Suherman, C.DAI., M.A., M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Perahu yang Dilubangi dan Hati yang Disatukan
Hidup memang tidak selalu meminta kita sepakat. Tapi selalu meminta kita beradab

Perahu yang Dilubangi dan Hati yang Disatukan

Ada kisah yang sering kita baca, tapi jarang benar-benar kita hidupi. Tentang seorang nabi yang protes, dan seorang nabi lain yang tampak tenang—nyaris tak peduli. Padahal keduanya sama-sama berada di jalan kebenaran. Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir itu, jika dibaca pelan-pelan, bukan sekadar cerita tentang ilmu laduni dan fiqih. Ia adalah cerita tentang perbedaan sudut pandang, dan betapa sulitnya mengelola perbedaan tanpa saling mencurigai niat.

Ketika perahu dilubangi, Nabi Musa tidak sedang cerewet. Ia sedang menjalankan tugasnya. Dalam bahasa fiqih, itu disebut ingkarul munkar. Diam justru menjadi dosa. Perahu itu bukan milik Nabi Khidir. Ia dipinjamkan secara cuma-cuma oleh orang-orang yang baik. Lalu dirusak. Secara lahir, itu salah. Maka Musa bersuara. Protesnya bukan emosi, tapi tanggung jawab. Bukan sok tahu, tapi keberpihakan pada hukum yang tampak.

Menariknya, para ulama tidak menempatkan protes Nabi Musa sebagai kekeliruan. Justru di situlah kelas beliau. Orang yang berani berkata “ini tidak benar” ketika memang tampak tidak benar, adalah orang yang sehat nuraninya. Fiqih hidup di wilayah itu: yang kasat mata, yang bisa diadili, yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.

Namun Nabi Khidir juga tidak sedang bermain-main. Ia melihat sesuatu yang belum sampai ke mata Nabi Musa. Di depan sana ada kekuasaan zalim yang hanya merampas perahu-perahu yang sempurna. Maka perahu itu “diselamatkan” dengan cara yang tampak kejam. Dirusak agar selamat. Disakiti agar tidak dirampas. Logika ini memang tidak ramah bagi fiqih lahir, tapi ia bekerja di wilayah hikmah.

Di sinilah kita sering tergelincir. Kita mengira salah satu harus dibenarkan, yang lain disalahkan. Padahal dua-duanya benar di maqamnya masing-masing. Nabi Musa benar sebagai penjaga hukum. Nabi Khidir benar sebagai pemilik visi. Masalahnya bukan siapa yang salah, tapi apakah kita mampu menerima bahwa kebenaran punya lebih dari satu pintu.

Masalah hari ini sering bukan pada perbedaan pendapat, tapi pada kegagalan mengelola perbedaan itu. Sedikit saja beda sudut pandang, langsung dicurigai niatnya. Padahal boleh jadi yang satu sedang berdiri di wilayah fiqih, yang lain di wilayah hikmah. Yang satu melihat “rusak sekarang”, yang lain melihat “selamat nanti”.

Karena itu doa para guru kita terasa sangat relevan: Allahumma allif baina qulubina wa aslih dhata bainina. Bukan doa agar semua orang sepakat. Tapi agar hati tetap terikat meski pikiran tidak selalu sejalan. Agar konflik tidak menjadi permusuhan, dan perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan.

Barangkali, hidup memang tidak selalu meminta kita sepakat. Tapi selalu meminta kita beradab. Nabi Musa dan Nabi Khidir tidak berpisah karena saling menyesatkan. Mereka berpisah karena batas ilmu. Dan perpisahan itu tetap bersih, tetap bermartabat.

Maka ketika hari ini kita berdebat, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan: “Siapa yang paling benar?”Melainkan: “Di maqam mana aku sedang berdiri, dan apakah aku masih sanggup menghormati maqam orang lain?” Sebab perahu boleh saja dilubangi. Tapi hati, jangan sampai.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post