Di langit yang abadi
Seekor burung baru saja tiba di rumahnya
Setelah beberapa saat ia memintasi buana
Kembali ia mengerami telur-telurnya
Yang kelak akan mewarisi nasabnya
_
Sebagaimana aku mengerami butir-butir puisi
Di tempat paling nyaman dalam bilik hati
Puisiku adalah telur-telur burung itu
Mungkin bakal menetas menjadi burung-burung perkasa
_
Yang kelak akan terbang, melintasi luasnya cakrawala
Mungkin juga mati, akibat luka yang mendera
Jika sebutir telur burung menetas di hatimu
Maka, ia merupakan jelmaan dari puisimu
_
Benar, mungkin suatu hari nanti
Burung itu tak pernah kembali ke sarang
Sebab ia tak bisa lagi bertelur , ia hanya bisa terbang
Hingga ia berjumpa dengan langit yang abadi
**
# Tagur hari ke-156 #
Gambar diambil dari :
**(censored)**;safe=strict&client=ms-android-advandigital&ei=O6uVYNGUNZDbrQG__K7AAw&oq=foto+burung+di+sarang
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
