Suherman, C.DAI., M.A., M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Keharusan Berpikir Kritis Bagi Pendidik dan Peserta Didik
Salah satu faktor kejayaan Peradaban Islam di masa lampau adalah hadirnya penalaran kritis dalam setiap fan keilmuan.

Keharusan Berpikir Kritis Bagi Pendidik dan Peserta Didik

Di era yang serba disrupsi, ada baiknya pendidikan Islam, khususnya pendidik dan peserta didik mengutamakan kembali penalaran kritis dalam setiap pembelajarannya. Berpikir kritis menempati peran sentral dalam Kurikulum Merdeka saat ini. Sebab, hanya dengan berpikir kritis, seseorang tidak terjebak, atau bahkan terbuai dan termakan narasi-narasi dan konten-konten yang dapat menjerumuskan ke dalam hal-hal yang kontraproduktif. Keharusan bersikap kritis, selalu mempertanyakan sesuatu dan tidak asal bantah-membantah tanpa dibarengi fakta ilmiah. Bahkan Pemeluk Islam mampu berkembang pesat sampai saat ini karena stimulus dari Allah SWT untuk berpikir kritis. Dimana stimulus tersebut diabadikan pada QS. Ali Imran : 66.

هٰٓاَنْتُمْ هٰٓؤُلَاۤءِ حَاجَجْتُمْ فِيْمَا لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاۤجُّوْنَ فِيْمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya : "Begitulah kamu. Kamu berbantah-bantahan tentang apa yang kamu ketahui, tetapi mengapa kamu berbantah-bantahan (juga) tentang apa yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".

Dalam konteks pendidikan, bersikap kritis dan mempertanyakan segala sesuatu merupakan hal yang penting untuk terus dipupuk dan ditanamkan sejak dini pada peserta didik. Hal ini nantinya juga menyangkut pada kemampuan literasi digital pendidik dan peserta didik. Namun, bukan berarti bersikap kritis kemudian menskepstiskan segala sesuatu, tidak. Melainkan dalam rangka agar penggunaan akal dalam mencerna segala bentuk informasi menjadi terasah dan tajam.

Kata ‘kriti’k sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Merriam-Webster, adalah tindakan yang mengekspresikan ketidaksetujuan (the act of expressing disapproval) terhadap sesuatu atau informasi dan atau membuat penilaian (menelaah, mempertanyakan) yang cermat tentang kualitas sesuatu tersebut (the activity of making careful judgments about the good and bad qualities). Jadi, berpikir kritis dalam Islam merupakan sebuah keharusan. Salah satu faktor kejayaan Peradaban Islam di masa lampau adalah hadirnya penalaran kritis dalam setiap fan keilmuan.

Sesungguhnya berpikir kritis telah dicontohkan oleh al-Ghazali. Kita tahu bahwa al-Ghazali sebelum “menekuni” tasawuf dan loyalis tasawuf, ia selalu gelisah ketika segala sesuatu yang ia pelajari tidak menemukan apa yang dia cari selama ini. Perasaan gelisah ini kemudian ia lukiskan dalam al-Munqidz min al-Dhalal. Di dalam kitab ini, ia berkeluh kesah tentang pencarian jawaban dari se-abreg pertanyaan dalam benaknya. Bahkan, beliau tidak mudah percaya dan taqlid buta kepada suatu pendpaat yang dianut oleh mayoritas orang sebelum ia betul-betul meneliti keabsahan dan kevalidan pendapat tersebut.

Kejadian serupa juga dialami Ulil Abshar Abdalla, intelektual muda NU yang sekarang telah “taubat” dari pemikiran “Islam Liberal” dan saat ini menjadi “penerus” Ghazalian dengan ngaji Ihya di laman facebooknya. Sebagaimana penuturan Gus Ulil dalam Alif.ID, ia tumbuh dalam lingkungan Islam tradisional (NU) dan menghirup oksigen kultural bernama tawadlu’ (ethics of humility), sehingga tidak suka menghakimi pihak lain yang berbeda, minimal mengkritisinya. Sebab hal itu ditabukan dalam kultur dimana ia tumbuh, kecuali jika “diprovokasi” secara tidak proporsional.

Kita tidak akan membahas bagaimana perjalanan keilmuan al-Ghazali dan Ulil, namun yang dapat diteladani dari beliau berdua adalah sejak muda, mereka sudah terlatih untuk berpikir dan bersikap kritis, sehingga tidak mudah percaya terhadap suatu informasi, narasi-narasi dakwah yang acapkali mengkafirkan sesama maupun konten-konten pembelajaran yang mengarah ke sana. Penting kiranya, bagi pendidik dan peserta didik, untuk membudayakan berpikir dan bersikap kritis.

Dengan demikian, pendidik dan peserta didik serta praktisi dan penggiat pendidikan, hendaknya selalu menjadi pembaca aktif, bukan pembaca pasif. Artinya, bacaan yang dibaca atau informasi yang dibaca dan materi yang diajarkan oleh seseorang selalu ditelaah terlebih dahulu. Sebab, di tengah derasnya arus informasi saat ini yang mana media sosial selalu meng-update setiap saat, maka diperlukan kejelian dan ketelitian di dalam menelan informasi tersebut. Maka, dalam konteks ini, berpikir kritis menemukan titik signifikansinya di sini. dan Akhirnya .... Jadilah Pendidik dan Peserta Didik yang selalu Berpikir Kritis dan Realistis dengan Penuh Ketawadhuan. Wallahu A’lam.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post