Ratih

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Kelas VIII SMP IT Al-Musyarrofah Cianjur

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Kelas VIII SMP IT Al-Musyarrofah Cianjur

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI

(Penelitian Tindakan Kelas)

Disusun Oleh:

Nenratih Patimah S. Pd.

SMP IT Al-Musyarrofah Cianjur

2021

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI. ii

BAB I PENDAHULUAN.. 4

1. Latar Belakang. 4

2. Identifikasi Masalah. 5

3. Analisis Masalah. 5

4. Rumusan Masalah. 6

5. Tujuan Penelitian. 6

6. Manfaat Penelitian. 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA.. 7

1. Penelitian Tindakan Kelas. 7

2. Keterampilan Menulis. 10

3. Puisi 11

4. Hakikat Menulis Puisi 11

5. Model Discovery learning. 12

BAB III METODE PENELITIAN.. 15

1. Subjek Penelitian. 15

2. Tempat dan Waktu Pelaksanaan. 15

3. Deskripsi Per Siklus. 15

Bab IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.. 18

1. Deskripsi Prasiklus. 18

2. Deskripsi Data Siklus I. 18

3. Deskripsi Data Siklus II. 21

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.. 25

1. Kesimpulan. 25

2. Saran. 25

DAFTAR PUSTAKA.. 26

LAMPIRAN.. 27

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Kegiatan belajar mengajar merupakan suatu proses yang kompleks karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Jika proses belajar mengajar dilakukan secara formal di lingkungan sekolah, maka interaksi yang terjadi selama proses tersebut dipengaruhi oleh lingkungan yang terdiri atas peserta didik, pendidik, bahan atau materi pelajaran, serta berbagai sumber belajar dan fasilitas pendukung lainnya. Proses belajar merupakan proses komunikasi. Dalam proses komunikasi selalu melibatkan tiga komponen pokok, yaitu komponen pengirim pesan (pendidik), komponen penerima pesan (peserta didik), dan komponen pesan itu sendiri yang biasanya berupa materi pelajaran. Mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar baik secara lisan maupun tertulis.

Keterampilan berbahasa dalam kurikulum di sekolah mencakup empat bidang, yaitu keterampilan berbicara, keterampilan membaca, keterampilan menyimak, dan keterampilan menulis. Tiap keterampilan memiliki hubungan yang erat dengan proses berpikir bahasa seseorang untuk mencerminkan gagasannya. Keterampilan bahasa tidak pernah terlepas dari wacana tentang pembelajaran bahasa, seperti pendapatnya Tarigan (2013) mengatakan bahwa dalam pengajaran bahasa, metode apapun yang digunakannya bertujuan agar para pembelajarnya terampil dalam berbahasa.

Diantara keempat keterampilan tersebut, menulislah yang paling sulit untuk dicapai. Hal tersebut karena keterampilan menulis merupakan kemampuan berbahasa yang kompleks. Kompleksitas dalam menulis terdapat pada tuntutan kemampuan penulis untuk mengatur dan mengorganisasikan ide secara runtut dan logis. Keruntutan dan kelogisan tersebut harus disampaikan dalam ragam bahasa tulis serta kaidah penulisan yang benar. Kemampuan ini akan tercapai apabila banyak berlatih secara sistematis dan tingkat disiplin tinggi.

Kegiatan menulis bukan hanya sekadar menuangkan isi atau ide pikiran ke dalam sebuah bentuk tulisan, akan tetapi proses menulis juga dikatakan sebagai proses kreatif dalam menuangkan gagasan ke dalam sebuah tulisan agar dapat dibaca dan dipahami dengan mudah oleh pembaca sesuai kaidah tata bahasa yang berlaku. Di dalam proses pembelajaran, proses menulis harus menghasilnya produk dalam konteks akademik. Konteks akademik artinya, produk yang dihasilkan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang tercantum di dalam kurikulum. Salah satu produk akademik yang bergenre sastra adalah puisi. Puisi merupakan salah satu karya sastra yang berisi gagasan dan perasasaan yang dituangkan dalam ekspresi tulisan dengan menggunakan bahasa yang indah dan tidak terikat aturan. Meskipun demikian, siswa masih berpikir bahwa puisi terlalu berat baik dari segi bahasa maupun penafsirannya tentang makna dalam puisi tersebut. Menurut Gloriani (2014) bahwa faktor lain yang mempengaruhi seseorang dalam menulis puisi karena terpaksa. Secara dewasa sudah diketahui segala sesuatu yang didasari keterpakasaan terkadang menghasilkan sesuatu yang kurang memuaskan pula. Keterpaksaan ini membuat siswa sulit menuangkan ide dalam memulai tulisannya. Kesulitan menulis puisi juga dapat disebabkan karena kurang tepatnya penggunaan pendekatan, model atau metode pembelajaran. Seperti halnya yang dialami siswa di kelas VIII SMP IT Al-Musyarrofah Cianjur, kemampuan dalam menulis puisi siswa masih tergolong rendah. Indikasi penyebab kurangnya kemampuan menulis puisi adalah peserta didik merasa terbebani, kurang antusias, kurangnya latihan mengarang, dan metode pembelajaran yang digunakan kurang tepat.

Penerapan metode discovery learning pada pembelajaran merupakan upaya dalam meningkatkan kemampuan menulis puisi peserta didik. Metode discovery learning adalah metode pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk aktif dalam mengemukakan beberapa pendapat yang dapat ditarik kesimpulannya berdasarkan prinsip-prinsip umum dari pengalamannya secara langsung. Penerapan metode discovery learning dalam pembelajaran menulis teks puisi dapat dilakukan dengan cara siswa belajar aktif, berorientasi pada proses pembelajaran, untuk mencari pengetahuan sendiri, mengarahkan sendiri dan reflektif. Dengan menerapkan metode discovery learning dalam penelitian ini, diharapkan dapat meningkatkan keterampilan menulis teks puisi pada siswa kelas VIII SMP IT Al-Musyarrofah Cianjur. Berdasarkan permasalahan di atas, maka peneliti akan melaksanakan penelitian dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Discovery learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi”.

2. Identifikasi Masalah

Dari uraian di atas dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut:

· Kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran menulis

· Rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran

· Kurang bersemangatnya siswa dalam mengikuti pelajaran

· Metode yang dilakukan guru kurang variatif.

3. Analisis Masalah

Masalah – masalah tersebut akan penulis tindak lanjuti dengan mencarikan beberapa solusi pemecahannya. Berdasarkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan, penulis telah merumuskan masalah yang timbul dan berdiskusi dengan teman sejawat untuk mencari penyebab dan masalah yang telah teridentifikasi tersebut di atas.

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut dapat diketahui bahwa kegiatan pembelajaran yang kurang menarik menyebabkan hasil belajar siswa dalam kegiatan belajar masih rendah. Hal ini dikarenakan guru tidak menggunakan metode yang dapat membantu siswa dalam pembelajaran.

4. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan tersebut, dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut. “Bagaimana upaya peningkatan keterampilan menulis puisi melalui penerapan model pembelajaran Discovery learning pada siswa kelas VIII SMP IT Al-Musyarrofah Cianjur?”

5. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini, adalah untuk dapat meningkatkan keterampilan menulis puisi melalui penerapan model pembelajaran Discovery learning siswa kelas VIII SMP IT Al-Musyarrofah Cianjur.

6. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi Sekolah

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas dalam pencapaian tujuan pendidikan.

2. Bagi Guru

Penerapan model Discovery learning dalam pembelajaran menulis teks puisi diharapkan mampu menjadi alternatif model untuk membantu guru meningkatkan keterampilan menulis puisi siswa sehingga kompetensi menulis siswa meningkat.

3. Bagi Siswa

Model Discovery learning ini menyesuaikan dengan kondisi siswa dalam belajar sehingga siswa lebih mudah menangkap dan memahami pelajaran. Di samping itu, dapat meningkatkan keterampilan dalam memproduksi puisi dan membangkitkan semangat siswa bahwa menulis itu menyenangkan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA 1. Penelitian Tindakan Kelas

a. Pengertian Tindakan Kelas

Menurut Kemmis (1983) penelitian tindakan kelas adalah sebuah bentuk reflektif yang dilakukan secara kemitraan mengenai situasi sosial tertentu termasuk didalamnya bidang pendidikan. Sedangkan, menurut Ebbutt (1985) penelitian tindakan kelas adalah kajian sistematik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakantindakan tersebut. Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian yang dilakukan melalui refleksi diri. Penelitian Tindakan Kelas bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu praktik pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas merupakan ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran.

b. Prinsip dan Karaktersitik Penelitian Tindakan Kelas

Karakteristik utama penelitian tindakan kelas adalah adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dengan anggota kelompok sasaran. Penelitian tindakan kelas harus menunjukkan adanya perubahan ke arah perbaikan dan peningkatan secara positif. Apabila dengan tindakan justru membawa kelemahan, penurunan atau perubahan negatif, berarti hal tersebut menyalahi karakter penelitian tindakan kelas. Adapun karakteristik yang menunjukkan ciri dari penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut:

1. Inkuiri reflektif

Penelitian tindakan kelas berangkat dari permasalahan pembelajaran riil yang sehari-hari dihadapi oleh guru dan siswa. Jadi, kegiatan penelitian berdasarkan pada pelaksanaan tugas (practise driven) dan pengambilan tindakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi (action driven).

2. Kolaboratif

Upaya perbaikan proses dan hasil pembelajaran tidak dapat dilakukan sendiri oleh peneliti di luar kelas, tetapi ia harus berkolaborasi dengan siswa. Penelitian tindak kelas merupakan upaya bersama dari berbagai pihak untuk mewujudkan perbaikan yang diinginkan.

3. Reflektif

Penelitian tindakan kelas memiliki ciri khas khusus, yaitu sikap reflektif yang berkelanjutan. Berbeda dengan pendekatan penelitian formal, yang sering mengutamakan pendekatan empiris eksperimental, penelitian tindakan kelas lebih menekankan pada proses refleksi terhadap proses dan hasil penelitian.

Penelitian tindakan kelas dapat berjalan dengan baik apabila dalam perencanaan dan pelaksanaannya menerapkan beberapa prinsip, yaitu sebagai berikut (Hopkins, 1993):

1) Tugas pertama dan utama guru di sekolah adalah mengajar siswa sehingga apapun metode penelitian tindakan kelas yang akan diterapkan tidak akan mengganggu komitmen sebagai pengajar.

2) Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga berpeluang mengganggu proses pembelajaran. Metodologi yang digunakan harus cukup reliable sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara cukup meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya dan memperoleh data yang dapat digunakan untuk menjawab hipotesis yang di kemukakannya.

3) Masalah penelitian yang diusahakan oleh guru seharusnya merupakan masalah yang merisaukannya. Bertolak dari tanggung jawab profesionalnya, guru sendiri memiliki komitmen yang diperlukan sebagai motivator intrinsik bagi guru untuk bertahan dalam pelaksanaan kegiatan yang jelas-jelas menuntut lebih dari yang sebelumnya diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas pengajarnya.

4) Dalam menyelenggarakan penelitian tindakan kelas, guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya. Hal ini penting ditekankan karena selain melibatkan anak-anak, penelitian tindakan kelas juga hadir dalam suatu konteks organisasional sehingga penyelenggaraannya harus mengindahkan tata krama kehidupan berorganisasi.

5) Kelas merupakan cakupan tanggung jawab seorang guru, namun dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas sejauh mungkin digunakan classroom excedding perspektive, artinya permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks dalam kelas atau mata pelajaran tertentu, melainkan dalam perspektif yang lebih luas ini akan berlebih-lebih lagi terasa urgensinya apabila dalam suatu penelitian tindakan kelas terlibat dari

6) seorang pelaku.

c. Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas

Menurut Hopkins (1993) penelitian tindakan kelas diawali dengan perencanaan tindakan (Planning), penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (Observation and evaluation). Sedangkan prosedur kerja dalam penelitian tindakan kelas terdiri atas empat komponen, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai (kriteria keberhasilan). Gambar dan penjelasan langkah-langkah penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut:

1) Perencanaan (Planning), yaitu persiapan yang dilakukan untuk pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, seperti: menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan pembuatan media pembelajaran.

2) Pelaksanaan Tindakan (Acting), yaitu deskripsi tindakan yang akan dilakukan, skenario kerja tindakan perbaikan yang akan dikerjakan serta prosedur tindakan yang akan diterapkan.

3) Observasi (Observe), Observasi ini dilakukan untuk melihat pelaksanaan semua rencana yang telah dibuat dengan baik, tidak ada penyimpanganpenyimpangan yang dapat memberikan hasil yang kurang maksimal dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Kegiatan observasi dapat dilakukan dengan cara memberikan lembar observasi atau dengan cara lain yang sesuai dengan data yang dibutuhkan.

4) Refleksi (Reflecting), yaitu kegiatan evaluasi tentang perubahan yang terjadi atau hasil yang diperoleh atas yang terhimpun sebagai bentuk dampak tindakan yang telah dirancang. Berdasarkan langkah ini akan diketahui perubahan yang terjadi. Bagaimana dan sejauh mana tindakan yang ditetapkan mampu mencapai perubahan atau mengatasi masalah secara signifikan. Bertolak dari refleksi ini pula suatu perbaikan tindakan dalam bentuk replanning dapat dilakukan.

2. Keterampilan Menulis

a. Pengertian Keterampilan Menulis

Menurut Rusyana (2013) menulis adalah kemampuan menggunakan pola-pola bahasa dan penyampaiannya dan penyampaiannya secara tertulis untuk mengungkapkan gasan atau pesan. Dan menurut Kusumaningsih (2013) menulis adalah menyampaikan sesuatu menggunakan bahasa tulisan, dengan maksud dan pertimbangan tertentu untuk mencapai sesuatu yang dikehendaki. Menurut Pranowo (2014) Keterampilan menulis merupakan kemampuan merupakan mengungkapkan gagasan menggunakan bahasa tulis serta materi yang harus diajarkan diajarkan mencakup menulis dengan topik tertentu yang menarik.

Berdasarkan pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa keterampilan menulis merupakan kemampuan seseorang dalam mengungkapkan gagasan menggunakan bahasa tulisan. Dalam pembelajaran bahasa kemampuan menulis memiliki arti penting. Pertama, menulis dalam arti mengekspresikan pikiran dan perasaan dalam bahasa tulisan. Kedua, menulis dalam arti melahirkan bunyi-bunyi bahasa, ucapanucapan dalam bentuk tulisan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan.

b. Tujuan Menulis

Setiap tulisan memiliki beberapa tujuan, antara lain untuk memberitahukan atau menginformasikan, menghibur, meyakinkan, dan mengungkapkan perasaan atau emosi. Selain itu penulis pun memiliki tujuan tertentu atas apa yang ditulisnya. Menurut D’Angelo (dalam Tarigan 2008), tujuan menulis adalah memproyeksikan sesuatu mengenai diri seseorang. Tujuan menulis untuk menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagian besar tugas-tugas yang diberikan di sekolah dengan harapan melatih keterampilan berbahasa dengan baik secara umum

c. Manfaat Menulis

Manfaat menulis yaitu dapat mengasah kecerdasan karena menulis menuntut daya inisiatif dan kreatif dalam menemukan ide/ gagasan atau topik, kemudian meraciknya menjadi suatu tulisan yang sistematis sampai menyajikannya sehingga menimbulkan kepuasan bagi dirinya dan pembaca, serta siap dengan segala tanggapan yang diterima atas tulisannya. Selanjutnya Dalman (2015) mengatakan manfaat menulis diantaranya: peningkatan kecerdasan, pengembangan daya inisiatif dan kreativitas, penumbuhan keberanian, dan pendorongan kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.

3. Puisi

a. Pengertian Puisi

Menurut Mihardja (2012) puisi adalah seni tertulis dimana digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya. Menurut Nurgiyantoro (2016) puisi adalah genre sastra yang amat memperhatikan pemilihan aspek tersaring penggunaannya. Selanjutnya menurut Damayanti (2013) puisi adalah jenis karya sastra yang bentuknya dipilih dan ditata dengan cermat sehingga mampu mempertajam kesadaran orang akan suatu pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat bunyi, irama dan makna khusus.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa puisi adalah seni karya tulis yang menyatakan perasaan yang ditata dengan cermat untuk mempertajam kesadaran orang akan sesuatu yang dituangkan dalam ekspresi tulisan dengan menggunakan bahasa yang indah dan tidak terikat aturan.

b. Unsur-unsur Pembentuk Puisi

Puisi terbentuk atas dua struktur yakni struktur batin dan struktur fisik. Struktur batin yang terdiri dari tema, rasa, nada, dan amanat. Struktur fisik yang terdiri dari kata konkret, diksi, versifikasi, pengimajian, majas, dan tata wajah/tipografi. Berikut ini adalah penjelasan dari struktur batin dan struktur fisik puisi:

1) Struktur batin puisi adalah struktur yang berada dalam puisi tetapi secara tersirat, yang termasuk ke dalam struktur batin puisi adalah sebagai berikut:

2) Tema, yaitu ide atau gagasan dasar atau pokok persoalan yang mendasari dalam sebuah puisi, yang menduduki tempat utama di dalam cerita.

3) Rasa, yaitu sikap atau suasana hati penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisi saat menciptakannya.

4) Nada, yaitu sikap penyair terhadap pembaca melalui sebuah puisi.

5) Amanat yaitu pesan/nasehat yang ingin desampaikan pengarang kepada pembaca melalui sebuah puisi. Pesan-pesan tersebut biasanya dihadirkan dalam ungkapan yang tersembunyi

4. Hakikat Menulis Puisi

Menulis puisi merupakan kegiatan yang berada pada tingkatan apresiasi yang terakhir dala mengapresiasi karya sastra. Dengan demikian, kegiatan menulis puisi merupakan tingkatan apresiasi yang terakhir karena pada tahap tersebut proses apresiasi tidak hanya terhenti pada proses menikmati karya sastra saja. Akan tetapi, lebih lanjut pada tahap terakhir proses apresiasi seseorang dituntut untuk dapat memproduksi sebuah karya (puisi).

Dalam aspek kebahasaan, keruntutan alur berpikir merupakan faktor yang sangat penting bagi keberhasilan memproduksi sebuah karya tulis (karangan). Namun berbeda halnya dalam bidang kesastraan (terutama puisi), penyampaian alur berpikir yang runtut maupun pemakaian bahasa yang sesuai kaidah kebahasaan bukanlah hal yang berarti bahkan pemakaian bahasa puisi yang cenderung multiinterpretable menjadi slah satu ciri khas dalam kegiatan menulis puisi dan nilai lebih dalam karya tersebut. Dalam menulis puisi, aspek ekspresi penyair yang lebih diutamakan.

Dengan demikian, dalam kegiatan menulis menulis puisi, siswa dapat dengan bebas menggabungkan pengalaman batinnya di dalam dunia imajinasi yang diwujudkan dalam bentuk lambang-lambang grafis berupa penggunaan kata (diksi) yang sesuai, tipografi, persajakan, irama maupun unsur puisi lainnya yang saling mendukung. Sistem otonom yang dimiliki puisi dalam hal penggunaan bahasa secara bebas, disisi lain puisi tetap terikat dengan aturan. Kebebasan penyampaian ide-ide (mengekspresikan diri) ke dalam bentuk bahasa yang bebas tersebut hanyalah sebagai sebagai saran untuk menyampaikan pesan penyair yang tersembunyi.

5. Model Discovery learning

a. Pengertian Model Discovery learning

Hosnan (2014) menyebutkan bahwa discovery learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki, maka hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan. Menurut Suryosubroto (2009) discovery learning merupakan komponen praktik pendidikan yang meliputi metode mengajar yang memajukan cara belajar aktif, beriorentasi pada proses, mengarahkan sendiri, mencari sendiri dan reflektif. Menurut Kurniasih, dkk (2014) discovery learning adalah proses pembelajaran yang terjadi bila pelajaran disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya tetapi diharapkan siswa mengorganisasikan sendiri.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa discovery learning merupakan suatu model pembelajaran yang memajukan cara belajar aktif siswa dan mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Metode Discovery learning diatur sedemikian rupa agar siswa memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahui dan tidak melalui pemberitahuan oang lain, berdasarkan hal itu maka sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri.

b. Kelebihan dan Kekurangan Model Discovery learning

Beberapa kelebihan dari model discovery learning yang diungkapkan oleh Hosnan (2014) yaitu sebagai berikut:

1) Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampila-keterampilan dan proses-proses kognitif

2) Dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah.

3) Pengetahuan yang diperoleh melalui strategi ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer

4) Strategi ini dapat memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri.

5) Strategi ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan

6) Berpusat kepada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan.

7) Mendorong keterlibatan keaktifan siswa.

8) Menimbulkan rasa senang siswa, karena tumbuh rasa menyelidiki dan berhasil

9) Siswa akan mengerti konsep dasar ide-ide lebih baik.

10) Melatih siswa belajar mandiri

11) Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa

Hosnan (2014) juga mengungkapkan kekurangan model discovery learning, yaitu sebagai berikut:

1) Guru merasa gagal mendeteksi masalah dan adanya kesalahpahaman antara guru dengan siswa

2) Menyita waktu banyak, karena guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar aktif.

3) Menyita pekerjaan guru.

4) Tidak semua siswa mampu melakukan penemuan

5) Tidak berlaku untuk smua topik.

c. Langkah-langkah Pembelajaran Model Discovery learning

Langkah-langkah operasional dalam mengaplikasikan model discovery learning di kelas sebagai berikut:

a. Stimulation (Pemberian Rangsangan)

Tahap ini peserta didik diharapkan pada sesuatu yang menimbulkan tanda tanya, kemudian melanjutkanuntuk tidak memberikan generalisasi agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku dan aktifitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.

b. Problem Steatment (Pertanyaan/Identifikasi Masalah)

Guru memberikan kesempatan kepada murid mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satu dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis.

c. Data Collection (Pengumpulan Data)

Ketika eksplorasi berlangsung, guru dapat memberikan kesempatan kepada murid untuk mengumpulkan informasi yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Tahap ini berfungsi untukmenjawab petanyaan atau membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Konsekuensi dari tahap ini adalah murid belajar aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, yang secara tidak sengaja menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang dimiliki.

d. Data Processing (Pengelolaan Data)

Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi dan sebagainya diolah dan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu. Data tersebut berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi.

e. Verification (Pembuktian)

Murid melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan di awal.

BAB III METODE PENELITIAN 1. Subjek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII-E SMP IT Al-Musyarrofah Cianjur dengan jumlah siswa 26 orang.

2. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Penelitian ini dilakukan di SMP IT Al-Musyarrofah Cianjur.

3. Deskripsi Per Siklus

a) Siklus I

a. Tahapan Perencanaan (Planning)

1) Mengajukan permohonan izin kepada kepala sekolah, komite, dan wali murid.

2) Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar.

3) Merancang strategi dan skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan menggunakan media benda konkret

4) Menentukan indikator-indikator ketercapaian keberhasilan dalam pembelajaran.

5) Menyusun instrumen penelitian untuk proses pengumpulan data yang terdiri dari lembar penilaian dan observasi.

6) Menentukan fokus observasi dan aspek–aspek yang akan diamati sebagai pedoman lembar observasi.

b. Tahapan Pelaksanaan Tindakan (Acting)

1) Guru memberikan penjelasan mengenai tujuan pembelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik.

2) Guru melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media benda konkret. Dalam hal ini, guru melaksanakan proses benda – benda di sekitar lingkungan secara langsung. Selain itu pula, guru menggunakan IT seperti laptop, Microsoft Power Point, google form dan video pembelajaran.

3) Guru memberikan soal evaluasi melalui google form yang digunakan untuk penilaian.

c. Tahapan Pengamatan/Observasi (Observing)

Pada tahap ini, peneliti dibantu teman sejawat mengamati dan mencatat semua data dan informasi dalam proses pembelajaran selama penelitian tindakan berlangsung, sehingga dapat mengetahui proses pembelajaran sudah sesuai dengan rancangan yang telah dibuat atau belum. Pada tahap ini dilaksanakan observasi dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar siswayang diharapkan pada pembelajaran tersebut.

d. Tahapan Refleksi (Reflecting)

Dalam tahap refleksi, kegiatan yang dilakukan yaitu mengkaji secara menyuluruh tindakan yang telah dilakukan. Pada tahap ini penulis melakukan penilaian evaluasi, analisis hasil belajar, dan mendiskusikan data yang telah diperoleh. Apabila hasil belajar siswa masih rendah maka dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya.

b) Siklus II

Tahapan kegiatan pada Siklus II identik dengan tahapan yang dilakukan pada Siklus I. Alur pada siklus II sama dengan alur pada siklus I.

a. Tahapan Perencanaan (Planning)

1) Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar.

2) Merancang strategi dan skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan menggunakan media benda konkret

3) Menentukan indikator-indikator ketercapaian keberhasilan dalam pembelajaran.

4) Menyusun instrumen penelitian untuk proses pengumpulan data yang terdiri dari lembar penilaian dan observasi.

5) Menentukan fokus observasi dan aspek–aspek yang akan diamati sebagai pedoman lembar observasi.

b. Tahapan Pelaksanaan Tindakan (Acting)

1) Guru memberikan penjelasan mengenai tujuan pembelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik.

2) Guru melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media benda konkret. media benda konkret. Dalam hal ini, guru melaksanakan proses benda – benda di sekitar lingkungan secara langsung. Selain itu pula, guru menggunakan IT seperti laptop, Microsoft Power Point, google form dan video pembelajaran.

3) Guru memberikan soal evaluasi melalui google form yang digunakan untuk penilaian.

c. Tahapan Pengamatan/Observasi (Observing)

Pada tahap ini, peneliti mengamati dan mencatat semua data dan informasi dalam proses pembelajaran selama penelitian tindakan berlangsung, sehingga dapat mengetahui proses pembelajaran sudah sesuai dengan rancangan yang telah dibuat atau belum. Pada tahap ini dilaksanakan evaluasi dengan tujuan untuk mengetahui tingkat

ketercapaian hasil belajar siswayang diharapkan pada pembelajaran tersebut.

d. Tahapan Refleksi (Reflecting)

Dalam tahap refleksi, kegiatan yang dilakukan yaitu mengkaji secara menyuluruh tindakan yang telah dilakukan. Pada tahap ini penulis melakukan penilaian evaluasi, analisis hasil belajar, dan mendiskusikan data yang telah diperoleh. Apabila hasil belajar siswa masih rendah maka dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya.

Bab IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Deskripsi Prasiklus

Kegiatan observasi yang dilakukan oleh peneliti sebelum melaksanakan penelitian bertujuan untuk mengetahui kondisi pembelajaran sebelum melaksanakan tindakan. Observasi dilakukan di SMP IT Al-Musyarrofah Cianjur. Peneliti bertindak sebagai observer, yang mengamati jalannya pembelajaran dari awal hingga akhir. Pembelajaran yang dilakukan di SMP IT Al-Musyarrofah Cianjur sebelum tindakan atau prasiklus belum menggunakan model yang dapat menarik perhatian peserta didik. Guru kurang memberikan motivasi pada siswa dan siswa kurang berani dalam menjawab dan mengajukan pertanyaan pada guru. Sehingga saat proses pembelajaran, siswa kurang tertarik dan merasa jenuh untuk menerima materi. Siswa tidak dapat memahami materi secara maksimal.

Selama pembelajaran berlangsung siswa terlihat pasif, terbukti dengan hanya sebagian kecil siswa yang mau menjawab pertanyaan dari guru. Sehingga tingkat kemampuan menulis puisi masih rendah, hal ini karena penggunaan model pembelajaran yang masih kurang tepat. Hasil observasi pada kegiatan ini yaitu, sebagian besar siswa masih kesulitan dalam pembelajaran menulis yang menyebabkan hasil belajar kurang memuaskan. Untuk menentukan ketuntasan belajar ditetapkan oleh standar ketuntasan minimal (KKM) yaitu nilai 76. Hasil observasi pada tahap prasiklus menunjukkan bahwa rendahnya tingkat ketuntasan hasil belajar siswa disebabkan guru tidak menggunakan model pembelajaran yang tepat, sehingga siswa cenderung merasa bosan. Selain itu guru terlalu mendominasi dalam kegiatan pembelajaran, sehingga siswatidak memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan tersebut peneliti membuat rencana tindakan siklus I dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning.

2. Deskripsi Data Siklus I

Penelitian pada siklus 1 dilaksanakan dalam 4 tahap, yaitu

a. Tahapan Perencanaan (Planning)

Perencanaan dilakukan berdasarkan refleksi pada tahap pra siklus. Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut:

1) Peneliti membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar.

2) Peneliti merancang strategi dan skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran.

3) Peneliti menentukan indikator-indikator ketercapaian keberhasilan dalam pembelajaran.

4) Peneliti menyusun instrumen penelitian untuk proses pengumpulan data yang terdiri dari lembar penilaian dan observasi.

b. Tahapan Pelaksanaan Tindakan (Acting)

Setelah melakukan tahap perencanaan, peneliti melakukan tahap pelaksanaan tindakan. Peneliti melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model discovery learning. Dalam hal ini, peneliti melaksanakan proses pembelajaran menggunakan benda – benda di sekitar peserta didik. Selain itu juga, peneliti menggunakan IT seperti laptop, Microsoft Power Point, dan video pembelajaran.

Pembelajaran Siklus 1 berlangsung selama 2 x 35 menit, pembelajaran yang dilaksanakan adalah pembelajaran menulis puisi. Pada pembelajaran ini peneliti melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model discovery. Kegiatan pembelajaran diawali dengan ucapan salam, menanyakan kabar peserta didik, mengecek kehadiran peserta didik, dan berdo’a. Guru melakukan apersepsi dengan bertanya jawab mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran serta mengkondisikan siswa agar siap melaksanakan proses pembelajaran.

Pada kegiatan inti pembelajaran, peserta didik mengamati teks puisi pada buku cetak beserta mempelajari segala unsur pembangun dalam teks puisi. Peserta didik saling bertanya jawab tentang mengungkapkan gagasan dalam bentuk puisi. Peserta didik mulai menggali informasi dengan mencari inspirasi untuk mengungkapkan gagasan dalam teks puisi yang benar. Peserta didik mulai menuliskan puisi berdasarkan tema yang telah ditentukan oleh guru. Masing-masing peserta didik maju untuk membacakan hasil menulis puisi mereka.

Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan guru menanyakan kepada peserta didik: apa yang sudah mereka dapatkan dari proses pembelajaran yang baru saja berlangsung. Guru menanyakan nilai-nilai kehidupan dan nilai moral yang didapatkan oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yang baru saja berlangsung. Guru merefleksi hasil pembelajaran yang dilaksanakan. Guru mengakhiri pelajaran dengan ucapan terima kasih atas keaktifannya dalam kegiatan pembelajaran dan mengucapkan salam.

c. Tahapan Pengamatan/Observasi (Observing)

Pada tahap ini, peneliti mengamati dan mencatat semua data dan informasi dalam proses pembelajaran selama penelitian tindakan berlangsung, sehingga dapat mengetahui proses pembelajaran sudah sesuai dengan rancangan yang telah dibuat atau belum. Pada tahap ini dilaksanakan pengamatan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa yang diharapkan pada pembelajaran tersebut. Peneliti memperoleh data hasil penelitian dari siklus I. Sampel pada penelitian ini siswa kelas VIII-E tahun ajaran 2020/ 2021. Data diperoleh melalui instrumen penilaian proses pada kemampuan peserta didik. Adapun data yang diperoleh dari tindakan pada siklus I sebagai berikut:

Tabel Hasil Belajar Siklus 1

No

Nama

Nilai

Tuntas

Tidak Tuntas

1

Allisa Naurah Syalum

80

2

Alvira Suci Ramadhani

78

3

Ana Pebriyanti

72

4

Cinta Rahmadani

80

5

Iqlimatul Azizah

78

6

Khoirul Nisa

80

7

Kirana Adistilla

75

8

Melisa Kurniawati

75

9

Mutiara Nur Safira

79

10

Nazwa Nuraeni

78

11

Neng Pitri Andriani

74

12

Neng Indri

80

13

Nurahmawati

80

14

Putri Sulis Maulida

78

15

Puput Hardiyanti Samsudin

76

16

Putri Nasameira

80

17

Rya Ramadhani

75

18

Reviana Syamsi

78

19

Seli Marselina

78

20

Siti Aulia Apriyani

74

21

Siti Murni Hannapiah

74

22

Siti Nur'aliyah

80

23

Syifa Ahsani

76

24

Syahla Fauziah S

78

25

Ulfah Azizah

78

26

Widya Nurul Azmi

75

2008

18

7

Jumlah Nilai Maksimal

80

Rata-rata Nilai

77,37

Nilai KKM

76

Berdasarkan data hasil belajar siklus I menunjukkan bahwa presentase ketuntasan hasil belajar siswa sudah 70% (19 siswa tuntas), dan siswa yang belum tuntas mencapai 30% (8 siswa) dengan nilai rata-rata 77,37. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa presentase hasil belajar siswa masih belum mencapai indikator ketercapaian yaitu 75%.

d. Tahapan Refleksi (Reflecting)

Hasil observasi menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran dengan model discovery learning belum terlaksana secara optimal, siswa belum memenuhi target ketuntasan hasil belajar yaitu 75%. Oleh sebab itu perlu diadakan tindak lanjut pada pembelajaran siklus II dengan cara menambahkan ice breaking pada setiap pergantian mapel, sehingga diharapkan mampu memberikan semangat lagi saat menerima pelajaran.

3. Deskripsi Data Siklus II

Dalam melakukan penelitian tindakan kelas, peneliti melakukan empat tahapan proses kegiatan pembelajaran pada siklus 2 yang sama seperti pada siklus 1 yakni yang terdiri dari 4 tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Rincian keempat tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Tahapan Perencanaan (Planning)

Perencanaan dilakukan berdasarkan refleksi pada siklus I. Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut:

1) Peneliti membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar.

2) Peneliti merancang strategi dan skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan menggunakan media pembelajaran.

3) Peneliti menentukan indikator-indikator ketercapaian keberhasilan dalampembelajaran.

4) Peneliti menyusun instrumen penelitian untuk proses pengumpulan data yang terdiri dari lembar penilaian dan observasi

b. Tahapan Pelaksanaan Tindakan (Acting)

Pembelajaran siklus II dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model discovery yang mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran. Kegiatan pembelajaran diawali dengan ucapan salam, menanyakan kabar peserta didik, mengecek kehadiran peserta didik, dan berdo’a serta ice breaking (yaitu tepuk semangat). Guru melakukan apersepsi dengan bertanya jawab mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran serta mengkondisikan siswa agar siap melaksanakan proses pembelajaran.

Pada kegiatan inti pembelajaran, siswa mengamati permasalahan yang diberikan guru melalui power point. Selanjutnya peserta didik mengamati teks puisi pada buku cetak beserta mempelajari segala unsur pembangun dalam teks puisi. Peserta didik saling bertanya jawab tentang mengungkapkan gagasan dalam bentuk puisi. Peserta didik mulai menggali informasi dengan mencari inspirasi untuk mengungkapkan gagasan dalam teks puisi yang benar. Peserta didik mulai menuliskan puisi berdasarkan tema yang telah ditentukan oleh guru. Masing-masing peserta didik maju untuk membacakan hasil menulis puisi mereka, kemudian teman yang lain saling memberi tanggapan atas hasil pekerjaan temannya dan guru memberikan penguatan atas hasil jawaban peserta didik.

Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan bimbingan guru, siswa melakukan ice breaking. Kemudian guru melakukan tanya jawab dengan siswa terkait materi yang belum dipahami. Guru mengapresiasi hasil kerja siswa dan memberikan motivasi untuk menambah semangat belajar siswa. Guru mengajak siswa untuk berdoa dan kegiatan ditutup dengan ice breaking dan salam.

c. Tahapan Pengamatan/Observasi (Observing)

Pada tahap ini, peneliti mengamati dan mencatat semua data dan informasi dalam proses pembelajaran selama penelitian tindakan berlangsung, sehingga dapat mengetahui proses pembelajaran sudah sesuai dengan rancangan yang telah dibuat atau belum. Pada tahap ini dilaksanakan pengamatan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa yang diharapkan pada pembelajaran tersebut. Peneliti memperoleh data hasil penelitian dari siklus II. Sampel pada penelitian ini siswa kelas VIII-E tahun ajaran 2020/ 2021. Data diperoleh melalui instrumen penilaian proses pada ketuntasan hasil belajar peserta didik. Adapun data yang diperoleh dari tindakan pada siklus II sebagai berikut:

Tabel Hasil Belajar Siklus II

No

Nama

Nilai

Tuntas

Tidak Tuntas

1

Allisa Naurah Syalum

86

2

Alvira Suci Ramadhani

90

3

Ana Pebriyanti

80

4

Cinta Rahmadani

85

5

Iqlimatul Azizah

85

6

Khoirul Nisa

90

7

Kirana Adistilla

80

8

Melisa Kurniawati

82

9

Mutiara Nur Safira

85

10

Nazwa Nuraeni

80

11

Neng Pitri Andriani

76

12

Neng Indri

88

13

Nurahmawati

85

14

Putri Sulis Maulida

82

15

Puput Hardiyanti Samsudin

80

16

Putri Nasameira

82

17

Rya Ramadhani

90

18

Reviana Syamsi

80

19

Seli Marselina

85

20

Siti Aulia Apriyani

76

21

Siti Murni Hannapiah

80

22

Siti Nur'aliyah

82

23

Syifa Ahsani

82

24

Syahla Fauziah S

80

25

Ulfah Azizah

82

26

Widya Nurul Azmi

86

Jumlah

2159

26

0

Jumlah Nilai Maksimal

90

Rata-rata Nilai

82

Nilai KKM

76

Berdasarkan data hasil belajar siklus II menunjukkan bahwa presentase ketuntasan hasil belajar siswa sudah 100%. Semua siswa telah tuntas dengan nilai rata-rata 83.

d. Tahapan Refleksi (Reflecting)

Setelah melakukan seluruh proses pembelajaran pada siklus II, peneliti melakukan refleksi untuk menilai kinerja, hasil refleksi pada pembelajaran siklus II diantaranya:

1) Ketuntasan hasil belajar siswa telah mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan siklus I.

2) Ketuntasan hasil belajar meningkat dari yang semula hanya 19 siswa dengan presentase 70%. Pada siklus II meningkat menjadi 27 siswa dengan presentase 100%.

Pada pembelajaran siklus II dengan model discovery learning dan ice breaking siswa nampak tertarik dan lebih aktif dalam pembelajaran. Hal ini terlihat dari presentase hasil belajar siswa mengalami kenaikan menjadi 100% pada siklus II. Dengan demikian dari hasil observasi pada siklus II sudah mencapai kriteria keberhasilan peningkatan keaktifan peserta didik, karena sudah diperoleh peningkatan di atas 75%.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan

Penerapan model discovery learning dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas VIII-E SMP IT Al-Musyarrofah Cianjur. Pada hasil ketuntasan belajar siswa secara individual pada tiap siklus pembelajaran mengalami peningkatan. Pada siklus I hasil belajar menulis puisi dari 27 siswa hanya 19 yang telah mencapai KKM yaitu nilai 76 ke atas dan 8 siswa masih di bawah nilai KKM dengan presentase 70%, kemudian pada siklus II mengalami peningkatan hasil belajar siswa dengan persentase menjadi 100%, 27 siswa semuanya tuntas dengan hasil nilai diatas KKM.

2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka implikasi dari kesimpulan tersebut dikemukakan saran sebagai berikut:

1. Agar ketuntasan belajar siswa meningkat, guru hendaknya menggunakan model pembelajaran yang tepat menarik dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis puisi siswa.

2. Model pembelajaran discovery learning dapat menjadi alternatif dalam pembelajaran menulis puisi.

DAFTAR PUSTAKA

Damayanti. 2013. Buku Pintar Sastra Indonesia: Puisi, Sajak, Syair, Pantun, dan Majas. Yogyakarta: Araska

Gloriani, Y. (2014). Pengkajian Puisi Melalui Pemahaman Nilai-Nilai Estetika Dan Etika UntukMembangun Karakter Siswa. Metasastra, Volume 3

Himawan, R. (2020). Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning dalam Pembelajaran Teks Puisi Rakyat di SMP. PROSIDING SAMASTA.

Hosnan. 2014. Pendekatan Saintifik Dan Konseptual Dalam Pembelajaran Abad. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Kurniasih, Sani. 2014. Strategi-Strategi Pembelajaran. Alfabeta: Bandung

Kusumaningsih, Dewi. 2013. Terampil Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset.

Mihardja. Ratih. 2012. Sastra Indonesia. Jakarta: PT Niaga Swadaya

Nurgiyantoro, Burhan. 2006. Dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta: Rineka Cipta.

Putri, I. S., Juliani, R., & Lestari, I. N. (2017). Pengaruh model pembelajaran discovery learning terhadap hasil belajar siswa dan aktivitas siswa. Jurnal Pendidikan Fisika, 6(2), 91-94.

Pranowo. 2014. Teori Belajar Bahasa Untuk Guru dan Mahasiswa Jurusan Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Suryosubroto. 2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rhineka Cipta.

Tarigan, H. G. (2013). Menulis: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

LAMPIRAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMP IT Al-Musyarrofah Cianjur

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia

Kelas/Semester : VIII/ 1

Materi Pokok : Teks Puisi

Alokasi Waktu : 2 x 40 menit

A. KOMPETENSI INTI

KI-1

Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.

KI-2

Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.

KI-3

Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata.

KI-4

Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.

B. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

Kompetensi Dasar

Indikator Pencapaian Kompetensi

4.8 Menyajikan gagasan, perasaan, pendapat, dalam bentuk teks puisi secara tulis/lisan dengan memperhatikan unsur-unsur pembangun puisi

1.

2.

3.

4.

4.1.

4.2.

4.3.

4.4.

4.5.

4.6.

4.7.

4.8.

4.8.1. Mengungkapkan gagasan dalam puisi baik secara tulis maupun lisan

4.8.2. Mampu menuliskan atau membacakan puisi dengan memperhatikan unsur-unsur pembangun puisi

C. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Peserta didik melalui kegiatan mengenal teks puisi diharapkan dapat mengungkapkan gagasan dalam puisi baik tulis maupun lisan

2. Peserta didik melalui kegiatan mengenal teks puisi diharapkan dapat menulis/membacakan puisi dengan memperhatikan unsur-unsur pembangun puisi

D. MATERI PELAJARAN

1. Unsur-unsur puisi

2. Langkah menulis puisi

3. Membaca puisi

E. MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN

Pembelajaran dilakukan dengan model discovery learning

F. MEDIA, ALAT, DAN SUMBER PEMBELAJARAN

Media yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran meliputi:

1. Media : Bahan tayang (power point slide) pembelajaran buatan guru

2. Alat : LCD Projektor

3. Sumber :

a. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2018. Bahasa Indonesia Kelas VIII (Buku Guru). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

b. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2018. Bahasa Indonesia Kelas VIII (Buku Siswa). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

c. Lingkungan sekitar/ internet/ majalah

G. KEGIATAN PEMBELAJARAN

No.

Langkah-langkah Pembelajaran

Waktu

1

Kegiatan Pendahuluan

a. Guru dan peserta didik berdoa sebelum kegiatan pembelajaran.

b. Guru dan peserta didik menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan mengucap salam.

c. Guru mengecek kehadiran peserta didik.

d. Guru menyampaikan Tujuan Pembelajaran, KD dan indikator yang akan dicapai pada kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung.

e. Guru menyampaikan kaitan antara materi yang akan dipelajari dengan materi yang sudah dikuasai oleh peserta didik.

f. Guru membangun konteks untuk menumbuhkan sikap yang akan diintegrasikan pada kegiatan pembelajaran.

10’

2

Kegiatan Inti

a. Peserta didik mengamati teks puisi pada buku cetak beserta mempelajari segala unsur pembangun dalam teks puisi

b. Peserta didik saling bertanya jawab tentang mengungkapkan gagasan dalam bentuk puisi

c. Peserta didik mulai menggali informasi dengan mencari inspirasi untuk mengungkapkan gagasan dalam teks puisi yang benar

d. Peserta didik mulai menuliskan puisi berdasarkan tema yang telah ditentukan oleh guru

e. Masing-masing peserta didik maju untuk membacakan hasil menulis puisi mereka

60’

3

Kegiatan Penutup

a. Guru menanyakan kepada peserta didik: apa yang sudah mereka dapatkan dari proses pembelajaran yang baru saja berlangsung.

b. Guru menanyakan kesulitan yang dialami peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yang baru saja berlangsung kemudian menyampaikan cara mengatasi kesulitan tersebut.

c. Guru menanyakan nilai-nilai kehidupan dan nilai moral yang didapatkan oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yang baru saja berlangsung.

d. Guru menyampaikan tugas dan materi yang akan dipelajari pada pertemuan yang akan datang.

e. Peserta didik memberikan pilihan ekspresi pada akhir pembelajaran.

10’

H. PENILAIAN

1. Teknik Penilaian

a. Sikap spiritual dan sosial dilakukan dengan teknik observasi (jurnal).

No.

Teknik

Bentuk

Instrumen

Contoh Butir

Instrumen

Waktu

Pelaksanaan

Keterangan

1.

Observasi

Lembar Observasi (Catatan Jurnal)

Percaya diri

Kerja sama

Tanggung jawab

Saat

pembelajaran

berlangsung

Penilaian untuk dan

pencapaian

pembelajaran

(Assessment for and

of learning)

b. Keterampilan

No.

Teknik

Bentuk

Instrumen

Contoh Butir

Instrumen

Waktu

Pelaksanaan

Keterangan

1.

Tes Lisan

Lisan

Terlampir

Saat

pembelajaran

usai

Penilaian untuk

pembelajaran

(Assessment for

learning) dan sebagai pembelajaran (assessment as

learning)

2. Pembelajaran Remedial

Berdasarkan hasil analisis ulangan harian, peserta didik yang belum mencapai ketuntasan belajar diberi kegiatan pembelajaran remedial dalam bentuk;

a. bimbingan perorangan jika peserta didik yang belum tuntas ≤ 20%;

b. belajar kelompok jika peserta didik yang belum tuntas antara 20% dan 50%;

c. pembelajaran ulang jika peserta didik yang belum tuntas ≥ 50%.

3. Pembelajaran Pengayaan

Berdasarkan hasil analisis penilaian, peserta didik yang sudah mencapai ketuntasan belajar diberi kegiatan pengayaan dalam bentuk penugasan untuk mempelajari soal-soal PAS.

Mengetahui: Cianjur, Oktober 2021

Kepala SMP IT Al-Musyarrofah, Guru Mata Pelajaran,

Ihas Rofiqoh, S.Ag Nenratih Patimah, S.Pd.

LAMPIRAN PENILAIAN

Pertama

1. Penilaian Sikap

Jurnal Perkembangan Sikap (Spiritual dan Sosial)

Nama Sekolah : SMP IT Al-Musyarrofah Cianjur

Kelas / Semester : VIII/ 1

Tahun Pelajaran : 2020/2021

No.

Waktu

Nama Siswa

Catatan Perilaku

Butir Sikap

Tanda Tangan

Tindak

Lanjut

1

2

Dst.

2. Pengetahuan

a. Tes Tertulis

1) Kisi-kisi tes tertulis

Nama Sekolah : SMP IT Al-Musyarrofah Cianjur

Kelas / Semester : VIII/ 1

Tahun Pelajaran : 2020/2021

No.

Kompetensi Dasar

Indikator

Materi

Teknik Penilaian

2.

4.8 Menyajikan gagasan, perasaan, pendapat, dalam bentuk teks puisi secara tulis/lisan dengan memperhatikan unsur-unsur pembangun puisi

4.8.1 Mengungkapkan gagasan dalam puisi baik tulis maupun lisan

4.8.2 Mampu menulis/membacakan puisi berdasarkan konteks

1. Llangkah menulis teks puisi

2. Mmembaca teks puisi

Keterampilan

a. Rubrik Penilaian

(KD 4.8 Menyajikan gagasan, perasaan, pendapat, dalam bentuk teks puisi secara tulis/lisan dengan memperhatikan unsur-unsur pembangun puisi)

No

Aspek yang dinilai

Skor

Bobot Nilai

TUGAS INDIVIDU

1

Lafal

ü Sangat jelas

ü Jelas

ü Kurang jelas

ü Tidak jelas

4

3

2

1

4

Intonasi

ü Sangat tepat

ü Tepat

ü Kurang tepat

ü Tidak tepat

4

3

2

1

4

Ekspresi

ü Sangat sesuai

ü Sesuai

ü Kurang sesuai

ü Tidak sesuai

4

3

2

1

4

Kepercayaan Diri

ü Sangat percaya diri

ü Percaya diri

ü Kurang percaya diri

ü Tidak percaya diri

4

3

2

1

4

Skor Maksimal

16

Skor akhir = Skor yang diperoleh x 100

Skor maksimal

LAMPIRAN MATERI

A. Menulis Puisi

Pengalaman bagi sebagian orang dapat dijadikan sumber inspirasi dalam berkarya, salah satunya dengan menulis puisi. Inspirasi dapat muncul pada saat orang mengalami, melihat, dan mengamati suatu peristiwa. Puisi merupakan ungkapan jiwa seseorang atas pengolahan pengalamannya. Pengalaman itulah yang dapat dituangkan dalam puisi, tinggal bagaimana melatih untuk menata ungkapan-ungkapan tersebut ke dalam kalimat menggunakan pilihan kata-kata yang puitis. Untuk memudahkan dalam menulis puisi perhatikan langkah-langkah berikut.

1. Menentukan ide

Ketika akan menulis sebuah puisi, hal pertama yang dilakukan adalah menentukan ide, setelah ide didapat baru mewujudkannya dalam bentuk puisi pada tahap ini memerlukan perenungan untuk mengolah ide yang diperoleh.

2. Menentukan tema

Tema merupakan persoalan yang diangkat dalam sebuah puisi setelah mendapatkan ide. Persoalan tersebut tergambarkan dalam bidang sosial, budaya maupun masalah kemanusiaan.

3. Menentukan judul

Judul merupakan perwajahan dari puisi. Umumnya pembaca atau penikmat puisi merasa tertarik bila jkudul puisi menarik, judul puisi disesuaikan dengan isi puisi.

4. Menentukan pilihan kata atau diksi yang tepat

Kata-kata yang tepat dan padat bisa menciptakan puisi menjadi indah, jelas, puitis dan padat makna

5. Mewujudkan menjadi puisi

B. Membaca Puisi

Mendeklamasikan puisi bukan sekadar membunyikan kata-kata, melainkan untuk mengomunikasikan ekspresi perasaan. Perlu diperhatikan beberapa hal dalam membacakan puisi, antara lain sebagai berikut:

1. Lafal, perkataan atau ucapan seseorang pada huruf ataupun kata. Dalam mendeklamasikan puisi pengucapan huruf harus diucapkan dengan jelas untuk memperindah puisi saat dibacakan.

2. Intonasi atau lagu kalimat berkaitan dengan naik turunnya sebuah nada dalam pengucapan kata ataupun kalimat. Intonasi berkaitan dengan irama, yaitu unsure penting dan jiwa dari sebuah puisi.

3. Ekspresi merupakan tampilan atau perwajahan dari penjiwaan dan penghayatan isi puisi yang dapat dilakukan jika pembaca mampu menginterpretasi makna puisi yang tepat. Ketika mendeklamasikan puisi harus dapat mengungkapkan maksud, gagasan puisi melalui air muka secara tepat, entah berupa kegembiraan, antusias, harapan dan semangat.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post