Rifki Ferdiansyah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Bangunan Timpang Program Remedial

Konsep tidak meninggalkan peserta didik di belakang mungkin sangat ideal dalam dunia pendidikan secara ril; terlalu ideal bahkan. Akan tetapi, filsofi tersebut dipakai di sistem pendidikan negeri ini. Kita mengenalnya dengan ketuntasan maksimal. Konsep ketuntasan maksimal tersebut melahirkan kegiatan remedial.

Lewat konsep ketuntasan maksimal ini, kriteria ketuntasan minimal dilahirkan. KKM menjadi standar dengan rujukan pada kompetensi dasar. Melalui KKM, peserta didik akan terklasifikasi menjadi tiga kelas; remedial, pengayaan, dan tuntas.

Pembagian tersebut didapat dengan melakukan analisis terhadap ujian atau tes yang diberikan pada peserta didik. Nilai KKM menjadi standar. Bawah KKM berarti kelas remedial. Menengah atas masuk ke pengayaan. Dan nilai sempurna menjadi tuntas maksimal.

Bila dulu, sebelum konsep ketuntasan maksimal muncul, remedial berarti nilai merah. Mendapat nilai remedial berarti dianggap belum mampu memahami pembelajaran. Mengalami kesulitan. Dan, anak dalam klasifikasi tersebut harus dibantu. Caranya, dengan memberi pelajaran tambahan baik mandiri atau klasikal.

Bagus kan konsep remedial tersebut!

Tetapi keadaan ideal dan realitas terjadi perbedaan. Disanalah munculnya masalah. Sama halnya dengan konsep remedial ini. Antara buah manis dari harapan idealnya tak berujung manis dalam realitas. Remedial menjadi sekadar alat kosong dalam proses pendidikan. Bahkan menjadi pisau bermata dua yang telah menikam pemiliknya.

Pada sebuah uji coba tes seleksi berbasis ICT, penulis mendapatkan pertanyaan bodoh berulang; "Berapa KKM nya pak? Ada remedialnya kan?"

Kenapa harus bertanya seperti itu? Apa pentingnya sebuah remedial bagi anak-anak itu, karena tes seleksi yang sebenarnya tak mengenal kesempatan kedua. Pilihannya cuma LULUS atau GAGAL.

Dan ternyata, pertanyaan seperti itu menjadi pertanyaan umum yang berulang. Menjadi biasa?

Bila melakukan kontemplasi, pertanyaan itu wajar muncul karena peserta tes adalah tamatan-tamatan institusi yang bernama sekolah. 9 tahun mereka berguru di sekolah dengan pelaksanaan remedial guna mengikuti konsep ketuntasan maksimal.

Memang, ini faktor pelaksanaan; bukan di filosofi remedial tersebut.

Namun, penerapan remedial nan ideal di sekolah sepertinya hal muluk. Tidak mustahil, mungkin. Tetapi butuh energi luar biasa besar agar pelaksanaan remedial berjalan ideal di sekolah. Belum perlulah berdalih pada tugas mengajar 24 jam plus tugas tambahan dan administrasi, faktor ketersediaan waktu untuk pelaksanaan remedial saja masih sulit. Hal ini mengingat ruang belajar terbatas dan jadwal belajar yang ketat.

Ya, bisa saja remedial tanpa harus membuat pertemuan. Bisa lewat tugas mandiri, tutor teman sebaya, dan beberapa metoda lainnya. Hey, bukankah itu juga dengan kondisi-kondisi tertentu kan. Tak bisa dipukul rata semuanya bisa melakukan.

Nah, kondisi ideal dan kondisi ril yang berbeda sangat menjadi masalah. Sementara, konsep ketuntasan maksimal terus menghantui. Yah, lakukan sajalah apa adanya. Sekadarnya sebagai syarat. Hingga akhirnya, remedial lebih dikenal sebagai perbaikan nilai an sich. Konsep perbaikan terhadap kesulitan pembelajaran tak lagi terperhatikan. Dan lewat sekolah, anak-anak kita mengenal kesempatan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya dalam menghadapi ujian; nyaris untuk semua ujian mungkin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post