HARMI CAHYANI

English Teacher. Penulis novel "Ashley : Somebody Help me!''. Pecinta Kucing dan Zombie 🍀...

Selengkapnya
Navigasi Web
Rumah di Seberang

Rumah di Seberang

          Sore itu, jam di dinding rumah hampir menunjukkan pukul 5 sore. Dena tengah asyik bercengkrama dengan Diandra, puterinya yang berusia 4 tahun. Mereka berada di teras balkon rumah. Lewat lantai 2 itu, Diandra senang sekali bisa melihat-lihat ke arah mana saja. Sesekali ia melambai ke arah pesawat yang terbang semakin rendah menuju bandara. Sesekali pula gadis berambut hitam mengkilap itu menunjuk-nunjuk ke arah layang-layang yang dimainkan anak-anak komplek di tanah lapang. Cuaca cerah. Dena mencubit lembut pipi puterinya saat riang menyanyikan lagu "Jhonny Jhonny yes Papa". 

        Ini adalah hari ke -3 mereka menginap di rumah Nenek Diandra. Selama ini mereka berada di kota yang berbeda. Ini adalah rumah masa kecil Dena. Namun semenjak menikah dan ikut suaminya bekerja di kota yang berbeda, Dena harus ikut suaminya dan sudah mulai jarang kembali ke rumah ibunya. Dan Dena sangat menikmati hari-harinya disini untuk bernostalgia. Hal lain yang dia rindukan adalah sate ayam madura di komplek perumahan mereka. 

       Saat tengah asyik melayangkan pandangannya kesana kemari, Dena tertegun. Di seberang sana, dari arah rumah milik sahabat kecilnya Wita, Dena melihat beberapa orang tengah melambai ke arahnya. Mereka berkumpul di ruang lantai 2. Rumah Wita memiliki jendela kebiruan tembus pandang yang lebar dan tinggi. Tampaknya juga sedang menikmati suasana sore sebagaimana dirinya.

      Dena belum membalas lambaian mereka. Telpon selulernya berdering. Suaminya menelpon.

      " Assalamualaikum, Ma. Lagi apa?"

      "Lagi main nih pa, di teras lantai 2. Sama Diandra" Jawabnya. Matanya tertuju lagi ke arah rumah Wita. Mereka masih berkumpul disana. Ada Wita, Om, Tante, dan Windu. Wita masih selalu sama dengan masa kecilnya. Berambut pendek dengan potongan Bob, berponi rapi di kening. Dena selalu menyukai tawa ramah Wita. Senyumnya selebar Ruth Sahanaya. 

      "Papa jemput lusa,kan?" Tanya suaminya lagi. Dan Dena mengiya-kan.

      "Gimana, kamu dah nangkring di sate ayam depan komplek, belum?" Canda suaminya. Dia hapal betul Dena. Sate ayam bibi madura depan komplek adalah hal yang selalu ia sebut berulang-ulang tiap pengen makan sesuatu. Belum ada yang seenak itu, katanya. 

      "Sudah, pa. Itu hal pertama yang mama kejar saat nyampe di rumah Ibu." Kata Dena lagi.

      "Lusa traktir aku, ya. Dan bilang Ibu aku pengen makan rawon," Kata suaminya lagi. "Eh udah dulu ya,ma. Papa masih di jalan. Kalo udah sampai rumah, kita video call ya sama Diandra. Kangen banget Papa sama dia" 

      Dan kami saling menutup telepon. Diandra kini  asyik duduk di lantai memainkan slime bikinan Mamanya tadi siang. Slime yang dibuat Dena dari bahan tepung tapioka. Murah meriah dan aman.

      Dena melemparkan pandangannya kembali ke seberang rumah Wita. Sudah terlihat sepi. Walau fajar sudah mulai menyingsing, lantai 2 rumah Wita masih terlihat jelas. 

      Dan Dena ingat sekali bagaimana dia dahulu bersama-sama Wita, berangkat sekolah bersama-sama. Selama SD mereka selalu juara kelas walau berlainan kelas. Namun Dena belum pernah bisa sekalipun mengalahkan nilai rata-rata Wita. Masa kecil mereka sangat bahagia. Bermain di parit perumahan, untuk melayarkan perahu kertas. Bermain masak-masakan dengan aneka bunga di halaman. Atau berpetualang dengan sepeda, menerobos gang-gang kecil sepulang sekolah, hingga maghrib hampir tiba. Dena dan Wita selalu bersama. Sampailah mereka masuk SMP, merekapun berpisah sekolah. 

      Walau pintar dan dari keluarga kaya, Wita tak  pernah sombong. Windu, adik laki-laki Wita juga tak kalah bersinar. Windu diterima di STPI (Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia). Windu juga menjadi salah satu lulusan terbaik STPI dari jurusan penerbang, dan sukses mengantongi sertifikat  CPL (civil pilot lisence).

      Dan tahun demi tahun berlalu. Walau tak selalu bersama lagi seperti dulu, mereka tetap saling mengunjungi jika ada waktu. Setiap lebaran tiba, merekapun sempat berkumpul sejenak selesai sholat 'id di masjid perumahan. Tak ada yang berubah dari mereka semua. Dena tetap merasakan kehangatan dan keramahan keluarga Wita. Wita juga sudah sukses menjadi founder sebuah brand skincare, dan kerap sibuk melakukan Training Product Knowledge dan Digital Marketing dari kota ke kota. Keliling nusantara.

      Memang sudah jarang Dena bisa bercengkrama dengan Wita sejak mereka punya kehidupan masing-masing. Dan Wita tetap saja masih menjomblo di usianya yang sudah kepala 3. Dia asyik dengan dunia karirnya. Berbeda dengan Dena yang sudah dikaruniai seorang puteri lucu. Dan insya Allah anak kedua yang kini ada di rahimnya. Calon adik Diandra.

      Tak akan pernah Dena lupakan saat pernikahannya, Wita menyempatkan diri untuk hadir. Padahal dia sedang ada acara penting di Kendari. Langsung memesan tiket pesawat demi bisa menemui dan memeluk Dena di hari resepsi.

      "Awas ya kalau tahun depan belum menyusul," Bisik Dena saat Wita memeluknya. Usia mereka saat itu 28 tahun. Sudah sangat matang untuk menikah. 

      "Ngga janji, Na. Jodoh, rezeki dan maut itu urusan Allah, sayang." Kata Wita, tertawa lebar. Mirip senyuman khas Ruth Sahanaya. 

      Dan begitulah. Wita  yang ramah, yang baik. Yang karirnya cemerlang. Yang bagi Dena, masih terbentang panjang cita dan karyanya. Dan Dena masih sangat ingin melihat Wita bahagia seperti dirinya. Dengan suami dan anak-anak yang lucu. Dena sangat ingin anak-anaknya bisa playdate dan berkumpul bersama anak-anak Wita. Mereka jalam bareng, dan mengenang masa-masa kecil bersama.  

      Namun semua harap Dena pupus sudah. Kejadian 2 tahun lalu, bagai petir menyambar telinga Dena. Pertengahan Februari, kabar duka datang. Wita beserta Windu, Om dan Tante dikabarkan menjadi korban di sebuah tabrakan beruntun sebuah jalur di Somerset, Inggris. Wita dan keluarga sempat dilarikan ke salah satu Rumah Sakit di Bristol.

      Yang paling menyakitkan bagi Dena adalah, saat terkuaknya fakta bahwa hari itu adalah hari pertemuan Wita sekeluarga, dengan keluarga calon suaminya. Karena ternyata tahun itu adalah tahun akan dilangsungkannya pernikahan Wita. Sungguh ironi. 

       Dan hari mulai gelap menuju maghrib. Dena sekali lagi melayangkan pandangan ke lantai 2 rumah Wita. Kosong. Suram. Namun jendela berkaca biru masih kokoh tegak. Seolah terus berdiri disana, agar Dena bisa terus menatapnya.

      "Yuk, nak. Masuk" Lirih suara Dena ke puterinya.

      Dan terngianglah kembali ucapan Wita di hari pernikahan Dena, 

      "Ngga janji, Na. Jodoh, rezeki dan maut itu urusan Allah, sayang"

 

T A M A T

🍀🍀🍀

 

Khatulistiwa,  7 Juli 2020

#Tantangan menulis hari ke-9

#Tulisan ke-16

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Sangat terharu membaca artikel ibu Harmi

08 Jul
Balas

Ceritanya mengalir...enak dibaca

07 Jul
Balas

Benar bun.. jodoh, rezeki dan maut urusan Allah

07 Jul
Balas

Crita mengalir indah, terharuuuu...sukses sllu

08 Jul
Balas

kita hanya bs berencana tapi Allah yang menentukan takdir..terharu membaca kisah ini

07 Jul
Balas



search

New Post