CHRISTINA ESTHI SETYANINGSIH

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK  MELALUI KEGIATAN KOLASE PADA KELOMPOK B TK BHAKT

PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK MELALUI KEGIATAN KOLASE PADA KELOMPOK B TK BHAKT

PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK

MELALUI KEGIATAN KOLASE

PADA KELOMPOK B

TK BHAKTI MULIA

KECAMATAN KRAMAT KABUPATEN TEGAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

( PTK )

Disusun Oleh :

CHRISTINA ESTHI SETYANINGSIH, SE,S.Pd

TAHUN 2022

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan ini disusun dan diajukan untuk memenuhi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Guru kelas.

Disusun oleh:

Nama : Christina Esthi Setyaningsih, SE,S.Pd

NUPTK : 9559754655230083

Tempat Penelitian : TK Bhakti Mulia Mejasem Barat Kec. Kramat Kab. Tegal

Judul Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Kolase Pada Anak Kelompok B TK Bhakti Mulia Mejasem Barat Kec. Kramat

Kelompok : B

Waktu Pelaksanaan : 1. Siklus 1: 20 Oktober 2022

2. Siklus II : 11 November 2022

Tegal, 15 November 2022

Mengesahkan

Kepala Sekolah TK Bhakti Mulia Peneliti

Dewi Kusumaningsih, S.Pd Christina Esthi Setyaningsih, SE.S.Pd

PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK

MELAUI KEGIATAN KOLASE KELOMPOK B

TK BHAKTI MULIA MEJASEM BARAT

KABUPATEN TEGAL TAHUN AJARAN 2022/2023

Oleh :

Christina Esthi Setyaningsih

[email protected]

ABSTRAK

Christina Esthi Setyaningsih (2022) Penerapan Media yang Bervariasi dalam Peningkatan Kemampuan Kolase Anak TK Bhakti Mulia Kelompok B Mejasem Barat Kramat Tegal, Laporan PTK, TK Bhakti Mulia.

Dari hasil pengamatan di TK Bhakti Mulia Mejasem Barat Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal masih terdapat masalah dalam kemampuan kolase anak yaitu kolase dengan biji-bijian dan kolase ampas kelapa.Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan penerapan media yang bervariasi dalam kolase (2) untuk meningkatkan prestasi belajar anak dalam kegiatan pembelajaran kolase.

Penelitian pembelajaran ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri empat tahapan yaitu: Perencanaan, Pelaksanaan,, Observasi dan Refleksi.

Dari hasil penilaian dan pengamatan yang dilakukan maka dapat disimpulkan (1) Penggunaan media yang bervariasi dapat meningkatkan hasil belajar siklus khususnya dalam kegiatan kolase (2) Penggunaan media yang bervariasi dapat meningkatkan motivasi dalam pembelajaran, aktivitas belajar sangat menyenangkan bagi siswa.

Kata kunci : Kolase, Media yang bervariasi,Kemampuan berkolase.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan anak usia dini adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani rohani agar anak memiliki kesiapan dan memasuki pendidikan lebih lanjut. Proses pembelajaran hendaknya dapat membantu anak untuk mengeksplorasi, mengamati, melihat, memperhatikan dan mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya.

Sejalan dengan pernyataan diatas, Solehuddin (1997) mengatakan bahwa tujuan pendidikan anak usia dini adalah memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal dan menyeluruh sesuai dengan norma dan nilai-nilai kehidupan yang dianut.

Melalui pendidikan anak usia dini, anak diharapkan dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya antara lain agama, intelektual, kognitif, sosial- emosional, bahasa, motorik kasar dan motorik halus serta kemandirian.Anak harus memiliki kebiasaan-kebiasaan perilaku yang diharapkan,menguasai sejumlah pengetahuan dan ketrampilan dasar sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangannya, serta memiliki motivasi dan sikap belajar yang positif.

Berdasarkan pengamatan dan hasil belajar anak kelompok B di TK Bhakti Mulia Kabupaten Tegal, kemampuan motorik halus anak-anak masih kurang dan pengembangan kreativitas perlu ditingkatkan. Kesulitan yang dialami anal-anak kelompok B TK Bhakti Mulia Mejasem Barat Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal dikarenakan anak merasa enggan dengan kegiatan kolase sebab anak tidak sabar dalam menyelesaikan kegiatan kolase dan gambar yang disajikan terlalu rumit sehingga anak mengalami kesulitan. Oleh sebab itu sebagai guru Taman Kanak-kanak perlu mengadakan perbaikan dengan melaksanakan penelitan tindakan kelas melalui metode demonstrasi agar hasil siswa lebih meningkat.

Undang-undang no.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen menyatakan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih dan mengevaluasi anak didik pada usia dini. Seorang guru harus memiliki kemampuan tehnis edukatif dalam melaksanakan tugasnya secara profesional yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan dan mengevaluasi.

Guru yang kreatif harus bisa menciptakan pembelajaran yang inovatif. Namun kenyataannya hasil belajar anak didik belum maksimal, terlebih dalam kemampuan motorik halus anak maupun dalam pengembangan kreativitas.

Pembelajaran dengan kegiatan kolase dinilai tepat untuk meningkatkan kreativitas dan merupakan kegiatan yang menyenangkan serta menumbuhkan rasa ingin tahu dan bangga dengan hasil karyanya sendiri.

Untuk mengetahui secara lebih mendalam kekurangan-kekurangan yang dialami oleh anak maka peneliti berusaha mencari solusi untuk memperbaiki proses pembelajaran dan berusaha meningkatkan hasil evaluasi dengan melakukan refleksi.

1. Identifikasi Masalah

Ketika proses pembelajaran kegiatan kolase kondisi awal sebelum penelitian ini dilakukan terjadi hal-hal sebagai berikut :

a. Proses pembelajaran tidak berjalan lancar, anak sibuk bermain sendiri sehingga situasi tidak kondusif.

b. Anak-anak kurang tertarik dengan pembelajaran yang disajikan guru.

c. Anak-anak kurang percaya diri dalam menerima tugas yang diberikan oleh guru.

2. Analisis Masalah

Mengacu pada latar belakang dan identifikasi masalah diatas maka akan diuraikan analisanya sebagai berikut :

a. Penjelasan guru dalam menyampaikan kegiatan kurang jelas sehingga sulit dimengerti anak.

b. Guru kurang memberikan motivasi agar anak percaya diri dan berani dalam mengerjakan tugas.

c. Guru kurang mampu memberikan pelatihan secara berulang-ulang.

3. Alternatif dan Prioritas Masalah

Dari latar belakang masalah, refleksi, dan analisis masalah yang terjadi di TK Bhakti Mulia Mejasem Barat Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal,maka penulis memprioritaskan pendekatan kontekstual pada kegiatan kolase melalui media yang bervariasi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah dengan media yang bervariasi dapat meningkatkan kemampuan kolase?

2. Apakah dengan media yang bervariasi dapat meningkatkan motivasi anak dan minat anak?

3. Apakah dengan media yang bervariasi dapat meningkatkan minat anak?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai setelah melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian perbaikan ini adalah mendeskripsikan kan peningkatan kemampuan kolase dengan biji-bijian.

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan kolase anak melalui media biji-bijian.

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yang hendak dicapai maka penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat atau kegunaan dalam pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun manfaat penelitian ini adalah :

1. Manfaat bagi siswa

a. Dapat meningkatkan pemahaman anak pada pengembangan motorik halus yaitu kolase.

b. Dapat mengembangkan koordinasi mata dan tangan dalam mengembangkan kreativitas anak.

c. Memberi penjelasan belajar yang aktif, menyenangkan, berkesan dan bermakna.

d. Dapat memberikan pengalaman yang nyata pada anak.

2. Manfaat bagi guru

a. Guru dapat berkembang secara profesional karena dapat menunjukkan kemampuan memiliki dan memperbaiki pembelajaran yang dikelola.

b. Guru dapat berperan aktif dalam mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan.

c. Meningkatkan penerapan guru dalam mendampingi anak dalam melakukan kegiatan pembelajaran sebagai usaha mengatasi masalah yang dihadapai di kelasnya.

d. Dapat meningkatkan kreativitas guru dalam menemukan kemandirian anak.

3. Bagi sekolah

Sebagai bahan informasi dalam meningkatkan mutu pendidikan dan kinerja guru serta memberi masukan kepada Taman Kanak-kanak dalam meningkatkan keberhasilan belajar terutama dalam kegiatan kolase.

4. Bagi orang tua

Memberikan masukan kepada orang tua bahwa belajar tidak hanya mengerjakan lembar kegiatan siswa saja namun bisa dilakukan dengan kegiatan kolase.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Metode Demonstrasi

Menurut Muhibbin Syah (2000) metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang sedang disajikan.

Menurut Syaiful Bahri Djamaroh, metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan pelajaran.

B. Tahap-tahap Demonstrasi

1. Memperagakan

Guru mendemonstrasikan kemampuan yang ditujukan untuk dicapai anak, agar jelas rangkaian kegiatan perlu dipecah menjadi beberapa langkah yang berurutan dan guru perlu memperagakan setiap langkah agar anak jelas saat mengalami dan dapat menirukan.

2. Melakukan

Metode ini dilakukan dengan pengembangan tindakan oleh anak seperti yang dicontohkan guru dengan mengikuti prosedur yang didemonstrasikan oleh karena itu guru perlu memperagakan sedemikian rupa agar anak dapat mengulangi langkah yang dilakukan guru.

3. Penyampaian

Sambil memperagakan guru menjelaskan untuk mempermudah langkah-langkahnya agar anak menangkap maksud kegiatan yang dilakukan.

C. Manfaat Metode Demonstrasi

Secara umum sebagai berikut :

1. Perhatian anak lebih dipusatkan

2. Proses belajar anak lebih terarah

3. Pengalaman hasil pembelajaran lebih melekat pada diri anak

D. Tujuan Metode Demonstrasi

1. Sesuatu yang ditujukan harus dapat diamati secara jelas oleh anak sebab itu sebaiknya media yang digunakan harus berukuran besar dan kegiatan harus diulang secara perlahan-lahan.

2. Penjelasan guru harus dapat didengar dengan jelas, intonasi suara guru hendaknya tepat dan menarik sehingga anak tidak bosan.

3. Demonstrasi harus diikuti dengan kegiatan anak untuk menirukan apa yang telah ditunjukkan guru.

E. Motorik Halus Anak

Gerakan motorik halus adalah gerakan yang hanya melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot-otot kecil, seperti ketrampilan menggunakan jari-jemari tangan dan gerakan pergelangan tangan yang tepat. Oleh karean itu gerakan ini tidak membutuhkan tenaga, namun gerakan ini membutuhkan koordinasi mata dan tangan yang tepat.

Menurut teori papalia dan olds (1985-1995) pada usia 5 tahun syaraf-syaraf yang berfungsi mengontrol gerakan fisik motorik halus sudah mencapai kematangannya dan menstimulasi berbagai kegiatan yang dilakukan anak secara luas. Ketrampilan koordinasi motorik atau otot halus mengangkat gerakan jari-jari tangan dan melakukan aktivitas.

F. Kolase

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, kolase adalah komposisi artistik yang dibuat dari berbagai bahan (kain, kertas, kayu) yang ditempelkan pada permukaan gambar (Depdiknas.2001,580).

Dari definisi tersebut diatas dapat diuraikan pengertian kolase, yaitu merupakan karya seni rupa dua dimensi yang menggunakan bahan yang bermacam-macam selama bahan dasar tersebut dapat dipadukan dengan bahan dasar lain yang akhirnya dapat menyatu menjadi karya yang utuh dan dapat mewakili ungkapan perasaan orang estetis yang membuatny

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Metode merupakan aspek yang terpenting dalam melakukan penelitian, secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Karena fokus penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran di lapangan tentang bagaimana guru mengembangkan kemampuan motorik halus melalui kegiatan menganyam pada anak kelompok B di TK Bhakti Mulia. Maka penelitian ini dijalankan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus (case study research disign), untuk mendapatkan hasil maksimal. Creswell mengatakan bahwa studi kasus merupakan strategi penelitian dimana didalam penelitian menyelidiki secara cermat, suatu program peristiwa, aktivitas proses kelompok atau individu untuk mendapatkan berbagai hasil secara mendalam berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Menurut Robert K Yin penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang mendasar pada studi kasus (case study research disign) terhadap fenomena individu dan beberapa konteks kehidupan nyata.

B. Subyek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian menurut Suharsimi Arikunto (2006: 88) adalah benda, hal atau orang tempat data untuk variable penelitian melekat dan yangdipermasalahkan. Subyek dalam penelitian yang akan dilakukan adalah pesertadidik kelompok B TK Bhakti Mulia . Kelompok B terdiri dari 11 peserta didik dengan rincian 7 anak perempuan dan 4 anak laki-laki Objek penelitian adalah variabel penelitian, yaitu sesuatu yang merupakan inti dari problematika penelitian (Suharsimi Arikunto, 2006: 29). Objek dalam penelitian ini adalah keterampilan motorik halus melalui kegiatan menganyam

C. Setting Penelitian

1.Lokasi Penelitian

Dalam keadaan pandemic covid, Kegiatan pembelajaran anak dilakukan melalui daring, sehingga penelitian dilakukan di rumah peserta didikmasing-masing

2.Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini akan dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2022/2023, yang lebih tepatnya pada bulan Oktober sampai dengan bulan November 2022.

C. Desain Penelitian

Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian yang diungkapkan oleh Kemmis dan Taggart yang merupakan pengembangan dari model Kurt Lewin. Model ini dapat mencakup beberapa siklus dan pada masing-masing siklus meliputi tahapan yaitu:

1.Planning atau perencanaan

2.Acting and observing atau pelaksanaan dan observasi

3.Reflecting atau refleksi

4.Revise plan atau revisi perencanaan.

Tahapan-tahapan tersebut berlangsung secara berulang-ulang sampai tujuan penelitian tercapai.

Proses pelaksanaan tiap siklus meliputi:

1.Perencanaan

Perencanaan yaitu rencana tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau perubahan perilaku dan sikap sebagai solusi. Pada tahap perencanaan dilakukan dengan menyusun perencanaan tindakan berdasarkan identifikasi masalah pada observasi awal sebelum penelitian dilaksanakan.

2.Pelaksanaan

Pelaksanaan dilakukan dalam pembelajaran seperti biasa sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Dalam pelaksanaan ini guru dan peneliti merekam semua yang terjadi dalam pembelajaran baik dalam bentuk catatan, foto maupun video guna dijadikan data yang akan digunakan sebagai bahan refleksidan evaluasi.

3.Refleksi dan Evaluasi

Hasil pengamatan kemudian dievaluasi dalam bentuk refleksi. Apabila hasil refleksi menunjukkan belum adanya perbaikan sesuai yang diinginkan maka kemudian disusun kembali rencana perbaikan yang akan dilakukan dalam siklus berikutnya. Hal demikian terus dilakukan sampai mencapai target yang ditentukan oleh peneliti

D. Tahapan- tahapan Penelitian

Setiap siklus dalam penelitian dilakukan dalam 4 tahap. Adapun tahapan penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

1.Tahap Perencanaan

a. Observasi

Observasi atau pengamatan dilakukan untuk mengetahui permasalahan yang terjadi di dalam kelas. Peneliti/pengamat melakukan pencatatan terhadap semua kegitan kolase lewat hasil karya dan foto.

b. Analisis permasalahan: analisis permasalahan dilakukan berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dan analisis

c.Menentukan tindakan/alternatif pemecahan masalah: setelah diketemukan permasalahan dalam kelas tersebut selanjutnya peneliti menentukan alternatif pemecahan masalah yang berupa kegiatan pembelajaran yang dapat menggunakan suatu metode dan media tertentu.

d. Menyusun perangkat pembelajaran: peneliti menyusun RPP yang berisikan kegiatan yang telah diprogramkan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang terjadi di dalam kelas. Selain itu peneliti juga menyiapkan media apa yang akan digunakan selama program kegiatan dilaksanakan juga menyiapkan alat evaluasi serta keperluan lain yang dibutuhkan selama penelitian berlangsung.

2. Tahap Pelaksanaan

a. Melaksanakan pembelajaran sesuai RPP yang telah disusun.

b. Melaksanakan evaluasi belajar yang telah dilaksanakan anak selama program kegiatan dan menganalisis perkembangan yang terjadi pada anak.

3. Tahap Refleksi Pada tahap refleksi

Peneliti menggunakan semua data yang telah diperoleh lewat hasil karya yang dibuat oleh anak.. Peneliti mengevaluasi perkembangan anak, apakah ada peningkatan atau tidak. Jika sama sekali tidak terjadi peningkatan atau perbaikan, peneliti melakukan evaluasi mulai dari awal perencanaan dan pelaksanaan apakah ada yang terlewatkan sehingga hasil yang diinginkan tidak tercapai. Jika diketahui ada kekurangan dalam 50 perencanaan maupun pelaksanaan maka peneliti melakukan perbaikan.

4. Tahap Revisi Perencanaan

Jika ditemukan adanya kekurangan-kekurangan maupun kesalahan maka peneliti melakukan perbaikan perencanaan. Perbaikan dilakukan pada media ataupun hal lain yang merupakan kekurangan yang terjadi. Rencana yang telah diperbaiki kemudian akan dilaksanakan pada siklus berikutnya.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah hal yang sangat penting dalam penelitian karena tujuan dari penelitian adalah untuk memperoleh data. Menurut Sugiyono (2005: 63) terdapat beberapa teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi.

Dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi atau pengamatan, dan dokumentasi. Observasi adalah dasar semua pengetahuan. Melalui observasi peneliti belajar tentang perilaku dan makna dari perilaku tersebut. Observasi atau pengamatan dilakukan terhadap kemampuan anak dalam kegiatan kolase.

Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan dengan memberikan skor jika hal yang diamati muncul. Adapun kisi- kisi lembar observasi dapat dilihat dalam kisi-kisi instrumen penelitian. Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu, bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya dari seseorang (Sugiyono, 2008: 329). Hasil observasi atau pengamatan akan 51 lebih dipercaya apabila didukung dengan adanya dokumentasi. Dokumentasi dalam penelitian ini dapat berupa foto atau video mengenai kegiatan yang dilakukan anak ketika kolase dan hasil karya anak.

G. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah suatu alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar perkerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Suharsimi Arikunto, 2006). Pengumpulan data dilakukan dengan melihat keterampilan motorik halus anak dalam melakukan kegiatan kolase. Agar membantu mempermudah penilaian kemampuan motorik halus anak-anak dalam melakukan kegiatannya, maka peneliti membuat check list.

Adapun aspek-aspek keterampilan motorik halus yang akan diamati adalah sebagai berikut:

1.Kecermatan

2.Ketepatan

3.Kelentukan

No

Aspek yang

diamati

Skor

Diskripsi

1

Kecermatan

3

Jika anak mampu menyusun biji-bijian

dengan cermat, rapi dan teliti

2

Jika anak dapat menyusun bahan kolase dengan

rapi

1

Jika anak mau menyusun bahan kolase

0

Jika anak tidak mau menyusun bahan

dalam kegiatan kolase

2

Ketepatan

3

Jika anak dapat kolase sesuai pola gambar

2

Jika anak mau kolase sesuai pola gambar namun

belum rapi

1

Jika anak mau kolase

0

Jika anak tidak mau kolase

3

Kelenturan

3

Jika anak dapat menggerakkan jarinya secara lentuk sehingga bahan yang digunakan untuk koloase tidak berantakan

tidak ada yang berantakan

2

Jika anak dapat menggerakkan jarinya sehingga

bahan yang digunakan dapat disusun rapi

1

Jika anak mau menggerakkan jarinya

0

Jika anak tidak mau menggerakkan jarinya

H. Teknik Analisis Data

Spradley (Sugiyono, 2011: 244) menyatakan bahwa analisis dalam penelitian jenis apapun merupakan cara berfikir, sehingga berkaitan dengan pengujian sistematis terhadap sesuatu untuk menentukan bagian maupun keterkaitan hingga menyeluruh. Analisis Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan persentase. Tujuan analisis data kualitatif yaitu untuk mengolah data dengan cara mendeskripsikan agar lebih jelas dan bermakna dalam menggambarkan data dari hasil penelitian. Perhitungan dalam analisis data menghasilkan persentase pencapaian yang selanjutnya data yang diperoleh dinyatakan dalam sebuah predikat. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan predikat Belum Berkembang (BB), Mulai Berkembang (MB), Berkembang sesuai Harapan (BSH) dan Berkembang SangatBaik (BSB).

Teknik analisis data kuantitatif (persentase) diperoleh melalui hasil pengamatan keterampilan motorik halus anak pada saat kegiatan menganyam dandianalisis. Analisis data yang telah diperoleh mendapatkan skor berupa deskripsi penilaian untuk tiap-tiap aspek yang akan akan 53 dikumulatifkan dalam bentuk tabel dan dipersentasekan dalam bentuk diagram.

Rumus penilaian menurut Ngalim Purwanto (2006: 102) adalah sebagai berikut: Keterangan : NP = R X 100

SM

NP = Nilai Persen yang dicari atau diharapkan

R = Skor mentah yang diperoleh siswa

SM = Skor maksimum ideal dari tes yang bersangkutan

100 = Bilangan tetap

Dari hasil perhitungan yang telah diperoleh, selanjutnya diinterpretasikan ke dalam 4 kriteria yang diambil dari kriteria Acep Yoni (2010: 175-176) yang kemudian dimodifikasi oleh peneliti. Kriteria interpretasinya adalah sebagai berikut:

1.Kriteria Belum Berkembang (BB) antara 0%-25%

2.Kriteria Mulai Berkembang (MB) antara 26%-50%

3.Kriteria Berkembang Sesuai Harapan (BSH) antara 51%-75%

4.Kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB) antara 76%-100%

I. Indikator Keberhasilan

Indikator merupakan suatu patokan atau acuan yang digunakan untuk menentukan keberhasilan suatu kegiatan atau program. Sesuai dengan karakteristik penelitian tindakan kelas, maka keberhasilan tindakan berubah ke arah perbaikan, baik yang terkait dengan anak ataupun kegiatan pembelajaran melalui kegiatan menganyam dengan kertas dibandingkan dengan sebelum ada tindakan dengan sesudah ada tindakan.

Dalam penelitian ini digambarkan dengan mengacu instrumen, kriteria keberhasilan ditunjukkan bila anak mengalami peningkatan. Penelitian dianggap berhasil apabila ≥76% dari anak kelompok B di TK Bhakti Mulia berada dalam kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB).

BAB III

METEDOLOGI PENELITIAN

A. Subyek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian menurut Suharsimi Arikunto (2006: 88) adalah benda, hal atau orang tempat data untuk variable penelitian melekat dan yangdipermasalahkan. Subyek dalam penelitian yang akan dilakukan adalah pesertadidik kelompok B TK Bhakti Mulia Mejasem Barat. Kelompok B terdiri dari 11 peserta didik dengan rincian 7 anak perempuan dan 4 anak laki-laki Objek penelitian adalah variabel penelitian, yaitu sesuatu yang merupakan inti dari problematika penelitian (Suharsimi Arikunto, 2006: 29). Objek dalam penelitian ini adalah keterampilan motorik halus melalui kegiatan kolase.

B. Setting Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Kelompok B TK Bhakti Mulia Mejasem Barat.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini akan dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2022/2023, yang lebih tepatnya pada bulan Oktober sampai dengan bulan November 2022.

C. Desain Penelitian

Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian yang diungkapkan oleh Kemmis dan Taggart yang merupakan pengembangan dari model Kurt Lewin. Model ini dapat mencakup beberapa siklus dan pada masing-masing siklus meliputi tahapan yaitu:

1. Planning atau perencanaan

2. Acting and observing atau pelaksanaan dan observasi

3. Reflecting atau refleksi

4. Revise plan atau revisi perencanaan.

Tahapan-tahapan tersebut berlangsung secara berulang-ulang sampai tujuan penelitian tercapai.

Proses pelaksanaan tiap siklus meliputi:

1. Perencanaan

Perencanaan yaitu rencana tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau perubahan perilaku dan sikap sebagai solusi. Pada tahap perencanaan dilakukan dengan menyusun perencanaan tindakan berdasarkan identifikasi masalah pada observasi awal sebelum penelitian dilaksanakan.

2. Pelaksanaan

Pelaksanaan dilakukan dalam pembelajaran seperti biasa sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Dalam pelaksanaan ini guru dan peneliti merekam semua yang terjadi dalam pembelajaran baik dalam bentuk catatan, foto maupun video guna dijadikan data yang akan digunakan sebagai bahan refleksidan evaluasi.

3. Refleksi dan Evaluasi

Hasil pengamatan kemudian dievaluasi dalam bentuk refleksi. Apabila hasil refleksi menunjukkan belum adanya perbaikan sesuai yang diinginkan maka kemudian disusun kembali rencana perbaikan yang akan dilakukan dalam siklus berikutnya. Hal demikian terus dilakukan sampai mencapai target yang ditentukan oleh peneliti

D. Tahapan- tahapan Penelitian

Setiap siklus dalam penelitian dilakukan dalam 4 tahap. Adapun tahapan penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Tahap Perencanaan

a. Observasi

Observasi atau pengamatan dilakukan untuk mengetahui permasalahan yang terjadi di dalam kelas. Peneliti/pengamat melakukan pencatatan terhadap semua kegitan kolase lewat hasil karya anak.

b. Analisis permasalahan: analisis permasalahan dilakukan berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dan analisis

c. Menentukan tindakan/alternatif pemecahan masalah: setelah

diketemukan permasalahan dalam kelas tersebut selanjutnya peneliti menentukan alternatif pemecahan masalah yang berupa kegiatan pembelajaran yang dapat menggunakan suatu metode dan media tertentu.

d. Menyusun perangkat pembelajaran: peneliti menyusun RPP yang berisikan kegiatan yang telah diprogramkan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang terjadi di dalam kelas. Selain itu peneliti juga menyiapkan media apa yang akan digunakan selama program kegiatan dilaksanakan juga menyiapkan alat evaluasi serta keperluan lain yang dibutuhkan selama penelitian berlangsung.

2. Tahap Pelaksanaan

a. Melaksanakan pembelajaran sesuai RPP yang telah disusun.

b. Melaksanakan evaluasi belajar yang telah dilaksanakan anak selama

program kegiatan dan menganalisis perkembangan yang terjadi pada

anak.

3. Tahap Refleksi Pada tahap refleksi

Peneliti menggunakan semua data yang telah buat oleh anak.. Peneliti mengevaluasi perkembangan anak, apakah ada peningkatan atau tidak. Jika sama sekali tidak terjadi peningkatan atau perbaikan, peneliti melakukan evaluasi mulai dari awal perencanaan dan pelaksanaan apakah ada yang terlewatkan sehingga hasil yang diinginkan tidak tercapai. Jika diketahui ada kekurangan dalam 50 perencanaan maupun pelaksanaan maka peneliti melakukan perbaikan.

4. Tahap Revisi Perencanaan

Jika ditemukan adanya kekurangan-kekurangan maupun kesalahan maka peneliti melakukan perbaikan perencanaan. Perbaikan dilakukan pada media ataupun hal lain yang merupakan kekurangan yang terjadi. Rencana yang telah diperbaiki kemudian akan dilaksanakan pada siklus berikutnya

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah hal yang sangat penting dalam penelitian karena tujuan dari penelitian adalah untuk memperoleh data. Menurut Sugiyono (2005: 63) terdapat beberapa teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi.

Dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi atau pengamatan, dan dokumentasi. Observasi adalah dasar semua pengetahuan. Melalui observasi peneliti belajar tentang perilaku dan makna dari perilaku tersebut. Observasi atau pengamatan dilakukan terhadap kemampuan anak dalam kegiatan kolase. Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan dengan memberikan skor jika hal yang diamati muncul. Adapun kisi- kisi lembar observasi dapat dilihat dalam kisi-kisi instrumen penelitian. Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu, bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya dari seseorang (Sugiyono, 2008: 329). Hasil observasi atau pengamatan akan 51 lebih dipercaya apabila didukung dengan adanya dokumentasi. Dokumentasi dalam penelitian ini dapat berupa foto mengenai kegiatan yang dilakukan anak ketika kolase dan hasil karya anak

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah suatu alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar perkerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Suharsimi Arikunto, 2006). Pengumpulan data dilakukan dengan melihat keterampilan motorik halus anak dalam melakukan kegiatan kolase. Agar membantu mempermudah penilaian kemampuan motorik halus anak-anak dalam melakukan kegiatannya, maka peneliti membuat check list.

Adapun aspek-aspek keterampilan motorik halus yang akan diamati adalah sebagai berikut:

1. Kecermatan

2. Ketepatan

3. Kelentukan.

Tabel 1. Kisi-kisi Instrumen Keterampilan Motorik Halus Anak

No

Aspek yang

diamati

Skor

Diskripsi

1

Kecermatan

3

Jika anak mampu menyusun kolase

dengan cermat, rapi dan teliti

2

Jika anak dapat menyusun bahan kolase dengan

Rapi

1

Jika anak mau menyusun bahan kolase

0

Jika anak tidak mau menyusun bahan kolase

dalam kegiatan kolase

2

Ketepatan

3

Jika anak dapat kolase sesuai pola gambar

2

Jika anak mau kolase sesuai pola gambar namun

belum rapi

1

Jika anak mau kolase

0

Jika anak tidak mau kolase

3

Kelenturan

3

Jika anak dapat menggerakkan jarinya secara lentuk sehingga kertas yang digunakan untuk menganyam tidak robek dan lungsi yang dianyam

tidak ada yang terlewatkan

2

Jika anak dapat menggerakkan jarinya sehingga

kertas yang digunakan untuk menganyam tidak Robek

1

Jika anak mau mengerakan jarinya

0

Jika anak tidak mau mengerakan jarinya

H. Teknik Analisis Data

Spradley (Sugiyono, 2011: 244) menyatakan bahwa analisis dalam penelitian jenis apapun merupakan cara berfikir, sehingga berkaitan dengan pengujian sistematis terhadap sesuatu untuk menentukan bagian maupun keterkaitan hingga menyeluruh. Analisis Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan persentase. Tujuan analisis data kualitatif yaitu untuk mengolah data dengan cara mendeskripsikan agar lebih jelas dan bermakna dalam menggambarkan data dari hasil penelitian. Perhitungan dalam analisis data menghasilkan persentase pencapaian yang selanjutnya data yang diperoleh dinyatakan dalam sebuah predikat. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan predikat Belum Berkembang (BB), Mulai Berkembang (MB), Berkembang sesuai Harapan (BSH) dan Berkembang SangatBaik (BSB).

Teknik analisis data kuantitatif (persentase) diperoleh melalui hasil pengamatan keterampilan motorik halus anak pada saat kegiatan kolase dandianalisis. Analisis data yang telah diperoleh mendapatkan skor berupa deskripsi penilaian untuk tiap-tiap aspek yang akan akan 53 dikumulatifkan dalam bentuk tabel dan dipersentasekan dalam bentuk diagram.

Rumus penilaian menurut Ngalim Purwanto (2006: 102) adalah sebagai berikut:

NP = R X 100 SM

Keterangan :

NP = Nilai Persen yang dicari atau diharapkan

R = Skor mentah yang diperoleh siswa

SM = Skor maksimum ideal dari tes yang bersangkutan100 = Bilangan tetap

Dari hasil perhitungan yang telah diperoleh, selanjutnya diinterpretasikan ke dalam

4 kriteria yang diambil dari kriteria Acep Yoni (2010: 175-176) yang kemudian dimodifikasi oleh peneliti. Kriteria interpretasinya adalah sebagai berikut:

1. Kriteria Belum Berkembang (BB) antara 0%-25%

2. Kriteria Mulai Berkembang (MB) antara 26%-50%

3. Kriteria Berkembang Sesuai Harapan (BSH) antara 51%-75%

4. Kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB) antara 76%-100%

I. Indikator Keberhasilan

Indikator merupakan suatu patokan atau acuan yang digunakan untuk menentukan keberhasilan suatu kegiatan atau program. Sesuai dengan karakteristik penelitian tindakan kelas, maka keberhasilan tindakan berubah ke arah perbaikan, baik yang terkait dengan anak ataupun kegiatan pembelajaran melalui kegiatan kolase dengan biji jagung dibandingkan dengan sebelum ada tindakan dengan sesudah ada tindakan.

Dalam penelitian ini digambarkan dengan mengacu instrumen, kriteria keberhasilan ditunjukkan bila anak mengalami peningkatan. Penelitian dianggap berhasil apabila ≥76% dari anak kelompok B di TK Bhakti Mulia Mejasem Barat berada dalam kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB).

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1.Kondisi Umum Lokasi Penelitian

Peneliti melakukan penelitian berdasarkan hasil karya anak yang telah dibuat.

2.Pra Tindakan Kemampuan Motorik Halus

Pelaksanaan pratindakan ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal anak sebelum dilakukannya tindakan. Guru atau peneliti sebagai pelaksana pembelajaran melalukan pra tindakan pada waktu sebelum Siklus I dilakukan. Penelitian pra tindakan ini dilakukan menggunakan teknik pengumpulan data observasi. Pelaksanaaan pra tindakan berupa kolase dengan biji jagung. Pelaksanaan pra tindakan menggunakan pengamatan terhadap kecermatan anak dalam kolase, ketepatan dalam menyusun biji-bijian dan kelentukan dalam kolase.

Hasil kemampuan motorik halus pada pra tindakan ini dapat diketahui bahwa kemampuan motorik halus anak masih perlu adanya upaya peningkatan kemampuan motorik halus.

Hal ini dapat diketahui dari tabel data yang diperoleh sebagai berikut:

No

Nama

Kecer

matan

Ketepa

tan

Kelentu

kan

Jml

skor

Per

Sentase

Kri

teria

1

Aqila

1

1

1

3

33,33 %

MB

2

Alma

1

1

2

4

44,44 %

MB

3

Aufa

1

2

2

5

55,55 %

BSH

4

Adit

1

1

2

4

44,44 %

MB

5

Dehan

1

1

1

3

33,33 %

MB

6

Diva

1

2

1

4

44,44 %

MB

7

Dendi

1

2

2

5

55,55 %

BSH

8

Evan

1

2

2

5

55,55%

BSH

9

Kiki

1

1

1

3

33,33 %

MB

10

Mutia

1

1

1

3

33,33 %

MB

11

Zahra

1

2

2

5

55,55 %

BSH

Jumlah

44

Rata-rata

40,74%

MB

Keterangan :

BB : Belum Berkembang (0% - 25%)

MB : Mulai Berkembang (26% - 50%)

BSH : Berkembang Sesuai Harapan (51% - 75%)

BSB : Berkembang Sangat Baik (76% - 100%)

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa kemampuan motorik anak dari Kecermatan anak dalam kolase semua anak berada pada tahap Mulai Berkembang (MB) yaitu sebanyak 11 anak atau 100%, Ketepatan dalam menyusun biji jagung sebagian besar anak juga berada pada tahap Mulai Berkembang (MB) yaitu sebanyak 6 anak atau 54,54% dan Kelentukan dalam kolase sebagian besar anak berada pada tahap Berkembang Sesuai Harapan (BSH) yaitu sebanyak 6 anak atau 54,54%

Rata-rata kemampuan motorik halus pada semua anak adalah 40,74% sedangkan indikator keberhasilannya ≥76%. Maka pentingnya perbaikan terhadap kemampuan motorik halus dalam pembelajaran melalui kegiatan kolase. Kegiatan kolase akan dapat melatih kemampuan anak dalam mengkoordinasikan mata dan tangannya khususnya gerakan jari-jemari sehingga akan merangsang keterampilan dalam pengendalian gerak yang melibatkan otot-otot kecil/halus. Selain itu anak dapat belajar mengingat pola yang harus diikuti dengan penuh kesabaran.

1. Deskripsi Pelaksanaan Siklus I

a. Perencanaan Tindakan Siklus I

1) Pada tahap perencanaan peneliti melakukan observasi

2)Analisis permasalahan: analisis permasalahan dilakukan berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dan analisis

3) Menentukan tindakan/alternatif pemecahan masalah setelah diketemukan permasalahan dalam kelas tersebut selanjutnya peneliti menentukan alternatif pemecahan masalah yang berupa kegiatan pembelajaran yang dapat menggunakan suatu metode dan media tertentu.

4) Menyusun perangkat pembelajaran: peneliti menyusun RPP yang berisikan kegiatan yang telah diprogramkan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang terjadi di dalam kelas. Selain itu peneliti juga menyiapkan media apa yang akan digunakan selama program kegiatan dilaksanakan juga menyiapkan alat evaluasi serta keperluan lain yang dibutuhkan selama penelitian berlangsung.

b. Pelaksanaan Tindakan Siklus 1

Pelaksanaan Tindakan Siklus 1 dilakukan hanya 1 kali pertemuan. Adapun pelaksanaan dilakukan pada hari Selasa, Tanggal 20 Oktober 2022 dengan Tema Budaya, Subtema Minuman Khas Tegal, Subsubtema Teh Poci dengan kegiatan kolase poci

Sebelum kegiatan kolase, guru membagikan bahan yang digunakan untuk kolase dan memberikan langkah-langkah dalam kolase.

c. Observasi

Peneliti mengamati perkembangan kemampuan motorik halus anak pada kegiatan kolase dengan melihat hasil karya anak. Peneliti menggunakan panduan instrumen observasi pada kecermatan, ketepatan dan kelentukan dalam kolase. Peneliti mengamati perkembangan kemampuan motorik halus anak pada siklus pertama dan mencatat perkembangan kemampuan motorik halus anak menggunakan instrumen observasi.

Kemampuan motorik halus anak dapat diketahui ketika anak berpraktik kolase dan dari hasil kolase anak. Hasil kemampuan motorik halus pada siklus 1 ini dapat diketahui dari tabel data yang diperoleh sebagai berikut:

8

Evan

0

0

0

0

0%

BB

9

Kiki

1

2

2

5

55,55 %

BSH

10

Mutia

1

2

1

4

44,44 %

MB

11

Zahra

2

2

2

6

66,66 %

BSH

Jumlah

50

Rata-rata

46,29 %

MB

Tabel Data Observasi Kemampuan Motorik Halus Pada Siklus 1

No

Nama

Kecer matan

Kete patan

Kelen tukan

Jml Skor

Presen Tase

Krite ria

1

Aqila

1

2

1

4

44,44 %

MB

2

Alma

1

2

2

5

55,55 %

BSH

3

Aufa

2

2

2

6

66,66 %

BSH

4

Adit

1

2

2

5

55,55 %

BSH

5

Dehan

1

2

1

4

44,44 %

MB

6

Diva

2

2

1

5

55,55 %

BSH

7

Dendi

2

2

2

6

66,66 %

BSH

Keterangan :

BB

antara 0-25%

1 anak ( 9,09 %)

Evan

MB

antara 26%-50%

3 anak (27,27

%)

Dehan,Mutia, Aqila

BSH

antara 51%-75%

7 anak (63,63

%)

Alma,Aufa,Adit,Zahra,

Mutia,Diva,Dendi

BSB

antara 76%-100%

0 anak (0%)

Berdasarkan tabel atas dapat dijelaskan bahwa kemampuan motorik halus pada anak kelompok B di TK Bhakti Mulia Mejasem Barat pada saat Siklus 1 adalah sebagai berikut:

Anak yang berada pada kriteria Belum Berkembang (BB) ada 1 anak atau 9,09 % karena sakit tidak mengerjakan tugas, Anak pada kriteria Mulai Berkembang (MB) ada 3 anak atau 27,27 %; dan Anak pada kriteria Berkembang Sesuai Harapan (BSH) ada 7 anak atau 63,63 % dan Anak pada kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB) ada 0 anak atau 0%.

Rata-rata kemampuan motorik halus anak di kelompok B TK Bhakti Mulia pada Siklus 1 diperoleh rata-rata sebesar 46,29 % sehingga berada pada kriteria MB (Mulai Berkembang).

Berdasarkan uraian di atas, anak yang memiliki kemampuan motorik halus dengan kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB) ada 0 anak atau 0%. Anak yang berkembang Sesuai Harapan (BSH) ada 7 anak atau 63,63 % yaitu Alma,Aufa Zahra Dendi,Adit,Dehan,Diva. Hal tersebut terbukti bahwa pada kriteria kecermatan, anak dapat menyusun biji jagung dengan rapi. Pada kriteria ketepatan, anak mau kolase sesuai pola gambar dan pada kriteria kelentukan anak dapat menggerakkan jarinya sehingga biji jagung yang digunakan untuk kolase sesuai pola gambar. Anak yang berada pada kriteria Mulai Berkembang (MB) ada 3 anak atau 27,27% yaitu Aqila,Mutia,Aqila. Hal tersebut terbukti bahwa anak mau menyusun biji jagung meskipun belum rapi, belum urut sesuai pola gambar yang digunakan untuk kolase. Anak yang Belum Berkembang (BB) ada 1 anak atau (9,09 %) yaitu Kiki karena tidak mengerjakan tugas sedang sakit

Tabel Data perkembangan motorik halus anak pada siklus I

No

Nama

Pra Tindakan

Siklus I

Jml skor

Per sentase

Kri teria

Jml skor

Per Sentase

Kri teria

1

Aqila

3

33,33 %

MB

4

44,44 %

MB

2

Alma

4

44,44 %

MB

5

55,55 %

BSH

3

Aufa

5

55,55 %

BSH

6

66,66 %

BSH

4

Adit

4

44,44 %

MB

5

55,55 %

BSH

5

Dehan

3

33,33 %

MB

4

44,44 %

MB

6

Diva

4

44,44 %

MB

5

55,55 %

BSH

7

Dendi

5

55,55 %

BSH

6

66,66 %

BSH

8

Evan

5

55,55%

BSH

0

0%

BB

9

Kiki

3

33,33 %

MB

5

55,55 %

BSH

10

Mutia

3

33,33 %

MB

4

44,44 %

MB

11

Zahra

5

55,55 %

BSH

6

66,66 %

BSH

Rata-rata

40,74

MB

46,29%

MB

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa kemampuan motorik halus pada anak kelompok B di TK Bhakti Mulia pada saat Pra Tindakan, Siklus I dan Siklus II adalah sebagai berikut:

Kemampuan motoric halus Anak yang berada pada kriteria Belum Berkembang (BB) tidak ada atau 0%. Anak yang berada pada kriteria MB ada 7 anak atau 63,63 %

, Anak yang berada pada kriteria BSH ada 4 anak atau 36,36 % dan pada kriteria BSB ada 0 anak atau 0%.

Rata-rata kemampuan motorik halus anak di kelompok B TK Bhakti Mulia pada Pra Tindakan diperoleh rata-rata sebesar 40,74 % sehingga berada pada kriteria MB (Mulai Berkembang).

Kemampuan motoric halus Anak yang berada pada kriteria Belum Berkembang (BB) ada 1 anak atau 9,09 % karena sakit tidak mengerjakan tugas, Anak pada kriteria Mulai Berkembang (MB) ada 3 anak atau 27,27 %; dan Anak pada kriteria Berkembang Sesuai Harapan (BSH) ada 7 anak atau 63,63 % dan Anak pada kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB) ada 0 anak atau 0%.

Rata-rata kemampuan motorik halus anak di kelompok B TK Bhakti Mulia pada Siklus 1 diperoleh rata-rata sebesar 46,29 % sehingga berada pada kriteria MB (Mulai Berkembang)

Ada sedikit peningkatan pada saat Pra Tindakan ke Siklus I yaitu 5,55% dari 40,74% ke 46,29%

Dari hasil perbandingan antara kemampuan motorik halus pada tabel Pra Tindakan, Siklus I dapat digambarkan pada grafik di bawah ini sebagai berikut:

Diagram Perbandingan Hasil Observasi Tahap Pra Tindakan, Siklus I Keterangan :

BB : Belum Berkembang ( 0% - 25%)

MB : Mulai Berkembang ( 26% - 50% )

BSH : Berkembang Sesuai Harapan ( 51% - 75% )

BSB : Berkembang Sangat Baik ( 76% - 100% )

Berdasarkan grafik di atas dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan pada setiap anak. Dari hasil penelitian tersebut, akan diuraikan tentang bagaimana peningkatan dari pra tindakan ke siklus I tersebut dapat terjadi. Berikut adalah uraian bagaimana peningkatannya:

Pada grafik di atas terlihat Nadia pada saat siklus I tidak mengerjakan tugas karena sakit, oleh karena itu nadia hanya mempunyai grafik pada siklus I. Adanya peningkatan pada setiap anak dikarenakan kegiatan kolase ini dilakukan berulang-ulang sehingga anak memahami kekurangan-kekurangannya dalam kolase. Meskipun ada peningkatan pada saat pra tindakan ke siklus I yaitu 5,55% dari 40,74% ke 46,29%. namun hal tersebut belum mencapai indikator yang ditetapkan oleh peneliti yaitu ≥76%, sehingga perlu adanya upaya peningkatan lanjut untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan kolase dengan cara mengubah pola gambar.

d.Refleksi

Hasil pengamatan penelitian yang di lapangan pada siklus I menunjukkan bahwa indikator keberhasilan belum tercapai. Hal ini diketahui dari hasil kemampuan motorik halus anak pada siklus 1 adalah 46,29% sehingga masih terdapat kekurangan pada peningkatan kemampuan motorik halus. Hasil yang diperoleh berdasarkan hasil karya kolase anak. Kurangnya kemampun motorik halus pada anak ditandai pada kecermatan anak dalam kolase yaitu anak-anak masih kurang rapi dalam kolase .

Berdasarkan hasil penelitian terhadap permasalahan di kelompok B yaitu kurangnya kemampuan motorik halus anak. Maka peneliti melakukan perbaikan pada siklus berikutnya dengan melakukan perbaikan sebagai berikut:

1) Penjelasan langkah-langkah dalam kolase lebih diperjelas sehingga anak- anak lebih paham dan anak-anak juga tidak merasa bingung.

2) Biji-bijian yang digunakan dalam kolase yaitu biji jagung satu warna sehingga anak-anak kurang tertarik.

Perbaikan yang telah direncanakan akan dilakukan pada siklus II guna memperoleh perbaikan pada keterampilan motorik halus anak. Perbaikan tersebut berharap anak dapat meningkat dan hasil kemampuan motorik halus sesuai indikator keberhasilan yang telah ditentukan

2. Deskripsi Pelaksanaan Siklus II

a. Perencanaan Tindakan Siklus II Perencanaan dalam penelitian ini sebagai hasil refleksi dari siklus I yaitu dalam menyusun RPP dan menyediakan media kolase yang digunakan untuk guru maupun media kolase untuk anak-anak. Perencanaan tindakan ini dilakukan pada hari Kamis pada tanggal 11 November 2022. Peneliti membuat RPP menyiapkan rencana media pembelajaran dan instrumen yang akan digunakan dalam mengamati kemampuan motorik halus pada anak yaitu kecermatan, ketepatan dan kelentukan dalam kolase.

b. Pelaksanaan Tindakan Siklus II dilakukan hanya 1 kali pertemuan.Adapun pelaksanaan dilakukan pada hari Kamis Tanggal 11 November 2022 dengan Tema Binatang, Subtema Binatang Ternak, Subsubtema Bebek. Sebelum kegiatan kolase, guru membagikan bahan yang digunakan untuk kolase dan memberikan langkah-langkah dalam kolase.

c. Observasi

Peneliti mengamati perkembangan kemampuan motorik halus anak pada kegiatan kolase dengan melihat hasil karya anak. Penelliti menggunakan panduan instrumen observasi pada kecermatan, ketepatan dan kelentukan dalam kolase. Peneliti mengamati perkembangan kemampuan motorik halus anak pada siklus II dan mencatat perkembangan kemampuan motorik halus anak menggunakan instrumen observasi.

Kemampuan motorik halus anak dapat diketahui ketika anak berpraktik kolase dan dari hasil kolase anak. Hasil kemampuan motorik halus pada siklus II ini dapat diketahui dari tabel data yang diperoleh sebagai berikut:

Tabel Data Observasi Kemampuan Motorik Halus Pada Siklus II

No

Nama

Kecerm a

tan

Ketep atan

Kelen turan

Jum lah Sko r

Presen tase

Kriteri a

1

Aqila

2

2

2

6

66,66

%

BSH

2

Alma

2

2

3

7

77,77

%

BSB

3

Aufa

2

3

3

8

88,88

%

BSH

4

Adit

2

2

2

6

66,66

%

BSH

5

Dehan

2

2

2

6

66,66

%

BSH

6

Diva

2

3

2

7

77,77

%

BSB

7

Dendi

2

3

3

8

88,88

%

BSB

8

Evan

2

2

2

6

66,66

%

BSH

9

Kiki

2

2

2

6

66,66

%

BSH

10

Mutia

2

2

2

6

66,66

%

BSH

11

Zahra

2

3

3

8

88,88

%

BSB

Jumlah

74

Rata-rata

68,51

%

BSH

Keterangan :

BB

antara 0-25%

0 anak ( 0 %)

MB

antara 26% -

50%

0 anak (0%)

BSH

antara

75%

51%

-

7 anak

(63,63%)

Abdi, Anis, Azka, Fachriz,

Nadia, Nafisa, Nendra

BSB

antara

100%

76%

-

4 anak (3,63%)

Aina, Haura, Ibnati, Virgi

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa Kemampuan motorik halus pada anak kelompok B di TK Bhakti Mulia Mejasem pada siklus ke II adalah sebagai berikut :

Kemampuan motorik halus anak yang berada pada kriteria BB ada 0 anak atau 0%. Kemampuan motoric halus anak yang berada pada kriteria MB juga tidak ada. Kemampuan motoric halus anak yang berada pada kriteria Berkembang Sesuai Harapan ada 7 anak atau (63,63%). Kemampuan motoric halus anak yang berada pada kriteria Berkembang Sangat Baik ada 4 anak atau (3,63%)

Maka diperoleh rata-rata sebesar 68,51% sehingga berada pada kriteria BSH (Berkembang Sesuai Harapan)

Berdasarkan persentase pada tabel di atas, anak yang memiliki kemampuan motorik halus dengan kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB) ada 4 anak atau 36,36% yaitu Dehan.Mutia,Aqila,Kiki Hal tersebut terbukti bahwa pada kriteria kecermatan, anak mampu menyusun biji jagung dengan cermat, rapi dan teliti. Pada kriteria ketepatan, anak dapat kolase sesuai arah, urutan dan tujuan gerakan dan pada kriteria kelentukan, anak dapat menggerakkan jarinya secara lentuk.. Anak yang memiliki kemampuan motoric halus dengan kriteria Berkembang Sesuai Harapan (BSH) ada 7 anak atau 63,63% yaitu Alma,Aufa,Adit,Dendi,Evan,Zahra,Diva, Hal tersebut terbukti bahwa pada kriteria kecermatan, anak dapat menyusun biji jagung dengan rapi. Pada kriteria ketepatan, anak mau kolase sesuai bentuk gambar dan pada kriteria kelentukan anak dapat menggerakkan jarinya sehingga biji jagung yang digunakan untuk kolase tidak berantakan. Tidak ada anak yang berada pada kriteria Mulai Berkembang (MB) dan Belum Berkembang (BB).

Adapun rincian tahap perkembangan motorik halus anak kelompok B Tabel Data perkembangan motorik halus anak pada siklus II

No

Indikator

Kriteria

Jumlah Anak

Persentase

Ket

1

Kecermatan

BB

0

0%

MB

0

0%

BSH

11

100%

BSB

0

0%

2

Ketepatan

BB

0

0%

MB

0

0%

BSH

7

63,63%

BSB

4

36,36%

3

Kelentukan

BB

0

0%

MB

0

0%

BSH

7

63,63%

BSB

4

36,36%

Keterangan :

BB : Belum Berkembang (0% - 25%)

MB : Mulai Berkembang (26% - 50%)

BSH : Berkembang Sesuai Harapan (51% - 75%)

BSB : Berkembang Sangat Baik (76% - 100%)

Berdasarkan hasil di atas menunjukkan bahwa kemampuan motorik halus anak mengalami peningkatan. Peningkatan ini dilihat dari Kecermatan anak dalam kolase sebagian besar anak berada pada tahap Berkembang Sesuai Harapan (BSH) yaitu sebanyak 11 anak atau 100%,

Ketepatan dalam menyusun biji jagung sebagian besar anak juga berada pada tahap Berkembang Sesuai Harapan (BSH) yaitu sebanyak 7 anak atau 63,63%

Kelentukan dalam kolase sebagian besar anak berada pada tahap Berkembang Sesuai Harapan (BSH) yaitu sebanyak 7 anak atau 63,63%

No

Nama

Pra Tindakan

Siklus I

Siklus II

Jml skor

Per sentase

Kri teria

Jml skor

Per sentase

Kri teria

Jml skor

Per sentase

Kri

teria

1

Aqila

3

33,33

%

MB

4

44,44

%

MB

6

66,66

%

BSH

2

Alma

4

44,44

%

MB

5

55,55

%

BSH

7

77,77

%

BSB

3

Aufa

5

55,55

%

BSH

6

66,66

%

BSH

8

88,88

%

BSH

4

Adit

4

44,44

%

MB

5

55,55

%

BSH

6

66,66

%

BSH

5

Dehan

3

33,33

%

MB

4

44,44

%

MB

6

66,66

%

BSH

6

Diva

4

44,44

%

MB

5

55,55

%

BSH

7

77,77

%

BSB

7

Dendi

5

55,55

%

BSH

6

66,66

%

BSH

8

88,88

%

BSB

8

Evan

5

55,55

%

BSH

0

0%

BB

6

66,66

%

BSH

9

Kiki

3

33,33

%

MB

5

55,55

%

BSH

6

66,66

%

BSH

10

Mutia

3

33,33

%

MB

4

44,44

%

MB

6

66,66

%

BSH

11

Zahra

5

55,55

%

BSH

6

66,66

%

BSH

8

88,88

%

BSB

Rata-rata

40,74

MB

46,29%

BSH

68,51%

BSH

Tabel Perbandingan Hasil Belajar Antara Pra Tindakan, Siklus I dan Siklus II

Keterangan:

BB : Belum Berkembang (0% - 25%)

MB : Mulai Berkembang (26% - 50%)

BSH : Berkembang Sesuai Harapan (51% - 75%)

BSB : Berkembang Sangat Baik (76% - 100%)

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa kemampuan motorik halus pada anak kelompok B di TK Bhakti Mulia pada saat Pra Tindakan, Siklus I dan Siklus II adalah sebagai berikut:

Kemampuan motorik halus pada saat pra tindakan, anak yang berada pada kriteria BB ada 0 anak atau 0%; pada kriteria MB ada 7 anak atau 63,63% dan pada kriteria BSH ada 4 anak atau 36,36% dan pada kriteria BSB ada 0 anak atau 0%. Rata-rata kemampuan motorik halus anak di kelompok B di TK Bhakti Mulia pada saat pra tindakan diperoleh rata-rata sebesar 40,74% sehingga berada pada kriteria MB (Mulai Berkembang).

Kemampuan motorik halus pada saat siklus I satu kali pertemuan, anak yang berada pada kriteria BB ada 1 anak atau 9,09%; pada kriteria MB ada 3 anak atau 27,27%; dan pada kriteria BSH ada 7 anak atau 63,63% dan pada kriteria BSB ada 0 anak atau 0%. Rata-rata kemampuan motorik halus anak di kelompok B TK Bhakti Mulia pada siklus I satu kali pertemuan diperoleh rata-rata sebesar 46,29% sehingga berada pada kriteria BSH (Berkembang Sesuai Harapan). Ada sedikit peningkatan pada saat pra tindakan ke siklus I yaitu 5,55% dari 40,74% ke 46,29%

Kemampuan motoric halus anak pada siklus II satu kali pertemuan, anak yang berada pada kriteria BB ada 0 anak atau 0%; pada kriteria MB ada 0 anak atau 0%; dan pada kriteria BSH ada 7 anak atau 63,63% dan pada kriteria BSB ada 4 anak atau 36,36%. Rata-rata kemampuan motorik halus anak di kelompok B Bhakti Mulia pada siklus II satu kali pertemuan diperoleh rata-rata sebesar 68,51% sehingga berada pada kriteria BSH (Berkembang Sesuai Harapan). Ada sedikit peningkatan pada saat ke siklus I ke siklus II yaitu 22,22% dari 46,29% ke 68,51%.

Dari hasil perbandingan antara kemampuan motorik halus pada tabel pra tindakan, siklus I dan siklus II dapat digambarkan pada grafik sebagai berikut :

Diagram Perbandingan Hasil Observasi Tahap Pra Tindakan, Siklus I dan

Siklus II

Keterangan :

BB : Belum Berkembang ( 0% - 25%)

MB : Mulai Berkembang ( 26% - 50% )

BSH : Berkembang Sesuai Harapan ( 51% - 75% )

BSB : Berkembang Sangat Baik ( 76% - 100% )

d. Refleksi

Berdasarkan hasil observasi sesuai instrumen yang telah ditentukan, maka dapat diketahui bahwa setelah dilakukan penelitian terdapat 4 anak atau 36,36% yang sudah mencapai indikator keberhasilan dengan kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB) sedangkah 7 anak atau 63,63% dengan kriteria Berkembang Sesuai Harapan (BSH) masih belum mencapai indicator keberhasilan.

Hal ini didasari pada hasil penelitian siklus I sebesar 46,29%, sedangkan keberhasilan yang ditetapkan adalah 76% sehingga perlu diadakan siklus II. Dalam pelaksanaan siklus II yang dilakukan peneliti saat kegiatan kolase dengan menunjukkan bahwa kemampuan motorik halus anak telah meningkat menjadi 68,51% tetapi masih belum mencapai indicator pencapaian keberhasilan yang seharusnya >76%.

A. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang dilakukan selama dua pertemuan dalam 2 siklus yaitu Siklus I dan Siklus II menunjukkan bahwa kemampuan motorik halus pada anak melalui kegiatan kolase mengalami peningkatan.

Hasil pengamatan kemampuan motorik halus anak yang diperoleh peneliti sebelum dilakukan tindakan dan sesudah dilakukan tindakan pada Siklus I terjadi peningkatan tetapi, peningkatan tersebut belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditentukan oleh peneliti, sehingga masih perlu dilakukan tindakan penelitian Siklus II. Hal ini dikarenakan pada pelaksanaan tindakan Siklus I terdapat beberapa kendala, sehingga perlu adanya tindakan perbaikan pada Siklus II agar mencapai indikator keberhasilan yang telah ditentukan peneliti.. Hasil yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan peneliti kurangnya kemampuan motorik halus pada anak ditandai pada kecermatan anak dalam kolase yaitu anak-anak masih kurang rapi dalam kolase dengan biji jagung. Berdasarkan permasalahan di atas maka peneliti melakukan perbaikan pada siklus berikutnya dengan melakukan perbaikan yaitu dengan ampas kelapa yang berwarna-warni sehingga dapat menarik minat anak dalam kolase. Setelah dilakukan tindakan perbaikan pada Siklus II, dari Hasil pengamatan yang diperoleh dapat diketahui adanya peningkatan pada ketiga indikator dalam kemampuan motorik halus setiap anak. Pada indikator kecermatan, ketepatan dan kelentukan masuk dalam kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH). Hal tersebut terbukti bahwa pada kriteria kecermatan, anak dapat menyusun biji jagung dengan rapi. Pada kriteria ketepatan, anak mau kolase sesuai gambar dengan rapi dan pada kriteria kelentukan anak dapat menggerakkan jarinya dengan baik. Sebagaimana yang telah dijelaskan Sumantri (2005: 146) tujuan dari pengembangan keterampilan motorik halus adalah mampu mengembangkan kemampuan motorik halus yang berhubungan dengan keterampilan gerak kedua tangan, mampu menggerakkan anggota tubuh yang berhubungan dengan gerak jari jemari dan mampu mengkoordinasikan indra mata dan aktivitas tangan serta mampu mengedalikan emosi dalam beraktivitas motorik halus. Pada kegiatan kolase ini anak dapat dilatih kecekatan jari jemari, 108 koordinasi mata dan tangan serta kontrol emosi. Anak usia 5-6 tahun akan belajar mengendalikan emosi karena dalam kegiatan kolase anak dituntut untuk teliti dan sabar agar kolasenya rapi. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lem dan gambar. Pembelajaran kemampuan motorik halus melalui kegiatan kolase merupakan kegiatan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Kemampuan kolase dapat mengasah kemampuan motorik halus anak karena menggunakan tangan dan jari-jari demikian juga dengan koordinasi mata. Kegiatan kolase juga merupakan gerakan keterampilan yaitu keterampilan dalam menyusun . Gerakan dalam keterampilan ini bisa sempurna apabila adanya latihan. Selain itu kegiatan ini pula dilakukan melalui praktik langsung oleh anak- anak karena pembelajaran keahlian dalam hal keterampilan hanya bisa diperoleh dengan cara praktik.

B. Keterbatasan Penelitian

Penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan oleh peneliti dalam meningkatkan kemampuan motorik halus melalui kegiatan kolase pada anak kelompok B menunjukan setiap anak ada peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2. Untuk rata-rata keseluruhan menunjukan belum mencapai indicator pencapaian keberhasilan sehingga dalam pelaksanaan penelitian masih terdapat banyak keterbatasan, yaitu:Penelitian ini dalam 1 Siklus hanya dilakukan selama 1 kali pertemuan . dalam 2 siklus hanya dilakukan 2 kali pertemuan, karena hal tersebut anak-anak kurang maksimal dalam melatih kemampuan motoric halusnya.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan peneliti dapat disimpulkan bahwa kemampuan motorik halus melalui kegiatan kolase pada anak kelompok B di Siklus I mengalami peningkatan meskipun belum mencapai target keberhasilan yang sudah ditentukan oleh peneliti. Oleh sebab itu, penelitian dilanjutkan pada Siklus II.

Adapun hasil penelitian dapat diketahui dari pengamatan perkembangan pada tiap siklus yaitu kondisi pra siklus sebesar 40,74%, pada Siklus I sebesar 46,29% dengan peningkatan 5,55% dan pada Siklus II sebesar 68,51% dengan peningkatan 22,22%.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian di atas, peneliti memberikan saran sebagai berikut:

1. Bagi Peneliti

Peneliti harus bisa melanjutkan penelitian agar indikator pencapaian keberhasilan mencapai target serta dapat mengkreasikan bentuk dan warna anyamannya sehingga anak lebih tertarik dan pembelajarannya tidak membosankan.

2. Bagi Guru

Guru di TK Bhakti Mulia Mejasem hendaknya perlu mengembangkan kegiatan yang meningkatkan kemampuan motorik halus seperti kegiatan kolase. Guru bisa membuat bentuk kolasenya sesuai dengan tema sehingga pembelajaran yang dilakukan lebih menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak. Guru juga harus selalu memberikan perhatian dan motivasi kepada anak-anak baik itu verbal, fisik, ataupun hadiah/reward

DAFTAR PUSTAKA

Bambang Sujiono dkk, Metode Pengembangan Fisik, (Jakarta: Universitas Terbuka,2008),Christianti, Martha. "Anak dan bermain." Makalah pada kegiatan Jurnal Club Progdi PGTK UNY (2007), h.8

Elizabeth B. Hurlock. (1978). Perkembangan Anak. (Alih Bahasa: dr. Mex. Meitasari Tjandrasa & Dra. Muslichah Zarkasih). Jakarta: Erlangga.

Gde Putu arya Okta, Media dan Multimedia pembelajaran, ( Yogyakarta : Depublish,2017), hlm 4-5

Grissmer, David, Kevin J. Grimm, Sophie M. Aiyer, William M. Murrah, and Joel S. Steele. "Fine motor skills and early comprehension of the world: Two new school readiness indicators. Developmental psychology,Vol,46 No.5 (2010), h.1008

Hajar Pamadhi & Evan Sukardi. (2008). Seni Keterampilan Anak. Jakarta: Universitas Terbuka

Jhon W Santrock, Perkembangan Anak (Jakarta:PT Gelora Aksara Pratama,2007), h.216 Magill, Richard A., and Kellie G. Hall. A review Of The Contextual Interference Effect In Motor Skill Acquisition. Human movement science, Vol,9 No.3 (1990), h.241-289 Moeslichatoen, R. Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak. (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), h.22

Peraturan Menteri No 58 Tahun 2009 tentang Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Departemen Nasional Republik Indonesia.

Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini,(2014)

Richard Decaprio. (2013). Aplikasi Teori Pembelajaran Motorik di Sekolah. Jogjakarta: DIVA Press.

Sugiyono. (2005). Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Suharsimi, Suhardjono dan Supardi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT.Bumi Aksara.

Suharsimi Arikunto. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Bumi Aksara. Sukadiyanto. (1997). Penentuan Tahap Kemampuan Motorik Anak SD Edisi I TH IIIApril 1997 Majalah Olahraga. Yogyakarta: FPOK Yogyakarta.

Sumanto. (2005). Pengembangan Kreativitas Seni Rupa Anak TK. Jakarta:Depdiiknas. Sumantri. (2005). Model Pengembangan Keterampilan Motorik Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas.

Suyanto. 1997. Pedoman PelaksanaanPenelitian Tindakan Kelas (PTK)., Bagian satu. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud Proyek Pendidikan Tenaga Akademik Bagian Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (BP3GSD).

Usep Kustiawan, Pengembangan Media Pembelajaran Anak Usia Dini, ( Malang : Gunung

Samudra, 2016 ),hlm 14

Warniti, Ni Kadek Surya, I. Ketut Ardana, And Mg Rini Kristiantari. Penerapan Metode Pemberian Tugas Melalui Kegiatan Meronce Untuk Meningkatkan Perkembangan Motorik Halus Anak Kelompok B Tk Tirta Kumara Payangan. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Undiksha Vol,2, No.1 (2014), h. 81I.

Wayan Suwatra, AA Gede Agung. Penerapan Metode Pemberian Tugas dan Kegiatan 3m Untuk Meningkatkan Perkembangan Motorik Halus Anak Kelompok B TK Widya Kumara Sari Tunjung. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Undiksha 1.1 (2013).

LAMPIRAN Lembar observasi check List (√) “Pra Tindakan

No

Nama Anak

Aspek yang diamati

Ket

Kecermatan

Ketepatan

Kelenturan

3

2

1

0

3

2

1

0

3

2

1

0

1

Aqila

2

Alma

3

Aufa

4

Adit

5

Dehan

6

Diva

7

Dendi

8

Evan

9

Kiki

10

Mutia

11

Aqila

Keterangan :

0: Belum Berkembang;

1: Mulai Berkembang;

2: Berkembang sesuai Harapan; 3: Berkembang Melampaui Batas

LAMPIRAN

Lembar observasi check List (√) “Siklus I

No

Nama Anak

Aspek yang diamati

Ket

Kecermatan

Ketepatan

Kelenturan

3

2

1

0

3

2

1

0

3

2

1

0

1

Aqila

2

Alma

3

Aufa

4

Adit

5

Dehan

6

Diva

7

Dendi

8

Evan

sakit

9

Kiki

10

Mutia

11

Zahra

Keterangan :

0 : Belum Berkembang;

1: Mulai Berkembang;

2: Berkembang sesuai Harapan

3: Berkembang Melampaui Batas

Lembar observasi check List (√) “Siklus II

No

Nama Anak

Aspek yang diamati

Ket

Kecermatan

Ketepatan

Kelenturan

3

2

1

0

3

2

1

0

3

2

1

0

1

Aqila

2

Alma

3

Aufa

4

Adit

5

Dehan

6

Diva

7

Dendi

8

Evan

9

Kiki

10

Mutia

11

Zahra

Keterangan :

0 : Belum Berkembang;

1: Mulai Berkembang;

2: Berkembang sesuai Harapan; 3: Berkembang Melampaui Batas

Instrumen Pengumpulan Data pada Saat “Pra Tindakan”

No

Nama

Kecer

matan

Ketepa

tan

Kelentu

kan

Jml

skor

Persentase

Kri

teria

1

Aqila

1

1

1

3

33,33 %

MB

2

Alma

1

1

2

4

44,44 %

MB

3

Aufa

1

2

2

5

55,55 %

BSH

4

Adit

1

1

2

4

44,44 %

MB

5

Dehan

1

1

1

3

33,33 %

MB

6

Diva

1

2

1

4

44,44 %

MB

7

Dendi

1

2

2

5

55,55 %

BSH

8

Evan

1

2

2

5

55,55%

BSH

9

Kiki

1

1

1

3

33,33 %

MB

10

Mutia

1

1

1

3

33,33 %

MB

11

Zahra

1

2

2

5

55,55 %

BSH

Jumlah

44

Rata-rata

40,74%

MB

Keterangan :

BB

antara 0-25%

0 anak (0%)

MB

antara 26% -

50%

7 anak (63,63

%)

Aqila,Alma,Adit,Dehan,Diva,Kiki,Mutia

BSH

antara 51% -

75%

4 anak (36,36

%)

Aufa, Dendi,Evan, Zahra,

BSB

antara 76% -

100%

0 anak (0%)

Instrumen Pengumpulan Data pada Saat “Siklus I”

No

Nama

Kecermatan

Ketepatan

Kelenturan

Jumlah

Skor

Presentase

Kriteria

1

Aqila

1

2

1

4

44,44 %

MB

2

Alma

1

2

2

5

55,55 %

BSH

3

Aufa

2

2

2

6

66,66 %

BSH

4

Adit

1

2

1

4

44,44 %

MB

5

Dehan

1

2

1

4

44,44 %

MB

6

Diva

2

2

1

5

55,55 %

BSH

7

Dendi

2

2

2

6

66,66 %

BSH

8

Evan

0

0

0

0

0

BB

9

Kiki

1

2

1

4

44,44 %

MB

10

Mutia

1

2

2

5

55,55 %

BSH

11

Zahra

2

2

2

6

66,66 %

BSH

Jumlah

49

Rata-rata

45,37 %

MB

Total skor

BB

1 anak ( 0,75 %)

MB

6 anak (5,55 %)

BSH

4 anak (3,70 %)

BS

0 anak (0%)

Keterangan :

BB : Belum Berkembang ( 0% - 25%)

MB : Mulai Berkembang ( 26% - 50% )

BSH : Berkembang Sesuai Harapan ( 51% - 75% ) BSB : Berkembang Sangat Baik ( 76% - 100% )

Instrumen Pengumpulan Data pada Saat “Siklus II”

No

Nama

Kecer matan

Kete patan

Kelen turan

Jumlah Skor

Presentase

Kriteria

1

Aqila

2

2

2

6

66,66 %

BSH

2

Alma

2

2

3

7

77,77 %

BSB

3

Aufa

2

3

3

8

88,88 %

BSH

4

Adit

2

2

2

6

66,66 %

BSH

5

Dehan

2

2

2

6

66,66 %

BSH

6

Diva

2

3

2

7

77,77 %

BSB

7

Dendi

2

3

3

8

88,88 %

BSB

8

Evan

2

2

2

6

66,66 %

BSH

9

Kiki

2

2

2

6

66,66 %

BSH

10

Mutia

2

2

2

6

66,66 %

BSH

11

Zahra

2

3

3

8

88,88 %

BSB

Jumlah

74

Rata-rata

68,51%

BSH

Keterangan :

BB

antara 0-25%

0 anak ( 0 %)

MB

antara 26% - 50%

0 anak (0%)

BSH

antara 51% - 75%

7 anak (63,63%)

Aqila,Aufa,Adit,Dehan,

evan,Kiki,Mutia

BSB

antara 76% - 100%

4 anak (3,63%)

Alma, Diva,Dendi,Zahra

PERHITUNGAN

Perhitungan Pengolahan Data

Siklus 1

No

Nama

Perhitungan

NP = R X 100 SM

1

Aqila

4 x 100 = 44,44 %

9

2

Alma

5 x 100 = 55,55 %

9

3

Aufa

6 x 100 = 66,66 %

9

4

Adit

4 x 100 = 44,44 %

9

5

Dehan

4 x 100 = 44,44 %

9

6

Diva

5 x 100 = 55,55 %

9

7

Dendi

6 x 100 = 66,66 %

9

8

Evan

0

9

Kiki

6 x 100 = 66,66 %

9

10

Mutia

5 x 100 = 55,55 %

9

11

Zahra

6 x 100 = 66,66 %

9

Rata-rata

49 X 100 = 45,37 %

108

LAMPIRAN FOTO KEGIATAN

Foto kegiatan anak bentuk poci siklus 1

NO

NAMA ANAK

FOTO KEGIATAN

KETERANGAN

1

Aqila

2

Alma

3

Aufa

4

Adit

5

Dehan

6

Diva

7

Dendi

8

Evan

9

Kiki

10

Mutia

11

Zahra

Foto kegiatan anak bentuk poci siklus 1

NO

NAMA ANAK

FOTO KEGIATAN

KETERANGAN

1

Aqila

2

Alma

3

Aufa

4

Adit

5

Dehan

6

Diva

7

Dendi

8

Evan

9

Kiki

10

Mutia

11

Zahra

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Yang bertandatangan di bawah ini:

Nama : CHRISTINA ESTHI SETYANINGSIH

NIM PPG : 2301146034

Prodi/Jurusan : Pend. Guru PAUD - PPG

Universitas : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF.DR.HAMKA

Menyatakan bahwa karya berupa Penelitian Tindakan Kelas dengan judul “PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK MELALUI KEGIATAN KOLASE PADA ANAK KELOMPOK B TK BHAKTI MULIA KECAMATAN KRAMAT KABUPATEN TEGAL” merupakan karya sendiri

Apabila dikemudian hari terbukti karya tersebut bukan merupakan karya sendiri, maka saya bersedia diproses secara hukum untuk menerima sanksinya.

Tegal, 15 November 2022

Christina Esthi Setyaningsih,SEM,S.Pd

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post