Irwanto

Nama jawa, yang punya orang minang. Mengajar matematika, setiap hari mengarang. Irwanto, guru matematika asal Pariaman Sumatera Barat. Bagi saya masalah i...

Selengkapnya
Navigasi Web
Berangkat Bareng dari BIM
Tagur hari ke-1033

Berangkat Bareng dari BIM

Berangkat Bareng dari BIM

Mengingat banyaknya chat yang masuk ke nomor pribadiku sehubungan dengan keberangkatan mengikuti TNGP 2022, kubuatlah sebuah grub Whattshap, agar bisa mempermudah komunikasi. Grub kuberi nama “Berangkat Bareng dari BIM.”

“Bund, kita buat grup khusus untuk keberangkatan, ya! Tolong dimasukkan nomor kawan-kawan yang akan serombongn dengan kita,” chatku pada Bunda Hasna Mila, Penulis yang pertama kuikutsertakan bergabung dalam grup.

Bu Hasna Mila pun memasukan nomor Bu Is, Penulis asal Bukittinggi dan aku memasukan nomor Uki, editor kenamaan yang berasal dari solok. Ketiga nomor tersebut kujadikan admin, sehingga terdatalah 11 nomor dari penulis yang akan ikut tergabung, termasuk nomor Pak Yuliasman, penulis asal Kota Padang.

Aku bersyukur sekali, ada juga Bapak-bapak yang bergabung dengan grup ini, sehingga aku tidak merasa sendiri. Setidaknya, ada kawan yang akan diajak ngobrol nantinya, disaat Mak-mak sedang disibukkan oleh obralan perempuan, walaupun aku belum pernah kenal dengan Pak Yuliasman, sebelumnya.

Setelah semua nama terdata, aku buatkan list untuk pemesanan Tiket. Nama harus sesuai dengan KTP, karena petugas bendara tidak mengenal istilah sinonim untuk nama. Bisa jadi karena salah pengetikan nama Solvia bisa menjadi Selvia dan Hasna kehilangan huruf “H” nya.

“Segera ya, Bapak Ibu! Biar secepatnya saya kirim pada orang yang akan membantu kita dalam mencarikan tiket,” kataku lagi melihat hanya beberapa orang saja yang mengisi list nama.

“Maaf, Pak. Saya berangkatnya dari Pangkal Pinang,” kata Bu Novi Tri yang memilih berangkat dari kampung halamannya.

“Ok, kalau begitu kita berjumpa di Jakarta saja,” balasku.

“Nama bunda, kok hilang?” ucap Bunda Hasna yang melihat pada list akhir namanya tidak ada.

Sudah ragamnya pada dunia maya, sering dalam pengisian list, ada nama tertindih dan hilang karena anggota mengisi list pada waktu yang hampir bersamaan.

“Buat lagi, Bund! Lagian nama ibu tadi ditulis “Hasna M “ saja, ndak sesuai dengan KTP,” jawab Bu Solvia mengetengahi.

Masalah tindih menindih dalam mengisi list itu hal yang biasa, tapi ada hal lain yang memancing tawa, disaat jumlah yang hanya sepuluh, tapi ada juga yang sengaja menyerobot di tengah.

“Maaf Bu Is, Uki urutkan nama Uki sesudah bunda Fitri Anora, ya! Uki takut hilang, kalau jauh-jauh dari beliau,” kata Uki yang menyelip namanya diantara Bu Is dan Bunda Fitri Anora.

“Ok, say,” balas Bu Is disertai dengan emotion senyumnya.

Membaca chat dari anggota, aku melihat sudah ada keakraban diantara mereka. Mungkin mereka sudah saling kenal dan akrab karena sudah lama di ranah kepenulisan dan media yang memfasilitasinya. Sementara aku?

Aku baru belakangan bergabung, dan mereka adalah seniorku. Maka sewajarnya akulah yang harus proaktif mengenalkan diri sambil belajar pada pengalaman mereka yang tentunya sudah terbiasa. Termasuk organisasi kepenulisan yang ada di Sumatera Barat, belum pernah kukenal sama sekali. Untungnya sebelum ini, komunikasiku lewat dunia maya dengan Uki lancar, bahkan dekat, sedekat Mamak dengan Keponakan.

“Pegang tangan Bunda Fitri itu kuat-kuat, Uki!” ucapku yang dibalas dengan emosion tertawa oleh Uki, Bu Is, dan Fitri Anora.

Benar dugaanku, mereka sudah kompak dan asik diajak bercanda. Namun dalam keadaan semua riang, datang stiker nyeleneh dari Esi, duetnya Uki, editor yang berasal dari Padang. Seperti terhadap Uki, Esi pun sudah menjadi keponakanku walaupun kami belum pernah bertemu.

“Aku diajak, ndak?” Ujar Esi lewat stikernya

“Ya iya lah. Ini gara-gara keponakan nan dari solok, terabaikan yang di Indaruang, Padang. Maaf, yo Nakan. Besok kita panen bengkuang yang tumbuh disamping Hetel Basko. Kalau Uki minta, tidak kita bagi,” balasku dengan memasukkan tugu Buah Bingkuang yang berada di Pusat Kota Padang dalam leluconku.. Tugu yang merupakan iconnya Kota Padang.

Ternyata kelakarku memancing tawa dan keseruan anggota. Bagaimana keseruannya? Ikuti lanjutan ceritaku bersama penulis lainnya asal Provinsi Sumbar mengikuti TNGP 2022. (Bersambung)

Pariaman, 24 November 2022

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Next, Mamak.

24 Nov
Balas



search

New Post