KISAH MISTIS DIBALIK IKON GUNUNG RAJABASA
Oleh : Riswo
Gunung Rajabasa adalah salah satu Ikon bagi Kabupaten Lampung Selatan yang melambangkan kekayaan alam bagi Kabupaten Lampung Selatan. Gunung berapi yang terletak di bagian selatan pulau Sumatera ini memiliki ketinggian sekitar 1.280 meter di atas permukaan laut. Gunung ini dikenal karena bentuknya yang menyerupai kerucut sempurna, serta memiliki keindahan alam yang sangat luar biasa.
Gunung Rajabasa juga memiliki nilai sejarah dan mitos yang kaya dalam budaya lokal di Lampung Selatan. Dimana gunung rajabasa memiliki cerita yang dikaitkan dengan berbagai Legenda dan mitos yang masih hidup dalam masyarakat setempat. Salah satu cerita yang sangat populer adalah cerita tentang keberadaan seorang raja bernama Raja Basah, yang dipercaya pernah memerintah di wilayah tersebut. Menurut legenda tersebut, Raja Basah adalah seorang penguasa yang adil dan bijaksana. Namun setelah kematiannya, rohnya dipercaya menghuni gunung tersebut menjadikannya tempat yang sakral dan dihormati.
Mitos gunung rajabasa lainnya adalah tempat bersemayamnya para dewa dan roh leluhur masyarakat Lampung. Oleh karena itu Gunung rajabasa sering dijadikan tempat untuk melakukan ritual-ritual keagamaan dan upacara adat beberapa penduduk setempat. Gunung rajabasa juga dipercaya memiliki kekuatan magis yang dapat memberikan berkah atau musibah, tergantung pada Bagaimana masyarakat memperlakukannya.
Gunung rajabasa memiliki hutan yang lebat dan kaya dengan flora dan faunanya. Menjadikannya tempat yang menarik bagi para pecinta alam dan para pendaki. Dari puncak gunung rajabasa, pendaki dapat menikmati keindahan panorama teluk Lampung dan samudra hindia yang memukau. Gunung rajabasa yang dikelilingi oleh beberapa sumber air panas dan air terjun, menambah daya tarik tersendiri. Aktivitas vulkanik secara geologisyang gunung rajabasa adalah gunung berapi yang masih aktif, meskipun tidak menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir namun statusnya sebagai gunung berapi aktif.
Para ilmuwan dan pihak berwenang terus memantau aktivitasnya untuk mencegah dan mengantisipasi potensi letusan di masa depan. Secara keseluruhan gunung rajabasa merupakan salah satu simbol penting dari provinsi lampung, baik dari segi sejarah budaya maupun keindahan alamnya. Gunung rajabasa tidak hanya menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat setempat tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan di berbagai daerah untuk datang dan menikmati pesonanya.
Cerita mistis lainnya bahwa merupakan gunung kramat yang telah menjadi saksi bisu peradaban kuno pada saat terjadinya peperangan berdarah dan perjanjian spiritual antara alam. Gunung rajabasa merupakan sebuah nama yang terdengar seperti panggilan kerajaan dan memang begitu adanya. gunung ini bukan sekadar bentukan alam biasa di dalam tubuhnya tersimpan legenda makhluk penjaga pusaka kerajaan yang tersembunyi dan kabar mistis tentang dunia yang tak kasat mata.
Jejak kerajaan tua di kaki gunung rajabasa konon di masa lalu di sekitar kaki gunung rajabasa berdiri keratuan darah putih, cikal bakal dari kesultanan lampung. Wilayah ini dihuni oleh para penyebar agama, bangsawan hingga penjaga spiritual yang memiliki hubungan langsung dengan kekuatan alam. Gunung rajabasa dijadikan tempat bertapa tempat bermusyawarah dengan leluhur bahkan tempat pengasingan bagi yang melanggar sumpah.
Masyarakat setempat percaya bahwa gunung rajabasa bukan sekadar tanah tinggi melainkan tempat suci yang dijaga oleh makhluk halus. Disanalah para pemimpin adat dahulu melakukan ritual komunikasi dengan para luhur, membuka gerbang ke dimensi lain demi menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan roh makhluk penjaga sanagatu atau harimau hitam.
Salah satu kisah paling menyeramkan dan paling sering dibisikan dari generasi ke generasi adalah tentang makhluk penjaga gunung rajabasa dalam satu versi ia adalah naga ratu ular raksasa dengan mata emas yang tinggal di dasar kawah gunung. Dalam versi lainnya ia menjelma sebagai harimau hitam raksasa penjaga gerbang gaib yang hanya muncul saat darah ditumpahkan secara tak sah.
Saat itu ada beberapa pendakian nekat naik gunung rajabasa tanpa izin adat, mengaku mendengar suara auman dan melihat tapak besar yang membekas di tanah basah dan hawa dingin yang menusuk hingga tulang. Penduduk setempat pernah bercerita bahwa ia melihat bayangan besar melintas di antara kabut saat mendaki. Bukan manusia bukan hewan biasa, matanya merah dan tanah bergetar saat dia lewat.
Di gunung rajabasa ada penjaga gaib dan larangan leluhur dalam masyarakat adat lampung. Gunung rajabasa dikenal memiliki aturan tertentu yang tidak boleh dilalui sembarangan. Ada jalur-jalur tertentu yang disebut jalan para leluhur hanya bisa dilewati oleh mereka yang sudah menjalani ritual pencucian atau memiliki darah keturunan keratuan.
Salah satu puncak gunung rajabasa terdapat sebuah batu datar yang disebut batu Pandita, tempat biasa para ketua dan pemangku adat melakukan semedi. Menurut cerita turun temurun, mereka yang melanggar larangan adat akan didatangi dalam mimpi oleh sosok tua berjubah putih membawa pesan, atau dalam kasus terburuk kutukan pada tahun 1987 seorang arkeolog asal Jakarta menghilang di wilayah puncak gunung ini saat mencoba menggali struktur batu yang diyakini peninggalan Megalitikum. Ia tidak pernah ditemukan dan tim pencari hanya menemukan alat-alatnya yang berserakan, serta bekas lingkaran tanah hangus seperti bekas api meski tidak ada tanda-tanda kebakaran.
Ketika Belanda dan kemudian Jepang datang menjajah tanah Lampung, gunung rajabasa menjadi tempat persembunyian, pusat perlawanan dan markas para pejuang rakyat. Tapi tak banyak yang tahu bahwa para pejuang tidak berjuang sendiri. Banyak cerita yang menyebut bahwa para pendekar dari tanah adat dibantu oleh pasukan tak kasat mata hasil dari ritual pemanggilan roh leluhur Gunung Rajabasa. Bahkan satu laporan tak resmi dari pasukan Belanda menyebutkan hilangnya puluhan tentara di lereng gunung tanpa jejak.
Mereka dikabarkan mendengar bunyi lonceng dan teriakan dalam bahasa yang tidak dimengerti sebelum semuanya menghilang dalam kabut tebal. Dokumen ini disebut-sebut disimpan di Belanda dengan kode insiden Kalianda 1934.
Rajabasa hari ini antara wisata dan wilayah Suci kini Rajabasa menjadi tempat wisata tempat hiking tempat belajar geologi bagi masyarakat Lampung asli. Rajabasa tetaplah tanah sakral bukan sekadar gunung. Para ketua adat masih menjaga ritual tahunan untuk menyapa penjaga gunung dan menjaga keseimbangan spiritual.
Beberapa Warga bahkan masih menyalakan dupa saat melintas area-area tertentu atau menaburkan bunga dan berdoa kepada arwah leluhur agar perjalanan mereka selamat. Mereka percaya selama manusia menjaga etika terhadap alam dan leluhur maka penjaga gunung akan tetap melindungi wilayah Lampung dari segala bencana. Namun jika dilanggar sejarah menunjukkan bahwa kemarahan Gunung ini bisa memunculkan bencana baik yang tampak maupun yang tak terlihat.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
