Keakraban dengan Malam
Ada ibadah yang tidak lahir dari kewajiban sosial, tidak tumbuh dari sorotan manusia, dan tidak hidup dari tepuk tangan siapa pun. Ia lahir dari sunyi. Dari malam. Dari kesendirian yang hanya dihuni seorang hamba dan Tuhannya. Itulah qiyamul lail.
Pada awalnya, salat malam terasa berat. Alarm berbunyi seperti musuh. Selimut terasa seperti rantai. Kasur seperti magnet. Namun anehnya, ketika seseorang bertahan—terus bertahan—malam pelan-pelan berubah watak. Ia tidak lagi menakutkan, tapi memanggil. Tidak lagi berat, tapi hangat. Tidak lagi sunyi, tapi akrab.
Sampai pada satu titik, seseorang tidak lagi bangun untuk salat malam, melainkan bangun karena rindu salat malam. Ia gembira ketika malam datang. Ia menunggu jam-jam sunyi seperti orang menunggu pertemuan dengan kekasih. Ia merasa ada yang hilang bila malam terlewat tanpa sujud dan munajat. Dan ketika ia berdiri menghadap Allah, keadaannya berbeda dengan keadaan hidupnya di waktu lain.
Tubuhnya masih sama, kamar masih sama, sajadah masih sama—tapi jiwanya tidak. Ada rasa tenang yang tidak bisa dijelaskan. Ada keakraban yang tidak bisa dipalsukan. Ada kebahagiaan yang tidak tergantung kabar baik dunia. Ruhnya seakan berenang di lautan penghambaan kepada Allah Ta’ala. Bukan tenggelam—justru menemukan napasnya di sana. Ia merasa ringan. Ia merasa pulang.
Dan di situlah rahasia qiyamul lail bekerja.
Ibadah yang dilakukan saat manusia lain tertidur, saat dunia mematikan lampunya, saat nama kita tidak disebut siapa pun—itulah ibadah yang paling dekat dengan keikhlasan. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang menilai. Tidak ada yang memotret. Tidak ada yang memuji. Yang ada hanya Allah. Dan seorang hamba yang datang tanpa topeng.
Karena itulah, Allah menolong orang-orang yang menjaga salat malam dengan pertolongan yang tidak pernah putus. Bukan selalu berupa uang. Bukan selalu berupa jabatan. Bukan selalu berupa kelapangan dunia. Tapi berupa keteguhan hati. Kejernihan pikiran. Ketenteraman jiwa. Dan kemudahan-kemudahan halus yang tidak disadari orang lain.
Allah ridha kepadanya karena ia mengikhlaskan ibadahnya. Di saat manusia lain lalai dan lengah. Dan ridha Allah lebih mahal daripada seluruh hasil dunia. Ada satu hukum spiritual yang sering luput kita sadari: Ibadah yang dilakukan ketika orang lain lalai, bila dikerjakan dengan ikhlas, dibalas Allah dengan anugerah tanpa perhitungan. Tanpa invoice. Tanpa kuitansi. Tanpa laporan.
Allah memberi lebih dari yang diminta. Menyelesaikan masalah sebelum dimohon. Menjaga dari bahaya yang tidak terlihat. Maka qiyamul lail bukan sekadar salat tambahan. Ia adalah pintu rahasia. Ia adalah jalur cepat. Ia adalah ruang VIP antara hamba dan Tuhan.
Dan siapa yang telah mencicipinya, akan mengerti satu hal: Tidak semua kenikmatan hidup berbentuk dunia. Sebagian justru berbentuk sunyi, sujud, dan air mata yang hanya Allah yang tahu harganya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan