Denting Musik di Tengah Ujian (T.427a)
Hari itu, langit tampak cerah. Burung-burung berkicau seperti biasa di pepohonan halaman sekolah. Suasana pagi tampak biasa saja kecuali di ruang-ruang kelas yang sunyi. Hari itu adalah hari pertama Ujian Nasional.
Pak Raka, guru seni tari di sekolah itu, sedang semangat menyiapkan siswa-siswinya untuk pentas budaya minggu depan. Aula yang biasanya sepi, pagi itu mulai dipenuhi suara musik tradisional dan langkah-langkah kaki yang kompak menghentak lantai. Pak Raka berdiri di depan, mengatur gerak tari dengan penuh antusiasme. Ia ingin timnya tampil sempurna, mewakili sekolah dengan membanggakan.
Namun, yang tak disadarinya musik yang mengalun dan semangat para penari justru menjadi gangguan serius bagi siswa-siswa yang sedang berkutat dengan soal-soal ujian nasional. Suara kendang dan gamelan bergema hingga ke ruang-ruang ujian. Beberapa siswa mulai gelisah, bahkan ada yang menutup telinga dengan kedua tangan karena tak bisa berkonsentrasi.
Petugas pengawas mendatangi aula dan meminta latihan dihentikan.
"Pak Raka, mohon dimaklumi. Ujian sedang berlangsung. Ini sangat mengganggu," ucapnya tegas namun sopan.
Pak Raka tersentak. Matanya membelalak. Baru saat itulah ia benar-benar sadar akan kekeliruannya. Ia lupa bahwa hari ini adalah ujian yang menentukan masa depan para siswa. Ia terdiam, lantas mematikan musik, dan meminta anak-anak berhenti latihan.
Setelah latihan bubar, Pak Raka berjalan perlahan menuju ruang guru. Langkahnya berat. Di benaknya, terbayang wajah-wajah siswa yang kesulitan mengerjakan ujian karena ulahnya. Ia duduk sendiri di sudut ruangan, menatap kosong.
"Aku terlalu bersemangat... terlalu egois," gumamnya lirih.
Hari berikutnya, Pak Raka meminta izin berbicara di apel pagi. Dengan suara rendah dan penuh penyesalan, ia berkata,
“Saya minta maaf, anak-anak. Guru kalian ini khilaf. Dalam semangat saya melestarikan budaya, saya melupakan ketenangan yang kalian butuhkan saat ujian. Semoga ini jadi pelajaran bagi kita semua, bahwa dalam setiap niat baik, waktu dan tempat harus tetap dijaga.”
Sejak hari itu, Pak Raka tak pernah lagi memaksakan jadwal latihan seni di jam-jam penting. Ia belajar untuk menyeimbangkan semangat berkarya dengan kepentingan yang lebih besar. Dan dari satu kesalahan itu, tumbuhlah kebijaksanaan yang mendalam di hatinya.
=========================================================
Garahan, 26 April 2025 / Sabtu, 27 Syawal 1446 H, 09.07 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
