Irwanto

Nama jawa, yang punya orang minang. Mengajar matematika, setiap hari mengarang. Irwanto, guru matematika asal Pariaman Sumatera Barat. Bagi saya masalah i...

Selengkapnya
Navigasi Web
Menullis dengan Hati
Tagur hari ke-1088

Menullis dengan Hati

Menulis dengan Hati

Dikisahkan, ada seorang guru menugaskan siswanya untuk melukis wajah Rasulullah, pada siswa di kelas yang sedang ia ajari. Guru memberi kebebasan kepada siswa, melukis sesuai dengan imajinasi masing-masing. Setelah selesai, langsung dikumpul.

Tapi diantara mereka, ada seorang siswa, sebut saja namanya Pulan, merespon intruksi gurunya. Disaat teman-temannya mulai membuat coretan pada kertas, Pulan hanya menopang dagu. Padahal di depannya sudah ada kertas dan alat tulis yang bisa ia gunakan. Ia hanya memandang kertas didepannya sambil memegang alat tulis yang tidak ia fungsikan.

Sedikitpun Pulan tidak tergeming untuk mengikuti intruksi gurunya. Ada alasan kuat yang membuat Pulan tidak mengindahkan intruksi gurunya karena ia ingat akan ajaran agama, dilarang melukis wajah rasululullah.

Namun alas an Pulan tidak diterima oleh gurunya. Sang guru mendekati Pulan dan bersikeras memaksanya untuk tetap melukis. Dalam keadaan tertekan, akhirnya Pulan meletakan ujung pensilnya pada bagian kiri kertas, seperti akan memulai melukis.

Sebelum alat tulis di gunakannya, Pulan memejamkan matanya sesaat, untuk menghilangkan perasaan tertekan. Dan tanpa ada rasa ketakutan pada gurunya, Pulan mulai menggoreskan alat tulisnya ke kertas. Tapi ia bukannya melukis, melainkan menulis. Ia menulis sesuatu tanpa mengingat apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan intruksi gurunya.

Dengan luapan emosi yang mendalam, Pulan menulis kisah kakaknya yang sering dianiya oleh para penjahat. Ia menulis dengan hati, tampa ada bayang-bayang wajah galak sang guru. Setelah selesai ia menulis, ia pun menyerahkan tulisan pada Sang Guru.

Mungkin banyak yang membayangkan sang guru akan marah dan merobek kertas goresan penanya serta menghukumnya. Tapi apa yang terjadi? Sang guru membaca tulisan Pulan dengan penuh linangan air mata.

Dari kisah diatas, kita bisa dapat tarik kesimpulan bahwa sebuah tulisan dari seseorang yang menulis dengan hati, bisa melunakan hati seseorang. Dalam hal ini, tentunya Si Pulan mengeluarkan kecerdasan emosinya secara tajam dan tepat sasaran. Tulisan pena Pulan mengasilkan tatanan kata yang menjalin kalimat bermakna dan penuh rasa. Coba dibayangkan kalau Pulan tidak menggunakan kecerdasan emosinya secara tepat, maka tulisannya akan kontradiksi.

Untuk itu, supaya pesan pada tulisan sampai pada pembaca, mari mulai menulis dengan hati, perbaiki tulisan dengan pikiran. Menulis dengan hati adalah menulis dengan emosi. Ketika tulisan hanya sampai pada pikiran, maka yang akan tampil hanya pokok-pokok pikiran saja. Tetapi kalau menulis dengan melibatkan ketajaman emosi, maka tulisan akan sampai ke hati. Pembaca akan larut dalam irama tulisan yang dibacanya.

Pariaman, 19 Januari 2023

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Kereeen ulasannya, Pak. Salam literasi

19 Jan
Balas

mantap ulasannya

19 Jan
Balas



search

New Post