Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Lala dan Romi (T.425a)

Lala dan Romi (T.425a)

Bab 4, Si Tupai Ceroboh dan Kebaikan yang Menginspirasi

Hari itu angin bertiup sejuk, menggoyangkan ranting dan dedaunan. Di antara pohon-pohon tinggi, terdengar suara riuh dari atas cabang besar. Tuti si tupai sedang asyik melompat-lompat dari satu dahan ke dahan lain sambil membawa kacang pinus.

“Hore! Aku menemukan banyak kacang!” seru Tuti riang.

Namun karena terlalu bersemangat, kakinya terpeleset di cabang yang licin. “Aaaahhh!” jerit Tuti sambil jatuh ke semak belukar di bawah. Kacang-kacangnya berhamburan ke mana-mana.

Untungnya, semak itu cukup empuk, sehingga Tuti tidak terluka parah. Tapi ia mengeluh sambil mengusap kakinya,

“Aduh, sepertinya terkilir... Bagaimana aku bisa mengumpulkan semua kacang itu lagi?”

Tak lama kemudian, Lala si lebah yang sedang melintasi area itu mendengar suara rintihan. Ia segera terbang turun dan melihat Tuti yang kesakitan.

“Wah, kamu jatuh ya? Tunggu di sini, aku akan bantu!” kata Lala.

Dengan sigap, Lala memanggil dua ekor semut untuk membantu mengumpulkan kacang-kacang kecil yang berserakan. Ia juga terbang ke bunga-bunga terdekat untuk mengambil nektar yang bisa membantu meredakan nyeri Tuti.

“Minumlah ini, nektar dari bunga bunga lavender. Harum dan bisa membuatmu merasa lebih baik,” kata Lala sambil menyodorkan tetesan nektar di atas kelopak daun.

Tuti tersenyum, meski kakinya masih terasa sakit.

“Terima kasih, Lala. Kamu selalu tahu bagaimana membantu. Aku sungguh beruntung punya teman seperti kamu.”

Sementara itu, dari balik semak yang lain, Romi si rubah kembali mengintip. Ia tidak sengaja melihat kejadian itu saat berburu burung kecil. Tapi kali ini, dia tidak menertawakan Tuti. Ia justru memperhatikan dengan tenang, lalu berpikir:

“Lagi-lagi si lebah kecil itu membantu makhluk lain... dan mereka terlihat bahagia...”

Romi mulai merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Ia punya kekuatan, kecepatan, dan gigi tajam. Tapi tidak punya satu pun teman yang tersenyum padanya seperti semut dan tupai kepada Lala.

Malam itu, Romi duduk termenung di guanya. Ia tak bisa tidur. Matanya menatap bintang, pikirannya penuh pertanyaan.

“Apa arti kekuatan tanpa cinta? Apa gunanya hebat, kalau hidup sendirian?”

Di saat itu pula, di sarangnya yang kecil, Lala tidur dengan senyum di wajahnya. Ia lelah, tapi bahagia, karena telah membuat perbedaan kecil di hutan hari itu.

=========================================================

Garahan, 24 Maret 2025 / Kamis, 25 Syawal 1446 H, 16.34 H

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post