Kesempatan Memperbaiki Nilai
Besok, sekolah kembali ramai. Liburan jelang dan pasca Idul Fitri resmi ditutup. Aku pun kembali mengenakan rompi kesabaran dan senyum seorang guru yang meski sering dilema antara idealisme dan kenyataan tetap setia pada misi utamanya 'mendampingi anak-anak belajar.'
Malam ini aku bersiap. Menyiapkan beberapa soal untuk penilaian remedial. Ya, ini tradisi turun-temurun di kelas kami: setiap kali nilai tidak sesuai harapan, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki.
Di hatiku, tentu aku ingin sekali melihat nilai anak-anak maksimal, bahkan syukur-syukur menyentuh angka 100. Tapi entahlah, kadang angkanya lebih cocok buat suhu air mendidih daripada untuk raport. Padahal kisi-kisi dan contoh soal sudah aku bagikan jauh-jauh hari.
Setelah aku evaluasi, rupanya banyak yang masih kesulitan di dasar-dasar hitungan matematika. Lama menghitung. Ada yang mikir lama, ada juga yang tatapannya kayak lagi nyari sinyal di gurun. Maka kali ini, aku izinkan mereka membawa kalkulator. Asal kalkulator asli, ya. Bukan yang bisa buka aplikasi, selfie, atau malah balas chatGPT.
Dan remedial kali ini... istimewa. Sebab nilainya sungguh mengguncang. Mereka sendiri yang mengaku, "Bu, nilai TFB kami anjlok."
Mungkin TFB cocok diganti dengan istilah Tugas Formatif Besar. Dengan harapan, belajar menjadi sebuah Tugas dengan semangat Besar. Kalau nilainya "anjlok" lagi, cocoknya bukan masuk nilai raport, tapi dikirim ekspres ke dasar laut. Hehe.
Beberapa anak kirim WA penuh drama:
"Bu, bolehkah kami remedial? "
“Bu, saya tuh ngerti sebenarnya, tapi waktu itu otak nge-freeze.”
“Bu, saya sedih banget liat nilai TFB. Mungkin karena kurang fokus, Bu…”
Sambil baca pesan-pesan itu, ada rasa sedih juga. Aku ingin mereka fokus belajar, bukan cuma fokus pada nilai setelah melihat hasil. Tapi mungkin kebiasaan SKS alias Sistem Kebut Sejam masih jadi andalan mereka.
Tapi aku percaya, setiap anak punya peluang untuk berubah. Maka aku beri mereka kesempatan: 3 soal esai, 30 menit waktu. Kalkulator diperbolehkan. Tapi no gadget, no Google. Hanya otak, kalkulator, dan niat yang baik.
Sambil menyusun soal malam ini, aku berharap semoga liburan kemarin tak hanya diisi rebahan sambil scrolling TikTok. Tapi belajar mempersiapkan diri untuk memperbaiki nilai. Minimal mencari tahu cara menyelesaikan soal-soal hitungan. Termasuk soal TFB kemarin.
Karena buatku, bukan nilai sempurna yang utama. Tapi kemauan untuk memperbaiki. Belajar dari kesalahan. Mencoba lagi. Bangkit, meski jatuh berkali-kali. Karena sekolah bukan cuma tempat mengejar angka, tapi tempat kita tumbuh bersama. Belajar menjadi pribadi yang tangguh.
Semangat, anak-anak baik. Mudah-mudahan pintu sukses sedang terbuka untuk kalian masuki, pelan-pelan tapi pasti. Aamiin.
Malaka 3, Selasa, 9 Syawal 1446 H (8 April 2025)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
