Riuh Yang Hilang
Kutelusuri jalan setapak yang dulu riuh
Kini tak lagi kudapati keriuhan itu, seperti ia telah menjauh
Aku hanya menemukan kerikil-kerikil batu yang membisu
Seakan enggan bicara, sebab menyimpan kisah pilu
_
Kususuri jalan setapak yang dulu riuh
Oleh senandung burung-burung
Karena mendapati ulat yang terlena
Tetapi, kini tiada kudengar lagi kicauan itu, seakan tiada lagi ulat didapati
_
Kulalui jalan setapak yang dulu riuh
Oleh bunga-bunga yang mekar merekah
Namun, kini tak lagi kulihat keindahan yang melenakan mata
Seolah, pohon-pohon itu tak pernah mau lagi melahirkan putik-putik bunga
_
Kutetap melangkah menuju persinggahan hati
Tak perlu risau oleh keriuhan yang sudah pergi
Karena angin senantiasa mengabari
Perihal yang tak pernah kuketahui
***
# Tagur hari ke-210 #
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
