Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 9 Antara Ridha dan Restu (T.422)

Bab 9 Antara Ridha dan Restu (T.422)

Hari-hari berlalu dengan tenang, meski hati Afkar justru semakin gaduh. Seperti gelas yang hampir penuh, ia merasa detik-detik kecil yang tampak sepele justru membawa gelombang besar dalam dadanya. Ada harapan yang tumbuh, tapi juga ketakutan yang perlahan menyusup.

Suatu malam, usai salat Isya, ayah Afkar mengajaknya berbicara di ruang tengah. Ibu mereka sudah tidur lebih dulu. Di antara cahaya lampu minyak yang remang, ayah menatap wajah anaknya lekat-lekat.

"Afkar," katanya pelan, "Kau tahu, Ayah sangat bangga padamu. Tapi Ayah ingin tanya... apakah cinta itu cukup?"

Pertanyaan itu menggantung di udara. Afkar terdiam. Ia mencoba menjawab, tapi lidahnya kelu.

Ayah melanjutkan:

"Cinta itu penting. Tapi dalam hidup, kau akan diuji bukan cuma oleh perasaan. Kau akan diuji oleh waktu, oleh keadaan, oleh kenyataan yang tak selalu memihak. Dan untuk itu, kau butuh lebih dari cinta. Kau butuh ridha dari orangtua, dari guru, dari Tuhan."

Afkar akhirnya membuka suara, lirih:

"Aku tidak akan memaksa, Yah. Tapi aku ingin berjuang. Bukan demi cinta semata, tapi karena aku ingin menjadi lelaki yang pantas untuk Aisyah. Bukan sekarang... tapi kelak, saat waktunya tiba."

Ayah mengangguk pela:

 "Kalau begitu, perjuangkan dengan tenang. Jangan terburu-buru. Dan yang paling penting... jangan menyakiti siapa pun di sepanjang jalanmu."

Keesokan paginya, Afkar pergi ke masjid lebih awal. Ia membawa sapu lidi dan ember berisi air wangi. Hari itu, ia membersihkan seluruh halaman masjid sendirian, menata kembali rak-rak kitab, dan bahkan memperbaiki kipas tua yang sudah lama rusak.

Ustaz Salman yang datang belakangan hanya mengangguk pelan melihat usaha itu. Tak ada kata pujian, tapi pandangannya cukup memberi sinyal bahwa ia mengerti maksud Afkar.

Saat Aisyah datang menyapu serambi, Afkar sudah bersiap pulang. Mereka berpapasan sejenak di depan gerbang masjid. Tatapan mereka hanya sesaat, tapi cukup untuk menyampaikan banyak hal tentang kesungguhan, tentang kesabaran, tentang harapan yang terus dijaga rapi dalam diam.

Sore harinya, kabar menyebar bahwa Aisyah akan dikirim ke luar kota oleh yayasan tempat ia mengabdi. Ada pelatihan guru selama sebulan penuh di kota besar. Beberapa tetangga menyambut berita itu dengan senang, sebagian lagi menggunjing dengan kata-kata tajam.

"Bagus, biar dia tahu dunia luar," kata salah satu ibu di warung.

"Siapa tahu nanti lupa sama anak penjual tempe itu."

Ucapan itu sampai juga ke telinga Afkar. Ia hanya tersenyum kecil. Tak ada amarah. Justru ada keyakinan yang makin menguat. Kalau cinta ini mampu bertahan di tengah hujan omongan orang, maka mungkin ia cukup kuat untuk menghadapi badai yang lebih besar.

Malam harinya, ia kembali menulis. Tapi kali ini bukan untuk dirinya. Ia menulis surat untuk Aisyah, surat yang akan ia titipkan pada Ustaz Salman sebelum keberangkatan.

Isi surat itu sederhana:

"Aisyah, semoga perjalananmu membawa ilmu dan kebaikan. Aku tidak meminta kau menunggu, tidak pula memaksa untuk diingat. Tapi jika kelak kau berdiri di persimpangan dan melihat ada jalan yang kau kenali dari jauh... aku ada di sana. Masih berjalan perlahan, membawa doa yang sama, dan harap yang sama. Jika Tuhan mengizinkan."

Surat itu dilipat rapi, dimasukkan dalam amplop, dan diserahkan ke tangan Ustaz Salman dengan penuh hormat.

"Ini hanya titipan doa, Ustaz," kata Afkar:

"Kalau berkenan, sampaikan padanya."

Ustaz Salman menerima dengan anggukan tenang:

"InsyaAllah."

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Afkar tak lagi melihat langit sebagai batas. Ia melihatnya sebagai pintu. Pintu yang entah kapan akan terbuka, tapi pasti disediakan bagi mereka yang tak lelah mengetuk.

================================================

Garahan, 21 April 2025 / Senin, 22 Syawal 1446 H, 07.05 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post