Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Selendang merah sang Nenek (T.446)

Selendang merah sang Nenek (T.446)

Bab 5 – Surat dari Masa Lalu

Pagi hari setelah pertunjukan, Zahira bangun dengan tubuh masih terasa lelah. Namun hatinya ringan, seperti ada angin lembut yang menenangkan jiwa. Ia membuka jendela kamarnya dan membiarkan sinar matahari pagi menyapa wajahnya. Di luar, burung-burung bernyanyi, seolah ikut merayakan keberhasilannya malam tadi.

“Zahiraaa!” suara nenek Fransiska memanggil dari dapur.

“Ya, Nek?” sahut Zahira sambil melangkah keluar kamar.

Saat tiba di dapur, nenek Fransiska telah menyajikan sepiring nasi uduk dan telur dadar kesukaan Zahira.

“Selamat pagi, penari hebat,” ujar nenek Fransiska sambil tersenyum.

Zahira tertawa kecil.

“Ah, nenek Fransiska. Aku hanya berusaha menari seperti yang nenek Fransiska ajarkan.”

Nenek Fransiska lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu tua dari lemari dapur. Warnanya mulai pudar, dan kuncinya sudah berkarat.

“Ini milik nenek Fransiska dari muda,” katanya sambil meletakkannya di meja.

“Hari ini saat yang tepat untuk kamu membukanya.”

Zahira menatap kotak itu dengan penasaran. Ia membuka pelan-pelan. Di dalamnya, terdapat tumpukan foto-foto hitam putih, pita rambut, serta selembar surat yang telah menguning dimakan waktu.

“Surat ini nenek Fransiska simpan sejak dulu,” ujar nenek Fransiska lirih.

“Dari seseorang yang pernah memberi arti dalam hidup nenek Fransiska.”

Zahira membaca perlahan. Surat itu ditulis tangan, dengan huruf latin yang rapi dan penuh perasaan.

“Untuk Fransiska penari yang membuat malam menjadi hangat. Meski langkahku jauh, cintaku tertinggal di setiap putaran selendangmu. Suatu saat, jika takdir mempertemukan lagi, biarlah dunia tahu, bahwa aku pernah mencintai penari terbaik dari tanah ini.”

– Ardi -

Zahira menoleh ke arah nenek Fransiska. Matanya penuh tanya.

“Siapa Ardi, Nek?”

Nenek Fransiska tersenyum, tapi ada sedikit genangan air di pelupuk matanya.

“Dia teman seperjuangan nenek Fransiska saat muda. Kami sama-sama mencintai seni. Tapi saat negara memanggil, dia pergi menjadi tentara dan tak pernah kembali.”

Zahira menggenggam tangan nenek Fransiska.

“Kenapa nenek Fransiska tidak pernah cerita?”

“Karena kadang, beberapa kisah cukup disimpan di dalam hati, Zahira. Tapi kini, aku ingin kamu tahu bahwa setiap tarian bukan hanya soal gerak dan musik. Ada cerita di baliknya. Ada hati yang pernah bergetar karenanya.”

Hari itu, Zahira menghabiskan waktu berdua dengan nenek Fransiska, membuka lembaran-lembaran foto lama. Ada nenek Fransiska muda dalam balutan kebaya, menari di panggung kecil, dengan senyuman yang sangat mirip Zahira. Mereka tertawa, mengenang masa lalu, dan Zahira mulai merasakan bahwa menari bukan hanya warisan, tapi juga jalan mengenal jati diri.

Sore harinya, Bu Cicik datang membawa kabar gembira.

“Zahira! Kamu mendapat juara dua di Festival Tari Daerah!” katanya penuh semangat.

Zahira tercengang.

“Serius, Bu?”

“Ya! Dan juri memberi komentar khusus tentang bagian saat kamu tetap menari meski musik berhenti. Katanya, itu menunjukkan penguasaan jiwa yang luar biasa.”

Nenek Fransiska mengusap kepala Zahira.

“Kamu telah membawa namamu sendiri ke panggung. Tapi kamu juga telah menghidupkan kembali cerita lama yang nyaris dilupakan.”

Tapi belum selesai kebahagiaan itu, Bu Cicik melanjutkan,

“Karena itu, Zahira diundang mewakili kecamatan dalam Festival Tingkat Kabupaten bulan depan.”

Zahira terdiam sejenak. Ini lebih besar. Penonton lebih banyak. Dan tekanan pasti lebih tinggi.

Melihat raut wajah cucunya berubah tegang, nenek Fransiska berkata lembut,

“Setiap panggung adalah dunia baru, Zahira. Jangan takut. Karena kamu tidak akan tampil sendirian. Kamu akan membawa kisah kita bersamamu.”

Malam harinya, Zahira duduk di kamar, menatap selendang merah yang tergantung di dinding. Ia sadar, panggung berikutnya bukan sekadar ajang tari, tapi kesempatan membawa cerita nenek Fransiska ke lebih banyak orang. Ia ingin mereka tahu bahwa di balik setiap putaran selendang, ada cinta, ada kehilangan, ada semangat yang tidak pernah padam.

Dan Zahira siap menari lagi.

=================================================================

Garahan, 15 Mei 2025 / Kamis, 17 Dzulqo'dah 1446 H, 07.25 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post