Suherman, C.DAI., M.A., M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Selamat Jalan Guru Moderasi 'Shaikh Yusuf al-Qaradawi'
Islam adalah agama yang toleran, yang sangat menghargai nyawa manusia, dan memandang bahwa serangan atas manusia yang tak berdosa merupakan dosa yang memilukan

Selamat Jalan Guru Moderasi 'Shaikh Yusuf al-Qaradawi'

Sebuah analogi disusun oleh Shaikh Yusuf al-Qaradawi sebagai respon atas kasus runtuhnya menara kembar WTC peristiwanya yang terjadi pada 11 September 2001 dalam karya berjudul al Shahwah al Islamiyyah bain al Juhud wa al Tatharruf. Analogi tersebut ditulis untuk menjelaskan bahwa konsep jihad yang menimbulkan tragedi kemanusiaan jauh dari sifat toleran Islam yang menghargai kemanusiaan dan menggambarkan karakter jihad Islam yang jauh dari kekerasan dan sikap berlebihan. "Islam adalah agama yang toleran, yang sangat menghargai nyawa manusia, dan memandang bahwa serangan atas manusia yang tak berdosa merupakan dosa yang memilukan".

Dalam hal bernegara Shaikh Yusuf al-Qardhawi menyatakan bahwa Islam adalah suatu sistem yang integral, yang mencakup agama dan negara sekaligus. Dalam bahasa Shaikh Yusuf al-Qardhawi, Islam yang benar adalah akidah, ibadah, tanah air dan kebangsaan, toleransi dan kekuatan, moral dan material, kebudayaan dan hukum. Meskipun Islam merupakan ajaran yang bersifat universal, menyangkut berbagai sistem kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya maupun hukum, namun ketika nilai itu dikaitkan dengan suatu negara tertentu, maka ajaran yang bersifat universal tersebut berbenturan dengan budaya dalam masyarakat yang bersangkutan. Indonesia, misalnya, sebagai sebuah negara dimana penduduknya mayoritas beragama Islam, tapi di dalam praktek ideologi bernegara memiliki karakteristik yang berbeda dengan masyarakat muslim dunia lainnya. Sebagai agama yang komprehensif, Islam menyatukan berbagai persoalan moral dan material, serta mencakup berbagai kegiatan manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat. Karena itu, aspek-aspek negara, hukum, demokrasi dan politik hanyalah merupakan bagian-bagian dari ad-din al-Islami.

Islam sebagai agama moderat bertujuan agar para penganutnya bisa hidup dengan mudah dan bisa berinteraksi dengan masyarakatnya tanpa mengalami kesulitan. Untuk itu maka Islam memberikan petunjuk kepada para pemeluknya untuk tidak melampaui batas dalam pengamalan agama sehingga membawa akibat buruk atau dalam istilah tafsir disebut sebagai al-ghuluw. Sikap berlebihan merupakan bencana lama yang terbukti menjadi sebab kehancuran umat sebelum ini.

Menurut Informasi dalam kajian-kajian tafsir, Yahudi dimasa lampau senantiasa melakukan perbuatan melampaui batas sebagai upaya intimidasi, melakukan kejahatan dengan melampaui batas dan menunjukkan keangkuhan kepada para pendeta dan tokoh agamanya bahkan para Nabi. Sebagaimana dalam sebuah hadis disebutkan:

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ....، وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

Artinya : “Waspadailah oleh kalian tindakan “ghuluw” dalam beragama sebab sungguh ghuluw dalam beragama telah menghancurkan orang sebelum kalian.” (HR. An-Nasâ`iy dari Ibn ‘Abbas).

Stigma buruk terhadap syariah Islam seringkali melekat karena tingkah laku oknum umat Islam. Keagungan dan ketinggian agama Islam sering kali terhijab oleh tingkah-laku umat Islam sendiri. Betapa buruknya penempatan lukisan yang sangat menawan, indah, dan glamour dalam sebuah bingkai lusuh yang sangat sederhana dan tidak cocok sama sekali. Mata menjadi kehilangan selera untuk memandang dan menikmati keindahannya, akhirnya menghalangi jiwa untuk merasakan dan menyentuh berbagai keindahan di dalamnya sehingga hilang penilaian baik tentangnya. Begitulah Muhammad Abduh menyatakan dengan ungkapan bijaknya setelah pengalamannya yang panjang di kedalaman jiwa dan masyarakat Islam, “al-Islâm mahjûbun bi al-muslimîn,” yang artinya Islam itu tertutup oleh pengikut-pengikut Islam itu sendiri. KETIKA UMAT ISLAM TERLALU STATIS DALAM HAL YANG HARUSNYA DINAMIS DAN TERLALU JAUH MELANGKAH PADA HAL YANG SEHARUSNYA TAK BOLEH BERUBAH MAKA UMAT ISLAM TIDAK MEWAKILI AJARAN AGAMANAYA.

Begitu juga keindahan Al-Qur`an inspirasi awal ajaran mulia Islam, seringkali keindahannya tertutupi oleh keterbatasan pemamahaman pembacanaya. Bagi orang-orang yang berpikiran jernih dan objektif, tentunya tidak akan mendapat kesulitan untuk membedakan mana ajaran-ajaran Islam yang samhah dan toleran dengan tindakan-tindakan sebagian pemeluknya yang menyimpang.

Semoga para ulama dan cendekiawan muslim dapat tetap berdiri di atas dalil dengan tetap menggunakan nalar logika yang sehat, agar tidak ada lagi kezaliman dan kesewenangan dijalankan atas legitimasi teks Al-Qur`an dan Hadis Nabi Muhammad Shalla Allah ‘alaihi wa Sallam.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post