Bab 8 Ujian dari Arah Tak Terduga (T.421a)
Waktu terus bergulir. Musim berganti, dan kabar mulai menyebar ke luar kampung. Nama Afkar kini tak lagi asing disebut dalam obrolan ibu-ibu di warung, atau para bapak selepas salat subuh. Ada yang memuji keberanian dan ketulusannya, tapi tak sedikit pula yang sinis, menilai cintanya pada Aisyah sebagai mimpi yang tak tahu diri.
Namun, bukan itu yang membuat Afkar gentar. Ia sudah terbiasa dengan tatapan miring dan cibiran yang hanya lewat di telinga. Yang benar-benar mengguncangnya datang suatu malam, ketika Pak Salman memanggilnya ke masjid, lebih larut dari biasanya.
“Afkar, aku ingin bicara sebagai seorang ayah, bukan ustaz,” ucap Pak Salman setelah mereka menyelesaikan salat isya berjamaah.
Afkar mengangguk, duduk bersila di atas sajadah dengan hati yang mulai gelisah.
“Ada seorang lelaki, sepupu jauh dari pihak ibunya Aisyah. Ia tinggal di kota, anak seorang pengusaha ternama. Minggu depan dia dan keluarganya akan datang bersilaturahmi ke sini.”
Afkar diam. Tak satu pun kata mampu keluar dari mulutnya. Tapi sorot matanya jelas bergetar.
“Saya tidak bisa menolak begitu saja. Keluarga besar istri saya yang meminta. Mereka ingin melihat Aisyah menikah dengan seseorang yang… pantas, dalam pandangan mereka.”
Kalimat itu seperti pisau. Afkar tahu, bukan maksud Pak Salman untuk menyakiti, tapi kenyataan memang sering kali lebih tajam dari luka.
“Saya belum memberikan jawaban apa-apa. Dan Aisyah pun belum bertemu dengan orang itu. Tapi saya tidak bisa memungkiri, ada tekanan dari pihak keluarga.”
Afkar menunduk, mengepalkan tangannya di atas lutut.
“Saya beri tahu ini padamu bukan untuk membuatmu menyerah, tapi agar kau tahu medan yang sedang kita hadapi. Saya tidak ingin kau terus berharap dalam diam, tanpa tahu bahwa badai bisa datang sewaktu-waktu.”
Afkar menatap ke arah mimbar, kosong. Hatinya sesak, tapi ia mencoba mengatur napas.
“Apakah… saya masih punya kesempatan?” tanyanya lirih.
Pak Salman menatapnya dalam-dalam:
“Itu tergantung pada takdirmu… dan hatimu. Kalau kau merasa lelah, tak apa untuk mundur. Tapi kalau kau yakin, bertahanlah. Bukan padaku, tapi pada Tuhanmu.”
Malam itu, Afkar berjalan pulang dengan langkah lunglai. Langit gelap, angin dingin menusuk hingga tulang. Tapi di benaknya hanya satu: Aisyah.
Sesampainya di rumah, ia tak langsung masuk. Ia duduk di atas dipan bambu, menatap lampu minyak yang berkelap-kelip tertiup angin. Ayahnya keluar, duduk di sampingnya.
“Ada apa, Nak?”
Afkar menjawab lirih,
“Ayah, kalau orang yang kita cintai diminta menikah dengan orang lain… apa kita harus merelakannya begitu saja?”
Sang ayah terdiam sesaat:
“Cinta itu bukan soal memiliki, Afkar. Tapi soal bagaimana kita mendoakan yang terbaik, bahkan jika itu berarti kehilangan. Tapi… kalau kau yakin cintamu bukan sekadar angan, maka berjuanglah. Tak ada malu dalam memperjuangkan yang baik.”
Afkar menarik napas panjang. Dalam hati ia berkata:
“Ya Allah, aku tak tahu masa depanku. Tapi aku tahu rasa ini tulus. Jika memang dia bukan untukku, beri aku kekuatan untuk melepaskannya. Tapi jika dia ditakdirkan untukku… bantu aku menjaga harapan ini tetap hidup.”
================================================
Garahan, 20 April 2025 / Ahad, 21 Syawal 1446 H, 20.35 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
