Ibrahim Guntur Nuary

Peraih Penghargaan Golden Generation 2017 dan Wisudawan Berprestasi 2018 yang diselenggarakan oleh IAIN Syekh Nurjati Cirebon, kolumnis diberbagai media massa, ...

Selengkapnya
Navigasi Web
BATAS GARIS KUNING
riskirana.com

BATAS GARIS KUNING

Menunggu merupakan hal yang memang kadang disukai oleh seseorang, terkadang juga adalah hal yang sangat membosankan. Fany harus menunggu kedatangan kereta Krl setiap 20 menit untuk menuju kampusnya. Dengan tas warna biru bergambar Doraemon dibagian depan dan gantungan kecil doraemon serta tumpukan file dan buku catatan yang dipeluk eratnya membuat Fany terlihat anggun dan terlihat seperti sangat sibuk sekali. Bagaimana tidak sibuk, Fany harus menghabiskan setiap minggu untuk bekerja dan kuliah, di hari senin sampai jum’at ia bekerja, di hari sabtu ia kuliah, dan di hari minggu adalah jadwal Fany rebahan. Ia tidak ingin diganggu sama sekali oleh siapapun.

Terlihat dipapan pengumuman Led bahwa lima menit lagi kereta akan datang. Fany bergegas berdiri untuk mencari pintu masuk yang sepi supaya tidak berdesakkan, ketika hendak masuk ke kereta. Tiga menit sebelum kereta datang, tiba-tiba ada seorang yang memanggilnya dari pintu masuk loket. Tak lain tak bukan adalah Andi, Andi memanggil Fany dengan nada yang sangat keras sekali, hingga semua orang yang menungu kereta tertuju pada orang yang bersuara keras itu.

“Fanyyyyy, tungguuuuuu” Teriak Andi salmbil melambaikan tangan

“Ya ampun, bisa enggak sih jangan teriak di depan umum, malu-maluin aja” Bisik Fany dalam hati.

“Kamu enggak baca Wa aku yah? Kan aku ngajak kamu bareng” sambil menunjukkan pesan Wa ke Fany “Tadi aku ke rumah kamu, kata ibumu kamu udah berangkat” sambil menepuk jidat.

“Aku males baca Wa kamu, abisnya kalo ngajak bareng telat mulu” sambil melengoskan muka “Jangan teriak kaya tadi lagi yah, bikin malu aja” Fany menyubit Andi manja.

“Baru juga dateng udah disemprot dan kena cubit pula, kamu mah gitu, kerjaannya ngomel mulu” Andi meledek Fany.

“Gimana enggak ngomel, kamu tiap minggu gini terus, dateng telat mulu” Fany melotot kearah Andi.

“Iyah maafin aku yah” Andi melontarkan senyum tipis dengan perasaan bersalah.

Ketika sedang asyik mengobrol, kereta pun akhirnya datang. Andi memegang erat tangan Fany di garis kuning batas antara kereta dan penumpang yang ingin naik. Penumpang kereta tidak boleh berdiri melebihi garis, karena sangat bahaya, kemungkinan besar akan terseret oleh kereta. Fany sedikit kaget tangannya dipegang erat oleh Andi, seketika itu juga muka Fany memerah dan senang. Kereta berhenti lalu pintu akan terbuka secara otomatis, mereka berdua masuk ke kereta dan duduk berdampingan. Suasana di kereta yang cukup bersih dan sepi penumpang membuat mereka berdua leluasa untuk berbicara banyak hal. Fany mencoba menyembunyikan kesenangannya dari Andi dengan muka masamnya.

“Masih cemberut aja sih neng, kan aku udah minta maaf” Andi mencoba merayu Fany.

”Terserah aku dong, mau cemberut, mau enggak kek” Jawab Fany sambil fokus ke catatan bukunya.

“Tumben baca buku catatan, mau ulangan?” Tanya Andi menelisik “Ehh tunggu dech, mukamu kok memerah gitu” Andi kembali mengejek Fany yang sedang fokus membaca.

“Tadi kebanyakan pake, blust on, jangan berisik aku lagi baca” Dengan muka masam, Fany membulak balikkan halaman bukunya.

“Iyahh enggak, aku enggak berisik” jawab Andi sambil menyenderkan badannya ke belakang.

Diperjalanan menuju kampus kurang lebih memakan waktu 30 menit, Andi dan Fany memang satu kampus tapi berbeda jurusan. Walaupun berbeda jurusan tapi mereka selalu berangkat bersama, Andi seringkali datang telat yang membuat Fany jengkel bukan main. Mau bagaimana lagi, itu memang menjadi kebiasaan Andi yang sepertinya sulit dibuang. Mereka berdua sebenarnya ada hati untuk diungkapkan namun rasa malu dan canggung yang tinggi membuat mereka bungkam seribu bahasa. Andi sudah sangat begitu senang bisa berangkat bersama dengan Fany begitupun sebaliknya.

Setengah perjalanan sudah dilalui, suasana di kereta yang lumayan adem membuat Fany mengantuk. Sesekali ia terlihat melenggut karena mengantuk dan menjatuhkan buku ke pangkuannya. Andi hanya tersenyum sedikit melihat Fany, tak lama kemudian Fany menyenderkan kepalanya sambil memejamkan mata dipundak Andi. Andi sedikit kaget dan juga senang karena tidak ada basa basi dari Fany. Tangan Fany yang memegang buku catatannya masih memegang erat buku tersebut yang jauh dipangkuannya karena enak tertidur. Dengan sigap, Andi mengambil buku tersebut dan menaruh di tasnya.

Andi menjaga Fany yang tertidur sambil sesekali memandangi wajah Fany yang sedap dipandang, lalu ia berucap dalam hati Beruntung banget cowok yang memilikimu nanti Fan, andai cowok itu aku. Perasaan Andi ke Fany memang sudah tertanam cukup lama, sejak SMA Andi sudah ada hati dengan Fany. Namun baru sekarang ia bisa sedekat ini dengan Fany. Ada perasaan senang dan sedih, senangnya ia dapat menyayangi Fany dengan tulus dan bisa selalu dekat dengan cara berangkat kuliah bersama, sedihnya, apakah Fany menyayangi Andi. Tentu Fany sangat menyayangi Fany, namun ia belum saja mengungkapkan perasaannya, menunggu Andi yang bilang kepadanya.

Stasiun berikutnya Pasar Minggu, the next station Pasar Minggu.

Andi membangunkan Fany yang tertidur lelap karena sudah sampa di stasiun Pasar Minggu. Fany mengusap wajahnya dengan tissue lalu bersiap turun bersama Andi. Andi sekali lagi menyambut hangat tangan Fany dan bergegas keluar dari kereta yang pintunya hanya terbuka satu menit. Dari stasiun menuju kampus, Andi memesan ojek online. Stasiun ke kampus lumayan dekat, dengan jarak tempuh 20 menit saja. Mereka berdua pun akhirnya sampai di kampus. Saling melambaikan tangan, mereka berdua berpisah, Andi masuk ke gedung Bahasa Inggris dan Fany masuk ke gedung Biologi.

Di sore harinya, mereka berdua bertemu kembali di gerbang kampus lalu menuju stasiun Pasar Minggu. Sambil menunggu kereta, Fany pergi ke minimarket meninggalkan Andi yang duduk di kursi besi. Fany membeli minuman dan roti untuk mengganjal perut, tidak lupa ia membelikan Andi susu kesukannya dan roti.

“Kamu pasti laperkan, nih makan” Fany menyodorkan roti dan juga susu.

“Tau aja kalo aku laper, makasih yah, jangan repot-repot lain kali” Sambil menyambut roti dan susu yang dibeli Fany.

“Enggak repot kok, cuma jalan satu menit doang ke minimarket, enggak capek juga” Menunjuk mini market yang ada di belakang mereka.

Sambil menunggu kereta yang datang kurang lebih lima menit lagi, mereka berdua menyantap roti dan snack dengan lahap. Sirine kereta datang pun terdengar, Andi kembali memegang erat yang disambut oleh Fany menuju batas garis kuning, mereka berdua saling bertatapan dengan lemparan senyum, lalu masuk ke kereta. Kali ini kereta lumayan penuh disesaki para pekerja yang pulang dari kantor, mereka berdua mencari bangku yang kosong, untungnya masih ada bangku yang kosong. Mereka berdua duduk berdampingan lagi, sama seperti berangkat, Fany membaca buku catatannya lalu mengantuk dan tertidur lagi di pundak Andi.

Andi menyambut kembali buku catatan Fany yang ingin jatuh ke lantai, ia penasaran dengan catatan milik Fany, lalu Andi membukanya. Ia mendapati tulisan berbentuk curhatan mengenai dirinya, diakhir curhatan itu Fany menulis “Love Andi So Much” Andi menulis jawaban dibawah tulisan Fany “Love You Too Fany” sambil membentuk sebuah love sebagai pengikat. Wajah Andi langsung memerah dan sangat senang sekali. Ia pun mengbadikan tulisan itu dengan memfotonya. Lalu buku catatan tersebut ditaruh kembali di tas Fany. Selama perjalanan ulang, Andi membaca berulang-ulang tulisan tangan Fany dengan tersenyum sambil menjaga Fany tertidur lelap.

Akhirnya kereta sampai dipemberhentian terakhir yaitu di stasiun Tanah Tinggi. Andi membangunkan Fany dengan lembut dan memegang erat tangan Fany unuk turun dari kereta. Andi mengajak Fany ke parkiran motor dekat stasiun dan mengantar Fany pulang. Lalu Andi bergegas pulang dan berharap Fany membaca buku catatannya kembali dan melihat balasan tulisan dirinya. Benar saja, Fany melihat kembali buku catatannya dan kaget melihat tulisan Andi yang menjawab tulisannya. Lalu Fany mengirimkan pesan Wa kepada Andi.

“Makasih yah udah jagain aku tidur di kereta dan makasih juga udah menjawab perasaanku” Tulis Fany dengan emot disisipi emot love.

“Iyah sama-sama Fanyku, maaf yah kalo aku suka telat, minggu depan enggak bakal telat lagi” Andi membalas pesan Wa Fany.

“Awas aja kalo telat, aku cubit lagi pokoknya” Balas Fany dengan memanbahkan emot meledek.

“Iyah enggak, kamu jangan deket batas kuning yah kalo nunggu kereta, bahaya kalo kereta lewat, mending duduk aja” Andi memberikan Saran.

“Kalo bosen duduk aku berdiri ke batas kuning itu, kalo bosen berdiri aku duduk lagi” Fany membalas lagi Wa Andi.

“Iyah, yang penting jangan sering beridir, enakan juga duduk” Jawab Andi.

“Siap bos” Balas Fany dengan emot love.

Ada raut senyum dari mereka berdua dan benih cinta yang sudah bermekaran, kembali bermekaran dengan cantiknya. Fany dan Andi merajut asmara dengan saling memberikan perhatian seperti pada umumnya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

heheheh..antimainstreem bu

23 Feb
Balas

Cie.... cie.... ditembaknya di atas KRL nih.

23 Feb
Balas



search

New Post