Suherman, C.DAI., M.A., M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Karakter 'Pemimpin' dalam Perspektif Al-Qur'an
Imam al-Mawardi dalam buku Ahkam Sulthaniyah menjelaskan apabila terdapat dua orang yang memenuhi syarat untuk diangkat menjadi pemimpin, jika salah satu dari keduanya lebih pandai, sementara yang satunya lebih berani, maka yang layak dipilih adalah sosok yang lebih dibutuhkan pada periode itu.

Karakter 'Pemimpin' dalam Perspektif Al-Qur'an

Dalam Islam, pemimpin dapat dipahami juga sebagai umara yang sering disebut dengan ulil amri. (QS. An-Nisa ayat 59) “Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu”.

Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah, menjelaskan bahwa kata ulil amri adalah orang-orang yang berwenang mengurus kaum muslimin. Mereka adalah orang yang dapat diandalkan dalam menangani persoalan-persoalan kemasyarakatan. Bisa saja mereka adalah para penguasa /pemerintah, ulama, ataupun yang mewakili masyarakat dalam berbagai kelompok dan profesinya. Dan perintah taat kepada ulil amri tidak disertai dengan kata taatilah. Karena mereka tidak memiliki hak untuk ditaati, bila ketaatan kepada mereka bertentangan dengan ketaatan kepada Allah Swt. atau Rasulullah Saw.

Dalam Alquran dapat dijumpai beberapa ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, di antaranya:

Memiliki Kesabaran dan Ketabahan

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا۟ ۖ

“Dan Kami jadikan mereka pemimpin ketika mereka sabar/tabah”. (Alsajdah [32]: 24)

Kesabaran dan ketabahan dijadikan pertimbangan dalam mengangkat seorang pemimpin. Sifat ini merupakan syarat pokok yang harus ada dalam diri seorang pemimpin. Sedangkan sifat yang lain adalah sifat-sifat yang lahir akibat adanya sifat pokok (kesabaran) tersebut.

Mampu Menjadi dan tidak sekedar Memberi Contoh

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا۟ ۖ وَكَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. Alanbiya : 73)

Seorang pemimpin, dituntut tidak hanya mampu menunjukkan, tetapi juga mengantarkan rakyat ke pintu gerbang kebahagiaan. Atau dengan kata lain, tidak hanya sekedar mengucapkan dan memberikan saran, tetapi hendaknya mampu mempraktekkan pada diri sendiri terlebih dahulu, kemudian mensosialisasikan di tengah masyarakat.

Memiliki Kekuatan

Pemimpin yang kuat merupakan pemimpin yang mampu menegakkan tugas dan menanggung beban amanahnya. Pemimpin yang memiliki kriteria kuat dan amanah sekaligus ini tentunya sangat jarang ditemukan. Akan tetapi, jika kriteria yang dimiliki dari seorang calon pemimpin hanya salah satu di antara kedua kriteria ini, maka prioritas utama ditentukan menurut kebutuhan dari wilayah yang dipimpinnya. Jika wilayahnya dalam keadaan tidak aman, pemimpin yang kuat dan berani lebih bermanfaat daripada pemimpin yang jujur namun lemah.

Imam al-Mawardi dalam buku Ahkam Sulthaniyah menjelaskan apabila terdapat dua orang yang memenuhi syarat untuk diangkat menjadi pemimpin, jika salah satu dari keduanya lebih pandai, sementara yang satunya lebih berani, maka yang layak dipilih adalah sosok yang lebih dibutuhkan pada periode itu.

Jika kondisinya lebih membutuhkan sifat keberanian lantaran merebaknya usaha untuk melakukan pemisahan antar wilayah dan maraknya pemberontakan, sosok pemimpin yang lebih layak dipilih tentunya yang lebih memiliki keberanian. Akan tetapi juga, kondisinya lebih membutuhkan keilmuan lantaran meratanya sikap hidup yang jumud dan menyebarnya paham-paham yang bertentangan dengan ideologi negara dan agama, pemimpin yang layak dipilih adalah yang lebih memiliki ilmu/cendekiawan.

Menunaikan Amanah dan Adil

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا

”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-nisa’: 58)

Ayat ini merangkum dua kriteria penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu anjuran menunaikan amanah dan berlaku adil dalam segala urusan. Dalam ayat ini ketika memerintahkan agar menetapkan hukum dengan adil, ini berarti perintah berlaku adil ditujukan kepada manusia secara keseluruhan. Dengan demikian baik amanah maupun keadilan harus ditunaikan dan ditegakkan tanpa membedakan agama, keturunan, atau ras.

Dari hal ini tentu dapat diketahui bagaimana pentingnya sebuah pengetahuan dalam memilih pemimpin ataupun menyempurnakan keilmuan untuk menjadi seorang pemimpin. Melalui bekal tersebut, semoga pemimpin kedepannya In sya Allah dapat menjalankan roda kepemimpinannya untuk kesejahteraan rakyat dan negara.

Wallahu a’lam bish shawab.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post