Tidur sebagai Ibadah Diam-Diam
Gus Baha’ pernah melontarkan satu kalimat yang terdengar seperti guyonan isinya luar biasa: “Anda tidur berarti Anda meninggalkan maksiat. Tidak mencuri, tidak dugem, tidak zina, dan tidak menggosip orang lain.”
Kalimat itu sederhana. Terlalu sederhana bahkan, sampai orang mudah menertawakannya lalu berlalu. Padahal di situ tersembunyi satu filsafat hidup yang sangat membumi: bahwa keselamatan iman sering kali tidak lahir dari amal-amal heroik, melainkan dari keputusan kecil yang tampak remeh—seperti memilih tidur.
Di dunia modern, maksiat bukan lagi sesuatu yang harus dicari jauh-jauh. Ia tidak nongkrong di gang gelap. Ia ada di saku kita, bernama ponsel. Tinggal buka layar, geser sedikit, lalu tersandung konten yang bikin hati bergerak ke arah yang salah. Gosip tersedia 24 jam. Fitnah tinggal forward. Zina visual bisa terjadi di kamar sendiri, sendirian, sambil mengaku “cuma scroll”.
Dalam situasi seperti ini, tidur menjadi semacam mode aman. Shutdown spiritual. Tombol off bagi nafsu. Orang yang tidur jam sepuluh malam sedang gagal total melakukan banyak dosa potensial: Ia tidak mungkin ikut gibah di grup WA. Ia tidak mungkin nyasar ke video haram. Ia tidak mungkin ngetik komentar jahat. Ia tidak mungkin membuat keputusan bodoh yang besok pagi disesali.
Secara umum tidur tentu bukan otomatis ibadah. Tapi secara realitas moral, tidur sering lebih menyelamatkan iman daripada begadang tanpa tujuan. Begadang yang katanya “me time”, tapi ujungnya overthinking, stalking mantan, atau debat kusir soal politik dan agama.
Di titik ini, ucapan Gus Baha’ terasa seperti kritik halus terhadap gaya religius kita yang sering terlalu glamor. Kita ingin pahala besar, ingin amal spektakuler, ingin terlihat saleh. Tapi lupa bahwa dosa-dosa kecil yang rutin justru lebih sering merusak batin.
Kita ingin tahajud, tapi tidak sanggup menahan jempol dari gibah. Kita ingin umrah, tapi komentar kita penuh dengki. Kita ingin jadi wali, tapi jam dua pagi masih scroll hal-hal yang tidak pantas. Maka kadang Allah tidak menolong kita dengan memberi kekuatan luar biasa untuk beribadah. Tapi dengan memberi rasa ngantuk. Rasa ngantuk itu rahmat. Bukan tanda malas, tapi pagar tak kasat mata: “Sudahlah, tidur saja. Daripada kamu bikin dosa baru.”
Di situ kita tahu satu hal penting: bahwa keselamatan iman tidak selalu lahir dari kesalehan aktif, tapi sering dari maksiat yang batal terjadi.
Bukan karena kita suci. Tapi karena kita capek. Dan mungkin, di hadapan Allah, itu sudah cukup jujur untuk disebut taufik.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
