HARMI CAHYANI

English Teacher. Penulis novel "Ashley : Somebody Help me!''. Pecinta Kucing dan Zombie 🍀...

Selengkapnya
Navigasi Web
Menunggu Hujan Bersama Bapak

Menunggu Hujan Bersama Bapak

Idris menggenggam tangan bapak. Hari mulai gerimis. Tandanya mereka harus segera mencari tempat untuk berteduh. Kakinya sudah terasa melepuh karena sudah seharian mencoba berjalan menawarkan kerupuk. Satupun belum ada yang laku. Idris berusaha menguat-nguatkan hatinya. Tak ingin menangis di depan bapak. Wajah sendunya bisa-bisa membuat bapak bersedih lagi. Lelaki tua itu sudah terlalu banyak menahan beban di kedua bahunya. Dan Idris sangat paham. Tidak hanya bahu. Namun hati bapak juga penuh himpitan. Akan kerasnya kehidupan. Terlebih saat munculnya serangan virus yang membuat orang-orang kecil seperti dirinya semakin tak berdaya.

Perutnya mulai semakin lapar. Rasa lapar sudah menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun. Namun tidak pernah separah ini. Sudah 3 hari mereka hanya memakan kerupuk dicampur dengan sisa nasi. Yah..sisa nasi yang mereka temukan di rumah makan. Pedih hati Idris. Seperih perut kosongnya yang minta segera diisi. Badannya terasa lemas.

Hujan menghantarkan mereka ke sebuah warung kosong yang ternaungi pohon Tanjung. Idris menepuk-nepuk tubuh bapak yang terkena air hujan.

"Dingin,pak?" Tanya Idris. Ditatapnya Bapak yang mengenakan kaos lengan panjang putih usang dan celana panjang birunya. Bapak menggeleng.

"Kau lapar, nak?" Tanya Bapak. Tidak memikirkan dirinya. Ada sesal dihatinya tak bisa memberikan kehidupan yang layak pada putera tunggalnya. Hanya Idris sajalah yang menjadi penyemangat hidupnya kini. Sejak ditinggal pergi istrinya 3 tahun lalu, nyaris ia lupa dan ingin cepat pergi jua. Namun demi Idrislah sampai hari ini ia masih bertahan.

Idris hanya tersenyum. Tidak menjawab. Anak laki-laki berusia 13 tahun itu melepas sandal jepitnya yang tipis. Duduk berjongkok, melepas lelah. Ada rasa gundah di hatinya. Jika satu bungkus kerupukpun tak ada yang laku hari ini. Haruskah mereka kembali ke rumah makan kemarin untuk sekedar meminta nasi. Kadang ia merenung, mengapa nasib mengantarkannya ke kehidupan keras seperti ini. Betapa ia iri jika melihat anak-anak seusianya bisa makan beramai-ramai di kafe dan rumah makan dengan menu yang lezat. Idris tertegun. Mungkinkah suatu saat dia bisa melawan kemiskinan ini. Mungkinkah orang miskin akan terus miskin. Sungguh tak terbayangkan jika harus merasakan lapar di sepanjang hidupnya.

Saat Idris dan bapak termangu-mangu sambil menatapi derasnya air hujan yang turun. Datang dua muda-mudi dengan ber-moge (motor gede) ikut berteduh bersama mereka. Bapak menggeser buntalan plastik jualannya.

Awalnya dua muda-mudi itu tak menghiraukan Bapak dan Idris. Mereka asyik bercerita sambil terus melihat ke arah layar hp. Sang pemuda tampak gagah dengan jaket kulitnya. Usianya mungkin sekitar 20 tahunan. Kulitnya putih bersih. Dan sang wanita juga demikian. Masih muda dengan polesan make up yang cukup tebal. Idris bisa merasakan dua orang ini adalah orang berada. Semua terlihat dari barang-barang yang mereka pakai.

Hujan masih deras mengguyur kota. Belum ada tanda-tanda akan segera berhenti. Idris dan bapak semakin lapar dan kedinginan. Tak lama tatapan sang pemuda terpaku ke arah buntalan plastik berisi kerupuk. Diapun memasukkan hp-nya ke saku.

"Jual kerupuk,ya pak?" Tanya pemuda itu. Bapak tersentak dari lamunan. Demikian juga dengan Idris. Buru-buru Idris menjawab, "Iya, kak. Silahkan kak kali berminat. Lima ribu saja," Idris menawarkan dagangannya.

Pemuda itu menyerahkan uang sepuluh ribuan dan mengambil dua kantong kerupuk. Luar biasa bahagianya Idris. Semangatnya mulai timbul kembali. Uang itu ia serahkan kepada bapak. Teman si wanita yang sedari tadi tidak terlalu menghiraukan Idris dan bapak, berbisik ke si pemuda. Entah apa yang mereka bisikkan. Tampak si pemuda keberatan air mukanya, namun si wanita tampak memaksa. Setelah cukup lama berbisik-bisik dan terlihat sedikit saling adu mulut. Akhirnya si pemuda memberanikan diri untuk membuka obrolan dengan Idris dan bapak.

"Maaf, Pak. Dik. Sudah lama ya jualan?" Pemuda itu membuka suara. Dan Idris memperhatikan bagaimana si teman wanita dari kakak yang baik ini, mengangkat hp nya ke arah dirinya dan bapak. Mungkin mau direkam, pikir Idris.

"Sudah, nak. Dulu saya ini berladang. Tapi sudah tidak lagi karena lahan sudah tidak ada, sudah dibangun perumahan. Sempat buka warung kecil-kecilan tapi terpaksa tutup karena rugi dan kurang modal" Kata bapak.

Si pemuda mengangguk-angguk. Si teman wanita terus mengarahkan hp nya ke arah bapak. Idris cuma diam. Tak berani berkata-kata. Kang Heru tetangganya pernah cerita. Zaman sekarang orang-orang miskin seperti mereka, biasanya bisa dapat rezeki dari orang-orang yang bikin video. Idris juga tidak mengerti mengapa bisa seperti itu. Lucu sekali, pikir Idris. Dan Kang Heru pernah mengalaminya. Saat sedang menarik gerobak es kelapanya, ada segerombolan anak muda dari mobil yang tiba-tiba mencegatnya. Kang Heru sempat panik. Karena mereka semua mengarahkan hp ke arahnya. Dan tak disangka setelah ditanya-tanya sedikit, salah seorang dari pemuda itu memberikan uang seratus ribu kepadanya. Betapa bahagianya Kang Heru. Bahkan dari cerita mulut ke mulut sesama pedagang, ada yang beruntung dikasih uang sampai 1 juta.

Bukan main besarnya harapan Idris jika memang hari ini adalah hari keberuntungannya dan bapak. Idris sebenarnya malu. Bagaimana kalau nanti wajahnya dan bapak ditonton oleh orang-orang? Ah, biarlah. Pikir Idris. Itu tidak penting. Semoga nasibnya dan Bapak bisa seperti kang Heru, bisa dikasih uang untuk sekedar membeli beras.

"Oh begitu. Yah memang sekarang lahan pertanian semakin sempit," Kata si pemuda. Dia lantas melirik ke arah si wanita. Dan wanita itu mengarahkan jempol ke arahnya. Setelah itu tidak ada lagi perbincangan di antara mereka. Si pemuda dan si wanita asyik dengan hp-nya masing-masing. Idris menggaruk pipinya. Dengan sebongkah harapan yang masih ada. Semoga hari ini hari keberuntungannya. Semoga hari ini hari keberuntungannya. Begitulah doa Idris dalam hati.

Namun harapan tinggallah harapan. Setelah hujan mereda, tanpa pamit si pemuda dan teman wanitanya bergegas untuk pergi. Meninggalkan bapak dan Idris tanpa basa-basi. Ada sedikit kecewa menyelip di hati Idris. Ceritanya tak seindah cerita dari Kang Heru. Ah sudahlah. Alhamdulillah setidaknya mereka sudah membeli dua bungkus kerupuk mereka. Pikir Idris menghibur diri.

Di tengah suasana yang sejuk diguyur hujan, bapak dan Idris melanjutkan langkah.

"Beli nasi, pak?" Tanya Idris. Bapak tersenyum mengangguk. Setidaknya lima ribu rupiah bisa dipakai untuk mengganjal perut mereka berdua. Agar ada tenaga sedikit menjajakan kerupuk. Tak jauh dari mereka ada sebuah warung makan kecil. Seorang ibu tua tengah melayani seorang pembeli.

"Bu, kami mau membeli nasi. Lima ribu rupiah saja. Maaf bu uang belum cukup. Tak apa dapat yang sekadarnya," Kata bapak tersenyum.

Ternyata ibu tua itu sangat baik hati. Dengan sigap ia mengambil dua piring. Tak lama memenuhi piring itu dengan nasi penuh, lengkap dengan sayur, sambal, seiris tempe bacem dan sepotong ikan.

"Nak, kalau kau mau lauk yang lain. Pilih saja," Kata si ibu. Idris terdiam.

"Tidak usah, bu. Kami hanya sanggup membayar lima ribu" Kata bapak terbata. Harusnya mereka hanya dapat nasi yang disiram kuah. Tapi ibu ini memberi banyak.

"Tidak apa. Makan saja" Sahut ibu itu lagi. Bapak mengucapkan terima kasih dengan penuh haru.

Bapak dan Idris makan dengan lahap. Rasa lapar dan haus membuat mereka lupa jika harus makan pelan-pelan. Dalam sekejap piring mereka bersih. Idris pun menghabiskan air putih dalam gelas. Ludes tak bersisa. Wajahnya berseri. Ia sangat bersyukur bisa makan dengan nikmat hari ini. Demikian juga dengan bapak.

Saat membayar, bapak turut menyerahkan beberapa bungkus kerupuk untuk si ibu. Ibu itu menolak dengan sopan. "Tidak usah, pak"

Bapak tampak kebingungan. Belum sempat berkata-kata, pengunjung warung nasi yang sedari tadi duduk bersebelahan bersama mereka, ikut menimpali.

"Pak, kerupuknya saya beli semua. Kebetulan istri saya juga dagang di warung rumah kami" Kata bapak itu tak kalah ramah. Bapak itu ternyata adalah tukang parkir di salah satu swalayan dekat situ. Bapak terperangah. Dagangannya di borong habis hari itu. Betapa bahagia hatinya. Berkali-kali bapak dan Idris mengucapkan terima kasih dan mendoakan 2 orang baik hati itu.

Sepanjang jalan Idris tersenyum. Ia bahagia Allah mengabulkan doanya. Dengan cara yang berbeda. Idris berjanji, ia juga akan menjadi seseorang yang baik dan penolong sebagaimana bapak dan ibu baik hati tadi. Tak peduli seperti apapun kondisinya kelak. Kaya ataukah miskin.

Hujan bersama bapak. Selalu memberikan makna dan rasa tersendiri di hatinya.

TAMAT

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yag menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik… Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal." (Q.S Ali-Imran: 133-136)

🍀Khatulistiwa, 9 Juli 2020🍀

#Tantangan menulis hari ke-11

#tulisan ke-18

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Koq tamat bun....bagus ceritanya.

10 Jul
Balas

Hmm... Bersambung.

10 Jul
Balas

Keren bund...Ditunggu lanjutannya...Salam..

09 Jul
Balas

Bagus Bu. Salam literasi.

10 Jul
Balas

Semangat Bu bagus ceritanya lanjut

10 Jul
Balas

Bagus ceritanya bunda, ditunggu lanjutannya

10 Jul
Balas

ide ceritanya bagus Bu, ditunggu selanjutnya

12 Jul
Balas

Simpel tp pasti...

11 Jul
Balas

Harus'a bersambung..Bukan tamat

10 Jul
Balas

Sabarrrr

11 Jul

Sabarrrr

11 Jul



search

New Post