Irwanto

Nama jawa, yang punya orang minang. Mengajar matematika, setiap hari mengarang. Irwanto, guru matematika asal Pariaman Sumatera Barat. Bagi saya masalah i...

Selengkapnya
Navigasi Web
Menulis Itu Mudah
Tagur hari ke- 1083

Menulis Itu Mudah

Menulis Itu Mudah

Setujukah anda bila ada yang mengatakan menulis itu mudah? Bahkan saking mudahnya, ada yang mengatakan menulis itu sama dengan bernafas.

Apa, iya begitu? Semudah itukah?

Mungkin sebagian orang, terutama penulis pemula, tidak setuju dengan perkataan “menulis itu mudah.” Karena bagi mereka, banyak kendala yang ditemuinya saat mulai menulis. Bahkan ia akan lebih setuju, bila ada yang berpendapat, menulis itu susah. Lebih susah dari berbicara. Kalau ada dua pilihan, antara menulis dan berbicara, maka ia akan memilih untuk berbicara.

Dengan berbicara, ia akan langsung bisa mengungkapkan gagasan atau ide yang ada dipikirannya. Tetapi kalau ia menulis, ia akan kecewa karena ia menemukan ketidak sesuaian antara ide yang ingin dituangkan dengan hasil tulisan.

Pada awalnya, dalam pikiran muncul segudang ide untuk ia tuliskan. Tetapi setelah melihat hasil tulisannya, yang hanya baru beberapa parafraf, tiba-tiba idenya macet. Ia jadi lupa akan apa yang akan ia tulis. Ide yang tadinya mengalir dalam pembicaraan, tiba-tiba terhenti, dan akhirnya ia berhenti sebelum tulisannya rampung. Setelah itu ia akan berkata, menulis itu susah.

Sebagai penulis, diawal saya memulai untuk menulis, saya juga punya pengalaman yang sama. Tapi saya tidak langsung frustasi dan berhenti untuk menulis. Saya coba berulang-ulang, menulis. Dengan tekad dan kemauan untuk berkarya akhirnya saya bisa. Apa yang saya lakuukan?

Pengalaman, membawa saya saya sebagai penulis mengajari saya bahwa ide tidak mengalir didalam tulisan itu karena saya mencampur adukan antara proses menulis dan mengedit. Bagaimana saya bisa s melakukan dua hal kegiatan sekaligus dalam satu pemikiran, padahal saya baru belajar. Jelas saja saya merasa kerepotan.

Selanjutna, saya coba fokus pada menulis saja. Saya terus saja menuangkan ide tanpa harus berpikir apakah tulisan saya sesuai kaidah atau tidak, dimengerti orang yang membaca atau tidak, bermanfaat atau tidak, dan sebagainya. Setelah ide tercurah semuanya, barulah say abaca berulang-ulang dalam artian saya melakukan pengeditan. Setelah itu baru saya mereakana menulis itu mudah.

Dari beberapa sumber yang pernah penulis dapat, ada yang mengatakan menulis itu semudah bernafas. Menurut mereka, dalam bernafas kita tidak perlu berfikir. Seseorang tidak harus mencari tempat special untuk bernafas yang benar. Dimanapun ia berada, ia akan selalu mengambil udara untuk pernafasannya.

Begitu juga dalam menulis, menulis akan semudah bernafas, bila si penulis bisa memisahkan antara berfikir dengan menulis. Biarkan kesulitan bertumpuk pada editing. Pisahkan antara aktifitas menulis dengan mengedit. Karena berfikir akan menghambat menulis cepat. Selagi ide masih banyak, terus tuangkan ke dalam tulisan.

Tapi menulis akan terasa sulit karena dalam Si Penulis melakukan pengeditan, yang membutuhkan proses berfikir, kehati-hatian dan ketelitian. Hal ini lah yang membuat ide sering macet dan tulisan tidak rampung. Supaya menulis semudah bernafas maka kita harus pandai memisahkan antara berfikir dengan menulis. Caranya, kita harus banyak berlatih.

Untuk penulis pemula, agar bisa merasakan kemudahan dalam menuli maka berelatihlah menulis dan mulai lah dari mudah-mudah saja, seperti :

1. Menulis kegiatan yang Anda lakukan kemaren !

2. Menulis rencana kegiatan Anda besok !

3. Baca sebuah buku kemudian tulis ringkasannya !

4. Baca sebuah artikel, kemudian ulas dengan bahasa sendiri !

5. Tulis hasil sebuah ceramah atau forum diskusi yang diikuti!

6. Dengarkan sebuah cerita, kemudian tuliskan !

7. Lihat suatu film, tuliskan isi ceritanya !

8. Menulsi riwayat hidup anda !

9. Menulis kisah pertemuan anda dengan pasangan anda !

10. Menulis kesulitan-kesulitan anda dalam bidang tertentu !

Bila dengan latihan kita belum juga merasa mudah menulis maka ada langkah terakhir yang dinamakan dengan tekhnik BRT (bicara, rekam, transkrip), bahkan sekarang sudah ada aplikasi yang merubah kata-kata dalam bentuk tulisan, yaitu voice to teks.

Mampu menulis dengan cepat, tampa beban, dan semudah bernafas, sama dengan belajar menyetir mobil. Kita akan lancar setelah sekian lama mengendarainya. Kita tidak merasa kesulitan, karena sudah membiasakan diri membawanya pada beberapa situasi.

Bila kita merasakan menulis itu semudah bernafas, maka kita maka kita sudah bisa memisahkan antara aktivitas menulis dan mengedit, berkonsentrasi menulis, tidak pada kualiltas, dan merutinkannya dalam kegiatan sehari-hari.

Pariaman, 14 Januari 2023

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Mantap ulasannya

14 Jan
Balas

Ulasannya mantap pak Ir.

14 Jan
Balas



search

New Post