Muhammad Sultan, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

JEJAK CINTA PERTAMA YANG TERTINGGAL

JEJAK CINTA PERTAMA YANG TERTINGGAL 

 

Langit Makassar siang itu cerah. Awan putih bergumul di langit biru, sementara angin bertiup pelan, menyapu dedaunan di sekitar kampus Universitas Hasanuddin. Aku berjalan menyusuri koridor Fakultas MIPA, membawa setumpuk buku dan catatan kuliah. Aku baru saja keluar dari laboratorium setelah praktikum panjang yang menguras tenaga.

 

Namun, di balik semua kesibukan itu, ada satu hal yang selalu menghantui pikiranku—Sry.

 

Aku masih ingat betul hari terakhir kami bertemu sebelum hidup membawa kami ke jalan masing-masing. Saat itu, di halaman sekolah, dia berdiri di bawah pohon flamboyan dengan wajah yang sulit kutafsirkan.

 

“Aku harus ikut orang tuaku pindah, Arga,” katanya pelan.

 

Aku terdiam. Kata-kata itu seperti petir yang menyambar di siang bolong.

 

“Ke mana?” tanyaku, berusaha menyembunyikan kegelisahan.

 

“Belum pasti, mungkin ke luar pulau. Aku juga tidak tahu kapan bisa kembali.”

 

Aku ingin berkata sesuatu, ingin menahannya, tapi bibirku kelu. Waktu itu, aku masih terlalu muda untuk memahami bahwa hidup sering kali membawa kita pada perpisahan yang tak bisa dihindari.

 

Sejak hari itu, aku kehilangan jejaknya. Kami tidak memiliki handphone, dan alamat rumahnya pun aku tak tahu pasti setelah pindah. Aku mencoba mengirim surat ke alamat lama, tapi tak pernah ada balasan. Aku hanya bisa menatap langit setiap malam, bertanya-tanya, apakah dia juga merindukanku seperti aku merindukannya.

 

----------

 

Tahun-tahun berlalu. Aku sibuk dengan kuliahku, menyelami dunia kimia yang begitu kompleks. Setiap hari di kampus Unhas memberikan pengalaman baru, tetapi ada satu bagian dari diriku yang terasa kosong. Di antara tumpukan buku dan praktikum laboratorium, sesekali pikiranku melayang pada kenangan bersama Sry.

 

Di sore-sore tertentu, aku berjalan ke sekitar danau Unhas, tempat favorit mahasiswa untuk duduk dan menikmati senja. Kadang-kadang aku duduk di sana, menatap riak air yang berkilauan diterpa cahaya matahari, membayangkan bagaimana hidup Sry sekarang.

 

Aku bertanya-tanya, apakah dia bahagia? Apakah dia masih mengingatku?

 

Tetapi hidup terus berjalan. Setelah lulus, aku bekerja, membangun karier, dan akhirnya menikah. Aku mencintai istriku, dan kami menjalani kehidupan yang cukup bahagia. Namun, jauh di lubuk hati, ada ruang kecil yang tetap dihuni oleh kenangan tentang Sry—bukan karena aku masih mencintainya, tetapi karena dia adalah bagian dari diriku yang tak pernah bisa dihapus.

 

-------------

Satu dekade setelah perpisahan itu, aku mendapat undangan untuk menghadiri seminar di sebuah hotel di Makassar. Aku tak menyangka, di sanalah takdir kembali mempertemukan kami.

 

Aku sedang berdiri di depan meja registrasi ketika mendengar suara yang begitu familiar memanggil namaku.

 

“Arga…?”

 

Aku menoleh, dan di sana, berdiri seorang wanita dengan senyum yang dahulu begitu kukenal.

 

Dia masih sama, hanya lebih dewasa. Matanya masih memiliki sorot lembut yang dulu membuatku jatuh hati.

 

“Sri?” suaraku nyaris bergetar.

 

Kami duduk di kafe hotel, berbincang panjang setelah bertahun-tahun terpisah. Dia menceritakan bagaimana hidupnya setelah pindah, bagaimana dia mencoba mencari kabarku, tapi tak tahu harus ke mana. Dia juga telah menikah dan memiliki anak, seperti diriku.

 

“Terkadang aku bertanya-tanya, bagaimana jika dulu kita tetap bersama?” katanya pelan, sambil menatap cangkir kopinya yang hampir habis.

 

Aku tersenyum, menatap langit Makassar yang mulai berwarna jingga. “Mungkin kita memang ditakdirkan untuk bertemu, tapi tidak untuk bersama.”

 

Sri mengangguk, tersenyum kecil. Ada kelegaan dalam tatapannya, seolah pertemuan ini adalah jawaban dari segala pertanyaan yang menggantung di hatinya selama ini.

 

Kami akhirnya berpisah lagi, kali ini bukan karena keadaan, tetapi karena pilihan. Aku berjalan menjauh, tetapi untuk pertama kalinya sejak perpisahan kami di masa lalu, aku merasa tenang.

 

Cinta pertama memang tidak selalu menjadi cinta terakhir. Namun, ia akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tak tergantikan.

 

 

---

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post