Endang Dwi Haryanti

Perjalanan hidup yang menempaku, mengantarkan ke blog gurusiana ini Walau terlambat memulai semoga tetap berarti. Menulis adalah wisata hati, tempat bebas unt...

Selengkapnya
Navigasi Web
HATI YANG LUKA (TTG 365-H-315)

HATI YANG LUKA (TTG 365-H-315)

 

@Episode 12

Hari sudah sore, budhe Surti sudah bersiap-siap akan pulang, kali ini pulangnya tidak sendiri lagi, ada Risna yang akan ikut. Pembicaraan diantara mereka belum selesai, terkait masalah Risna. Setelah selesai berberes warung, mereka pulang naik angkot tidak jauh dari terminal. Hanya saja koper Risna yang cukup besar agak repot masuk ke angkot, dan menjadi tatapan aneh penumpang. Maklum ini di desa, ada yang aneh sedikit pasti menjadi ahan gunjingan.

Tak lama mereka duduk, angkot berhenti ada penumpang masuk dan duduk di depan budhe Surti.

“Eh budhe, baru pulang budhe, ini siapa cantik sekali,” tanya wanita paruh baya yang dandannya sedikit menor.

“Iya baru pulang, ini ponakanku mau menemaniku di sini, ibunya sudah meninggal,” jawab budhe sedikit tidak senang. Bicara dengan wanita ini harus ekstra hati-hati, Maritem terkenal tukang gossip dan kepo dengan urusan orang. Meskipun mamanya Risna sudah lama meninggal, tapi setidaknya budhe tidak berbohong, sebab kalau berbohong akan sulit sendiri nanti mempertahankan kebohongannya.

“Kalau preman terminal ini apanya budhe?,” Maritem kembali bertanya sambil menunjuk Bimo.

“Nama saya Bimo bu, saya juga ponakan budhe, ada apa bu tanya-tanya tentang saya?,” Bimo menjawab ketus, tidak suka dengan wanita itu.

“Waduh galak benar ponakan budhe Surti, saya cuma tanya saja, takut kecopetan,” wanita itu semakin menjadi. Bimo sudah geram, kalau laki-laki sudah melayang tinjunya,ini perempuan, ibu-ibu pula, jadi Bimo hanya bisa menahan emosi.

“Kalau bicara mulutnya dijaga bu, nanti ibu susah sendiri,” kata Bimo tanpa ekspresi. Budhe mengusap punggung Bimo agar reda amarahnya. Dan wanita itu mencebik, sambil ngedumel, “ heem … copet dibilang copet kok marah”, budeh Surti segera menahan duduk Bimo agar tidak emosi.

“Ayuk kita turun, sudah sampai,” kata budhe sambil menarik tangan Risna, dan Bimo mengikuti sambil menurunkan koper. Maritem senyum-senyum melihat mereka turun. Wah bakal ada berita baru nih pikirnya, gossip bakal seru, hatinya senang bakal ada hiburan di wag kampung.

#Depok, 12 November 2022

#EDH#

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Kereeen cerpennya, Bunda. Salam literasi!

12 Nov
Balas

Terimakasih pak Dede, salam literasi

13 Nov

Wah, Bu Maritem bakal meramaikan suasana, nih... KLanjut, Bu Endang. Salam sukses.

12 Nov
Balas

Haha ... pengin dengar gosipnya Maritem ya bu, .... salam sukses kembali

13 Nov



search

New Post