar. Afkar menunduk, menyerahkan surat itu dengan kedua tangan, penuh gemetar dan tak berani menatap.

Aisyah menerimanya, lalu mengangguk. Senyumnya tak lebar, tapi lebih dari cukup untuk menjawab ribuan pertanyaan yang selama ini menggantung di udara.

Seminggu kemudian, rumah Afkar diramaikan tamu. Ayahnya menyembelih kambing, dan ibunya menyiapkan nasi berkat. Warga kampung datang membawa doa dan harapan. Di tengah sore yang cerah itu, lamaran resmi dilakukan.

Tak ada pesta besar, tak ada sorak meriah. Tapi ada satu hal yang akhirnya hadir: ketenangan. Sebuah awal dari kisah baru yang tak lagi bersembunyi dalam bayang atau harap yang samar.

Langit hari itu membiru, tanpa awan, seolah ikut menyaksikan dua hati yang telah lama diam kini bersatu dalam keikhlasan.

Dan di bawah langit yang kini mengizinkan, Afkar menggenggam masa depannya bukan sebagai pemuda yang mencintai diam-diam, tapi sebagai lelaki yang akhirnya didengar, dimengerti, dan diterima. Bukan karena harta, bukan karena nama, tapi karena hatinya tetap lurus menyulam cinta, meski harus berjalan dalam hujan dan kerikil tajam.

=====================================================

Garahan, 21 April 2025 / Senin, 22 Syawal 1446 H, 21.12 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post