Irwanto

Nama jawa, yang punya orang minang. Mengajar matematika, setiap hari mengarang. Irwanto, guru matematika asal Pariaman Sumatera Barat. Bagi saya masalah i...

Selengkapnya
Navigasi Web
Berangkat Bareng dari BIM (6)
Tagur hari ke-1039

Berangkat Bareng dari BIM (6)

Berangkat Bareng dari BIM (6)

Rencana untuk menyeduh kopi, penghilang rasa kantuk seketika kulupakan. Perhatianku tersita pada sebuah amplop dinas yang baru tadi pagi sampai di tangan. Saat kubuka, gawaiku bergetar. Ada pesan dari sebuah nomor yang belakangan ini sangat kuharapkan. Seketika senyumku mengembang.

“Alhamdulillah, ndak jadi saya nginap di ruang satpam. Ada Pak Yuliasman yang akan jadi teman,” ucapku dan memberi tahu pada anggota Grup Berangkat Bareng dari BIM, ada tambahan anggota baru.

“Mantap, Pak Ir dapat kawan,” ucap Bu Solvia yang hampir berbarengan dengan Bu Is, Bu Solvia, Bu Hasna dan Bu Mursyidah, Empat anggota grup yang sangat setia menemaniku berdiskusi di kelas. Sementara yang lainnya, masih berkutat dengan tugas kedinasannya.

Mungkin mereka masih dalam keraguan. Sekali-kali mereka masuk kelas, hanya untuk sekadar mengecek apa yang sedang kami perbicangkan.

Disaat muncul rasa senang akan bertambahnya anggota baru yang akan menjadi tambahan kekuatan grupku, tiba-tiba saja daun pintu terkuak. Dari balik pintu. Uki berdiri mematung. Mukanya pucat dan nafasnya tersengal-sengal.

“Mamak… “ sorak Uki seperti orang yang kehilangan nafas

“Ada apa? Habis lihat setan?” tanya Bu Is yang ikut terkejut melihat kehadiran Uki secara tiba-tiba tanpa baca salam. Apalagi setelah itu, menyusul Yessi dan Santi dengan ekpresi yang hampir sama.

“Diluar ada Bundo Pasya, “ ucap Santi seperti orang yang kehilangan tenaga.

Bunda Pasya? Aku mengerutkan keningku, ikut terkejut dengan pernyataan Santi yang tiba-tiba. Ada apa? Kenapa pimpinan tertinggi provinsi datang bertandang ke grup yang kudirikan atas inisiatif kawan-kawan?

“Ia mengajak kita semua untuk nginap di Hotel yang direkomendasikan panitia,” kata Uki yang nafasnya sudah kembali.

“Kita? Memangnya Uki jadi pergi?” tanyaku yang sengaja tidak mengubris kekawatiran Uki dan anggota lainnya. Aku alihkan dulu pembicaraan, agar tidak terjadi kepanikan. Bagaimanapun juga tentu akan ada rasa kecewa, bila sesuatu yang sudah dirancang dengan matang, tiba-tiba menjadi mentah kembali.

“Mamak…., orang serius, Mamak malah bercanda,” jawab Uki dengan memasang muka sabaknya.

“Ok, tenang dulu. Selesaikan dulu masalah keberangkatan. Baru kita bahas yang lain,” ucapku menenangkan Uki dan yang lainnnya.

“Bagaimana dengan Yessi? Jadi Uki membantu Yessi menemui kepala sekolah?” tanyaku lagi.

“Udah Uki bantu. Tu.., Yessi sudah dapat izin dari kepseknya,” jawab Uki sambil menunjuk Yessi dengan memajukan beberapa senti mulutnya.

“Bantu apaan? Boro-boro ikut membujuk kepala, datang ke Padang saja, ia ogah,” kata Yessi memasang muka cemberut.

“Aku bantu dengan Doa, tau!” jawab Uki yang tak mau kalah. Akhirnya Uki dan Yessi saling berjawab kata, layaknya dua saudara yang tidak mau mengalah.

“Sudah… sudah…. Ndak perlu diperdebatkan, yang jelas semua urusan perizinan sudah beres. Sekarang Mamak mau tanya, Siapa itu Bundo Pasha?” tanyakku sekadar ingin tau.

“Memangnya mamak tidak kenal. Kuper banget Mamak,” ledek Uki.

“Terserah! Jelaskan saja. Apa susahnya, sih?” kataku dengan nada seperti orang emosian, sehingga tidak hanya memancing Uki, beberapa anggota grup lainnya secara bergantian bersuara, menjelaskan tentang Bundo Pasya dan organisasi berskala provinsi yang dikelolanya.

“Ups… kalau begitu gamang juga saya jadinya. Matahari bisa jadi dua. Tapi kita semua jangan gusar dulu. Kita akan open terhadap mereka. Untuk sementaraa, kita anap-anap saja, sampai mereka bertanya,” jawabku dan sepertinya semua merasa lega.

“Setuju! Kita diam saja dulu. Nanti kalau ditanya baru kita katakan, kita sudah ada kesepakatan untuk berangkat bereng, tiket dan hotel sudah tersedia.

“Berarti kita sudah kompak, ya!” tegasku.

“Iya, Mamak. Uki, Esi, Bunda Nora dan Santi juga sudah kompak,” ucap Uki tak mau kalah.

“Oh ya? Kompak tentang apa?” tanyaku sedikit keppo.

“Kami sepakat, untuk pemesanan hotel, armada, dan tiket, mamak yang menalanginya,” jawab Uki yang disertai dengan tawanya yang khas dan diikuti oleh anggota kelas lainnya.

“Ampuuuun…. “

Ha ha ha

Pariaman, 30 November 2022

*****

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post