MUSTAMIN

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Khawatir dan Ragu
Tantangan menulis gurusiana hari ke - 139

Khawatir dan Ragu

Kurang lebih 3 bulan ananda Alif tinggal di Pondok Pesantren Imam Syafi'i. Banyak cerita dan pengalaman baru yang dilalui bersama para santri dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Awal kedatangan Ananda di pondok diwarnai dengan rasa minder karena belum memiliki teman akran. Saat Abi hendak mengurus administrasi, Ananda banyak mengamati tingkah laku dan aktivitas para santri di dalam pondok. Sempat ragu dan berbisik sama Abi kalau ananda Alif harus dicarikan teman sebelum kami pulang. Pada bulan pertama mengikuti kegiatan orientasi sempat satu kali pulang karena libur hari raya. akan tetapi Abi hampir setiap akhir pekan menjenguknya. di bulan kedua dan ketiga sudah tiga kali ananda pulang karena sakit. Penyakit tipes yang kembali kambuh akibat seringnya mengonsumsi mie instan dan minuman gelas. Yang memperparah penyakitnya makan nasi sedikit, kurang minum air putih dan seringnya jajan. Seminggu dirawat dan harus istirahat total membuat ananda ketinggalan pelajaran. Namun semangatnya untuk kembali belajar di pesantren ia tunjukkan dengan meminta untuk segera diantar ke pondok.

Abi sebenarnya sempat khawatir akan kondisi ananda Alif. karena masih batuk sementara itu ia harus kembali ke pondok. Benar dugaan Abi pekan lalu saat pulang dari kantor imigrasi melakukan vaksin miningitis, kami bersama rombongan singgah menjenguk ananda. Abi langsung masuk asrama 1 dan menanyakan keberadaannya pada kakak pembinanya. Abi kaget karena langsung diberitahu kalau Ananda berada di ruang UKS. Dengan langkah cepat Abi potong kompas melewati lapangan untuk cepat sampai ke ruang dimana ananda istirahat. Setelah mengucapkan salam Abi menanyakan kepada petugas kesehatan kondisi Ananda Alif. Menurut penjelasan petugas tersebut, Ananda sejal pagi melapor kalau badannya panas sehingga dibawalah ke ruang UKS. Abi memegang dahi dan leher anada, memang panas sekali. Tetap menurut petugas ia sudah minum obat. Mendengar suara Abinya sontak saja Alif bangun dan menangis minta pulang. Tetapi Umminya menenangkan anaknya dan berhasil membujuk supaya tetap tinggal di pondok. Meskipun kasihan Abi tetap menuruti kemauan ummi. Dua hari pasca dijenguk Ananda menelpon supaya dijemput karena masih sakit. Mendengar suaranya saja Abi tidak tega, Abi memerintahkan ananda supaya menelpon Ummi. Setelah bicara dengan umminya, ananda tetap memaksa untuk pulang. Kebetulan temannya yang satu asrama juga sakit dan mau dijemput ibunya. Akhirnya ummi minta tolong kepada ibu Ahmad supaya ananda diikutkan pulang.

Setelah beberapa hari ini Abi perhatikan kondisi tubuh ananda semakin hari semakin kurus. semua tulangnya kelihatan. Mungkin pengaruh malas makan dan sakit. Sempat Abi berpikir dan bicara sama umminya, bagaimana kalau ananda dipindahkan saja di pesantren dekat rumah. Umminya setuju. tetapi setelah ananda ditanya, Ia tidak ingin pindah. Apakah karena ananda sudah menyatu dengan teman - temannya di pondok? Mungkin saja karena sudah merasa nyaman sehingga enggan dipindahkan. Tetap saja Abi khawatir melihat kondisi kesehatan ananda. Besok pagi ia sudah harus kembali lagi ke pondok. Doa terbaik Abi semoga diberikan kesehatan dalam menuntut ilmu dan betah tinggal di pondok. Amin..amin...amin Yaa Robbal Alamin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post