Nurbaiti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Pilih Wakasek

Kursi-kursi merah dijejer berbaris ke samping dan ke belakang, mirip barisan penonton konser dangdut kelurahan—rapi, antusias, dan siap goyang, eh, siap mencoblos.

Siang terasa begitu... sendu. Matahari malas beranjak dari kepala, angin seolah-olah ikut berdebar bersama para calon wakil yang duduk di depan, pura-pura sibuk buka WhatsApp padahal layar HP masih di menu utama. Hehe...

Ada yang berkeringat dingin meskipun AC ruang serba guna sudah bekerja keras seperti karyawan kontrak akhir bulan. Ada yang komat-kamit, entah berdoa atau sekadar mengingatkan diri sendiri supaya tetap senyum apa pun hasilnya.

Satu per satu nama dipanggil untuk mencoblos. Langkah mereka berat, mirip prajurit yang jalan ke medan perang. Perang batin, tentu saja.

Senyum-senyum kode makin merebak. Ada yang kedip-kedip, ada yang angkat jempol ke arah teman sekubu, ada juga yang pasang wajah seolah-olah habis nonton sinetron sedih biar kelihatan netral.

Sampai akhirnya... KPU membuka kotak suara. Kertas demi kertas dibuka. Nama-nama mulai dihitung.

"Bu Yulia..., Pak Syukur..." Teriak Pak Hujo dengan semangat, memperlihatkan kartu coblosan ke Pak Abia sebagai saksi.

"Sah! " Balas Pak Abia.

Tepuk tangan bergemuruh. Entah karena pilihan hatinya dapat, atau mengusir ngantuk yang tiba-tiba merayap.

Kartu itu diserahkan ke bu Risma sebagai saksi juga dan disobek sedikit sebagai pertanda kalau kartu itu sudah dihitung.

"Bu Lina... Pak Yofi..." "Sah" "Bu Nila... Pak Riandi.." "Sah!"

"Pak Sandi aja"

"Tidak sah!" Tegas pak Abia

Tepuk tangan kembali terdengar walaupun coblosan dianggap tidak sah. Mungkin yang mencoblos kecewa, calon yang ingin dipilih namanya sudah tidak tercantum. Kecewa sih boleh saja, tapi tetap milih yang ada namanya di sana dong. Hargai pilihan hatimu ketika mengundurkan diri. Itu baru namanya teman sejati dan teman sehati.

Suasana semakin menegangkan. Ada yang mulai menggenggam tangan sendiri. Ada juga yang sibuk mengunyah permen karet padahal dilarang keras oleh panitia.

Detik-detik terakhir, suara terbanyak sudah kelihatan. Tapi drama belum selesai.

Tiba-tiba, dari pojok ruangan terdengar suara pelan, "Kalau sama banyak, gimana Pak?"

Semua mata melotot ke arah sumber suara. Kepala sekolah cuma senyum tipis, kayak hakim di acara debat.

"Kalau sama banyak... ya kita suit aja," jawab sesorang, enteng.

Seisi ruangan pecah tawa. Panas, deg-degan, ketegangan—semua larut dalam satu kata: suit. Ada yang pro ada juga yang kontra, tapi semua tak ada yang bersuara. Perhitungan terus berlanjut.

Tadi sudah dijelaskan, jika peringkat satu ada dua orang, maka keduanya sah sebagai wakil terpilih. Tapi jika lebih dari dua orang, maka kita akan memilih kembali untuk mereka itu" Mendengar itu, Pak Deno, sebagai KPW buka suara dan menjelaskan kembali agar tidak ada hati yang ragu.

"Aman" Terdengar sebuah suara, suara ketika yakin suara untuknya tidak mungkin bertambah lagi, ketika Pak Hujo memperlihatkan isi kotak yang hanya tinggal dua kartu. Wajahnya kembali ceria, tidak secemas tadi ketika namanya sempat bersaing dengan peringkat satu. Maklum usianya masih sangat muda. Masih jauh dari dari angka kriteria.

Untung saja akhirnya tidak perlu suit, karena selisih suara terpaut tipis-tipis, kayak saldo rekening akhir bulan. Peringkat satu dan peringkat dua hanya beda satu suara. Mantap.

Dua orang calon terpilih langsung disambut tepuk tangan meriah oleh para pemilih. Yang tidak terpilih? Ada yang lega, ada yang syukur, ada juga yang diam sambil bilang dalam hati, "Alhamdulillah, masih bebas tugas!".

Kelihatannya tidak ada yang kecewa, mereka sangat paham betapa tugas dan tanggung jawab sebagai wakil itu sangat berat. Bagai berada dalam sebuah lingkaran yang sulit keluar. Apalagi kalau ada kebijakan yang bertentangan dengan hati nuraninya.

"Bapak Ibu semuanya, terima kasih banyak atas dukungan dan kerjasama bapak Ibu, sehingga pemilihan wakil kepala sekolah sudah selesai kita laksanakan dengan tertib" Kata kepala sekolah.

"Dengan mengucapkan Alhamdulillah, pemilihan dua orang wakil kepala sekolah oleh bapak ibu semua dan satu orang wakil yang saya pilih melalui hak prerogatif kepala sekolah, maka dengan ini saya nyatakan Pak Syukur, Bu Yulia dan Pak Nu'man sebagai wakil kepala sekolah SMA Angkasa Raya. Dan setelah selesai acara ini, bapak ibu wakil ke ruang saya" Tambahnya lagi.

Melihat kiri kanan, tidak ada palu untuk mengetuk mungkin masih dipinjam oleh tukang, maka kepala sekolah mengetuk moncong microphone. Tok... Tok... Tok...

Suara lega tepuk tanganpun kembali bergemuruh di ruang serba guna itu.

Bu Yulia, duduk tenang, matanya berkaca-kaca, ada keharuan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Hati lembutnya tidak bisa menahan mutiara bening yang semakin jatuh bagai gerimis di wajahnya. Para pendukungnya menyalaminya satu persatu. Memberi ucapan selamat. Kepadanya para pendukung berharap agar sekolah tercinta tambah berubah lagi kearah yang lebih baik.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post