Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mimpi tak tersentuh di Sekolah Tinggi Akuntansi Negeri (T.432a)

Mimpi tak tersentuh di Sekolah Tinggi Akuntansi Negeri (T.432a)

Tito, seorang pemuda yang berprestasi dan penuh semangat, baru saja lulus dari Madrasah Aliyah Negeri di Kota J dengan predikat siswa berprestasi dan teladan. Ia mengambil jurusan IPS dan menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mata pelajaran Akuntansi dan Bahasa Inggris. Nilai ijazahnya jauh di atas rata-rata, membuat guru-gurunya sangat bangga.

Beberapa hari setelah kelulusan, Ibu Michelia, guru akuntansinya, mendekati Tito dengan tawaran yang luar biasa.

"Tito, kamu memiliki potensi besar di bidang akuntansi. Saya ingin mengajakmu untuk mendaftar ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negeri (STAN) di Bintaro, Tangerang Selatan," katanya dengan senyum hangat.

"Semua biaya kuliah dan kebutuhan hidupmu selama di kampus akan saya tanggung."

Tito merasa seperti sedang bermimpi. STAN adalah salah satu kampus favorit di Indonesia, dan bekerja di Kementerian Keuangan adalah impian banyak orang. Ia berangan-angan menjadi orang sukses dan ditempatkan di berbagai daerah di Indonesia.

Namun, ketika Tito hendak menyampaikan keinginannya kepada kedua orang tuanya, khususnya ibunya, ia merasa sedikit takut. Ibunya dikenal sangat menyayangi anak-anaknya, dan Tito khawatir ibunya tidak akan merestui keputusannya untuk kuliah jauh di Jakarta.

Dengan hati berdebar, Tito memberanikan diri untuk berbicara dengan ibunya.

"Ibu, saya ingin kuliah di STAN di Jakarta. Ibu Michelia sudah menawarkan untuk menanggung semua biaya kuliah dan kebutuhan hidup saya," katanya dengan penuh harap.

Namun, ibunya tidak langsung setuju.

"Tito, kamu masih anak bungsu, dan ibu khawatir jika kamu jauh dari kami. Bagaimana jika kamu tidak bisa menjaga diri sendiri?" Ibunya bertanya dengan nada khawatir.

Tito merasa sedih. Ia memahami kekhawatiran ibunya, tetapi ia juga tahu bahwa ini adalah kesempatan besar baginya untuk masa depan. Dengan menundukkan kepala, Tito keluar dari rumah, menatap bintang-bintang di langit malam:

"Mengapa ibu tidak merestui aku untuk kuliah di STAN yang bisa membawa kesuksesan dan kebanggaan bagi keluarga?" ia bertanya pada dirinya sendiri, sambil berharap ada jawaban yang muncul dari bintang-bintang yang bertaburan di langit.

Tito tahu bahwa ini bukan akhir dari perjuangannya. Ia akan terus berusaha untuk membuat ibunya memahami keputusannya dan merestui langkahnya menuju kesuksesan. Dengan tekad yang kuat, Tito siap menghadapi tantangan apa pun yang akan datang. Mungkin impian kuliah di STAN akan terkubur dalam-dalam dan menjadi sebuah cerita bagi anak cucunya. Tito tetap berdoa semoga anak-anaknya mampu kuliah di STAN.

=================================================================

Garahan, 01 Mei 2025 /Kamis, 02 Dzulqo'dah 1446 H, 12.18 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post