Endang Dwi Haryanti

Perjalanan hidup yang menempaku, mengantarkan ke blog gurusiana ini Walau terlambat memulai semoga tetap berarti. Menulis adalah wisata hati, tempat bebas unt...

Selengkapnya
Navigasi Web
HATI YANG LUKA (13) (TTG-365-H-317)

HATI YANG LUKA (13) (TTG-365-H-317)

@Episode 13

“Ayo masuk Ris, beginilah rumah bude, rumah kampung sudah reyot, semoga kamu bisa menyesuaikan diri,” kata bude sambil mengantarkan Risna ke kamar.

“Iya bude , ga apa-apa, sudah diberi tumpangan Alhamdulillah, kalau tidak ada bude dan Bimo mungin saya akan menjadi gelandangan.

“Ya…, Allah mempertemukan kita untuk saling mengisi dan melengkapi, semua ada hikmahnya, sudah kamu istirahat dulu, jangan lupa sholat Maghrib,” bude meninggalkan Risna di kamar. Kamar ukuran 2x3, dengan dipan kecil untuk satu orang dan rak baju juga meja kecil dan bangku dari kayu. Cukup untuk Risna menaruh penat, ada meja unutk laptopnya, dia bisa menuang segala resah di hatinye ke dalam tulisan.

Sejak ibunya meninggal 5 tahun yang lalu, Risna selalu menghibur hatinya dengan menulis, dia berdialog dengan ibunya dalam tulisan, atau berdialog dengan Allah. Sebelum menikah lagi, ayahnya cukup perhatian dan sayang padanya. Namun semenjak ayahnya membawa istri baru beserta anak tiri yang sebaya dengannya, rumah itu seperti neraka baginya. Bahkan di luar rumahpun hidupnya selalu terancam oleh dua wanita jahat tersebut.

Pernah suatu kali saat dalam perjalanan ke kampus naik angkot, ketika mau membayar dompetnya tidak ada di dalam tas beserta Hpnya. Padahal dia ingat betul sudah memasukkan kedua barang tersebut kedalam tas. Dia turun dari angkot dengan mendapat omelan dari supir,

"Cantik-cantik nipu, alasan dompet ketinggalan, basi," kata sopir, dan Risna hanya meminta maaf saja, percuma melawan, dia memang salah. Risna pulang berjalan kaki dan sesampai di rumah dia mendapati dompet dan Hpnya sudah terendam di bak mandi. Dia mengadu ke papanya, tetapi papanya tidak percaya,

“ Paling kamu sendiri yang teledor, jangan suka memfitnah," kata papanya, Risna melotot ke saudara tirinya yang tertawa mengejeknya. Semenjak itu, dia menganggap tidak punya siapa-siapa lagio selain Allah. Namun mau pergi dari rumah dia masih belum punya keberanian. Saat ini, kepergiannya suatu keharusan, akan dia ikuti kemana Allah akan menuntunnya.

“Ris, Bimo, ke sini, bude udah masak nih, kita makan bareng yuk,” kata budhe sambil menata makanan di atas meja makan sederhana. Nasi panas, tumis kacang panjang campur toge, ikan asin dicabein, dan goreng tempe.

“Wah, nikmat banget kelihatannya ini budhe, bagaimana kalau aku nambah nanti,” kata Bimo sambil menyendok nasi ke piring.

“Nambahlah Bimo, nasi cukup buat kita bertiga,” kata bude sambil menyendokkan nasi buat Risna, sebab gadis itu diam saja, mungkin masih memikirkan nasibnya.

“Ini Ris makan dulu,” bude menyodorkan nasi yang sudah berisi lauk pauk, Risna malah menerima piring sambil menangis, dia teringat akan ibunya. Hanya ibunya yang memperlakukan dia seperti itu. Semenjak ibunya meninggal, tak satupun yang memperhatikannya. Malah dia yang selalu melayani bapaknya, kemudian bertambah melayani ibu dan saudara tirinya. Dia sudah persi diperlakukan seperti babu di rumahnya sendiri. Dia lalu ingat kisah Cinderela, tapi Cinderela bertemu pangeran dan ada peri cantik yang selalu menolongnya. Sedangkan Risna, dia justru terpuruk, memikirkan nasibnya, bagaimana kalau dia hamil beneran, apa yang akan terjadi dengan dirinya. Pikirannya buntu, sehingga nasi yang sudah dihadapannya hanya dia mainkan dengan sendoknya saja. Sedangkan Bimo sudah tandas isi piringnya, dan minta tambah dengan bude. Bimo dan bude berpandangan sejenak dan memandang Risa bersamaan.

“Mbak, itu makanan kalau ga dimakan nangis lho, ga masuk surga nanti, ayo makan dulu, biar ada kekuatan untuk menghadapai hari esok ,” Bimo menasehati Risna.

“Iya Ris, makanlah dulu, bude masak khusus buat kamu lho,” bude memandang Risna, dan Risna mulai menyendok makanannya, sambil menangis.

Selesai makan, Risna membantu bude membereskan meja makan, lalu mereka duduk di ruang tamu, diam tiada suara, semua larut dalam pikiran masing-masing, hanya Bimo yang sesekali menghembuskan asap rokok dari bibirnya.

#Depok, 14 November 2022

#EDH

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Kereeen cerpennya, Bunda. Salam literasi

14 Nov
Balas

Terimakasih pak Saroni

15 Nov

Duhhh...Risna tetap kuat ya? Yakinlah Tuhan akan menolongmu

14 Nov
Balas

Risna sudah biasa jatuh bangun bu, tks oma cantik

15 Nov

Kisah yang memilukan, kayaknya ngga ada baiknya ya saudara tiri. keren Bu Endang

14 Nov
Balas

Saudara tiri lain ayah, lain ibu ... pak, tks ya

15 Nov

Siip kisahnya. Lanjut, Bu Endang. Salam sukses.

15 Nov
Balas

Terimakasih bu Cicik, salam sukses kembali

15 Nov

mantap keren cadas... cerpen keren menewen... salam Literasi sehat sukses selalu bunda EDH bersama keluarga tercinta

14 Nov
Balas

Terimakasih pak Sugiharto, aamiin salam sukses kembali

15 Nov



search

New Post