Irwanto

Nama jawa, yang punya orang minang. Mengajar matematika, setiap hari mengarang. Irwanto, guru matematika asal Pariaman Sumatera Barat. Bagi saya masalah i...

Selengkapnya
Navigasi Web
Menulis dengan Ketajaman Emosi
Tagur hari ke-1088

Menulis dengan Ketajaman Emosi

Menulis dengan Ketajaman Emosi

Perkembangan Media Sosial (Medsos) telah memberi peluang para penggunanya untuk terinspirasi menulis. FB, WA, Twiter, Instagram, dan aplikasi lainnya, menjadikan pengguna bisa melampiaskan rasa emosi melalui tulisan di statusnya. Dari status yang diposting, bisa dirasakan apakah orang yang menulis itu berada pada kondisi emosi tertentu. Mungkin marah, kesal, gembira, sedih, bersemangat, atau kebingungan. Bahkan dari postingan bisa terlihat karakter sesorang.

Menulis dengan ketajaman emosi bukan berarti menulis sambil marah-marah atau menangis, melainkan bagaimana seorang Penulis mampu melibatkan ketajaman emosinya sehingga pesan yang ditulis dapat tersampaikan. Walaupun tulisan tidak ada nada, tidak ada ekspresi, tapi sangat bisa menyalurkan emosi penulis kepada pembaca. Ketika penulis bersedih, pembaca pun bisa ikut bersedih. Ketika penulis bahagia, pembaca pun ikut merasakan bahagia.

Bila penulis, menulis dalam keadaan marah atau menagis, maka tulisan kita akan terlihat kacau dan berantakan. Pesan tidak akan tersampaikan, tulisan tidak akan jelas, tidak akan ada ujung dan pangkalnya. Ide menulispun akan tersendat. Tetapi kalau diawali dengan gagasan yang ingin disampaikan lewat tulisan yang melibatkan seluruh emosi, maka kegiatan menulis akan seperti air mengalir, dan terselesaikan. Setelah itu penulis akan termotivasi untuk mengedit tulisan dengan emosi dan fikiran sehingga pesan yang tertulis akan sampai pada pembaca.

Melibatkan emosi pada setiap ativitas menulis, akan membuat tulisan masuk ke hati, mengena dan tersampaikan pada pembaca. Rasa yang digali oleh seorang penulis akan menjadikan suatu energi yang menjadikan tulisan berkualitas.

Misalnya ketika kita ingin menulis penderitaan seorang anak mempunyai bobot besar, sering dibuli, diperolok-olok kawan-kawan, lingkungan membentuknya menjadi manusia pemalu, nama asli nya hilang karena banyak orang memanggilnya dengan sebutan “ gendut”.

Jika penulis dalam menulis seolah-olah mengalami apa yang dirasakan Si Gendut, maka tulisan akan tersusun dengan kata-kata sedih. Kalimat mengiba-iba tercipta sehinga menjadi cerita yang mengharukan.

Penulis akan meneteskan air mata sewaktu menceritakan pengalaman sedih Si Gendut. Penulis akan tertawa sendiri ketika menuliskan kisah-kisah lucu. Penulis tak akan berhenti sebelum cerita itu selesai dan mengedit. Sering penulis menghentikan tulisannya ketika air mata ikut jatuh menutupi pandangan mata. Lalu bagaimana cara seorang penulis menulis dengan ketajaman emosi? Kita lanjutkan pada bagian tulisan berikutnya! Terimakasih.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post