'As-Suffah' Cikal Bakal Pendidikan Islam dan Raksasa-raksasa Ilmu
Jauh sebelum berdirinya madrasah-madrasah megah atau pesantren-pesantren yang kini tersebar di pelosok Nusantara, ternyata ada sebuah tempat sederhana di pojok Masjid Nabawi. Namanya As-Suffah. Serambi beratap pelepah kurma yang menjadi saksi lahirnya pendidikan Islam paling awal dalam sejarah. Bahkan disinilah cikal bakal organisasi pendidikan Islam dimulai. "Bukankah pesantren juga seharusnya menjadi organisme?". Jika dianalogikan pesantren seperti tubuh manusia yang tersusun rapi. Dimulai dari sel, jaringan, hingga organ yang bekerja seirama tanpa perlu diperintah. Jika kita menarik garis ke masa lalu, analogi ini sesungguhnya telah dipraktikkan Rasulullah sejak 14 abad silam. Tepatnya di As-Suffah. Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, beliau tinggal di rumah sahabat Abu Ayyub Al-Anshari selama tujuh bulan. Yakni sampai selesainya pembangunan masjid dan rumah beliau.
Para sahabat Muhajirin berbondong-bondong meninggalkan Mekah demi mempertahankan keimanan mereka. Namun satu masalah besar menghadang: ke mana mereka akan tinggal? Rasulullah SAW menerapkan sistem al-mu'akhah atau persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar. Satu per satu sahabat dari Mekah dipersaudarakan dengan penduduk Madinah. Tujuan utamanya adalah membangun sistem kemasyarakatan yang mengatasi sistem kabilah. Bahwa ikatan Islam harus lebih kuat dari ikatan-ikatan lainnya. Namun jumlah pendatang terus bertambah. Rumah-rumah di Madinah tidak lagi mampu menampung semuanya. Di sinilah As-Suffah lahir sebagai solusi. Masjid Nabawi yang dibangun Rasulullah SAW berukuran 70 x 60 hasta, atau sekitar 31,5 x 27 meter.
Semula masjid tidak beratap. Ketika para sahabat mengeluhkan teriknya matahari, dibuatlah naungan dari pelepah kurma di sisi depan arah kiblat. Naungan inilah yang disebut suffah. Setelah kiblat dipindahkan dari Baitul Maqdis ke Ka'bah pada Rajab atau Sya'ban tahun kedua Hijriah, naungan yang semula di depan kini berada di belakang masjid, tepatnya di sisi utara. Di tempat inilah para sahabat fakir yang belum memiliki tempat tinggal bermukim. Mereka disebut Ahl as-Suffah, para penghuni serambi. Apa yang membuat As-Suffah istimewa bukan sekadar atapnya yang terbuat dari pelepah kurma. Yang membuatnya legendaris adalah sistem yang terbentuk secara natural di dalamnya.
Perhatikan bagaimana As-Suffah beroperasi.
Pertama, ada santri. Para sahabat fakir yang tinggal di sana. Jumlah mereka naik-turun, kadang banyak kadang sedikit. Dalam Musnad Ahmad disebutkan, Aus bin Abi Aus menceritakan bahwa mereka duduk-duduk bersama Rasulullah SAW di Suffah. Beliau bercerita kepada mereka dan mengingatkan mereka.
Kedua, ada guru. Rasulullah SAW sendiri yang langsung mengajar dan membimbing mereka setiap hari.
Ketiga, ada kurikulum. Pelajaran akidah, akhlak, Al-Qur'an, dan tuntunan hidup Islami yang disampaikan secara langsung.
Keempat, ada sistem gotong royong. Masyarakat Madinah bahu-membahu menyuplai konsumsi para penghuni As-Suffah, meski mereka sendiri tidak kaya. Penanggung jawab utamanya tetap Rasulullah SAW. Ini persis seperti organisme dimana sel-selnya adalah para santri yang aktif dan hidup. Jaringannya adalah sistem pembelajaran yang saling terkait. Organnya adalah berbagai fungsi yang bekerja harmonis. Pengajaran, pemondokan, dan pembinaan.
Alumni Terbaik As-Suffah Salah satu alumni paling cemerlang dari pesantren atau pendidikan Islam pertama ini adalah Abu Hurairah. Ia hijrah ke Madinah pada tahun ketujuh Hijriah dan langsung bergabung dengan As-Suffah. Meski hanya sekitar hampir empat tahun bersama Rasulullah SAW, Abu Hurairah berhasil menjadi perawi hadis terbanyak dalam sejarah Islam dengan 5.374 hadis. Rahasianya? Ia selalu berada di dekat Rasulullah SAW karena tinggal di As-Suffah. Dalam Shahih Muslim dikisahkan pengalaman mengharukan tentang Islamnya ibunda Abu Hurairah berkat doa Rasulullah SAW. Mari kita simak. Abu Hurairah bercerita bahwa ia telah berulang kali mengajak ibunya masuk Islam saat sang ibu masih musyrik.
Suatu hari ia kembali mengajaknya, tetapi sang ibu justru mengatakan hal-hal yang tidak ia sukai tentang Rasulullah SAW. Maka Abu Hurairah pun pergi menemui Rasulullah SAW sambil menangis. Ia memohon kepada Rasulullah SAW untuk mendoakan ibundanya. Rasulullah SAW lalu berdoa, "Ya Allah, berilah hidayah kepada ibunda Abu Hurairah." Dengan hati penuh harap, Abu Hurairah bergegas pulang. Sampai di rumah, pintu terkunci. Ia mendengar gemericik air. Rupanya ibunya sedang mandi. Tak lama, pintu terbuka. Sang ibu berkata, "Wahai Abu Hurairah, saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya."
Air mata bahagia mengalir. Doa Rasulullah SAW terkabul seketika. As-Suffah telah menginspirasi generasi demi generasi umat Islam. Bahkan sebagian ulama tasawuf meyakini kata tasawwuf berasal dari kata suffah. Merujuk pada gaya hidup sederhana para penghuninya yang zuhud namun kaya ilmu. Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 273 menggambarkan mereka dengan indah.
لِلۡفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحۡصِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ ضَرۡبٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِيمَٰهُمۡ لَا يَسَۡٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ ٢٧٣
Bahwa apa pun yang diinfakkan diperuntukkan bagi orang-orang fakir yang terhalang usahanya karena jihad di jalan Allah. Mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak mengetahuinya mengira bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka memelihara diri dari mengemis. Inilah karakter yang kemudian diwariskan ke pesantren-pesantren dan pendidikan Islam di seluruh dunia Islam, termasuk Nusantara.
Disnilah kita memahami bahwa pendidikan Islam dan pesantren tidak boleh sekadar menjadi lembaga yang bisa mati kapan saja. Bergantung pendanaan, regulasi, atau siapa yang memimpin. Bahkan pendidikan Islam dan Pesantren harus menjadi organisme. Hidup, tumbuh, dan berkembang secara mandiri. Dan organisme pendidikan Islam dan pesantren yang paling sempurna telah dicontohkan Rasulullah SAW di As-Suffah. Sederhana dalam fisik, namun agung dalam substansi. Minim fasilitas, namun maksimal dalam pencapaian. Tanpa gedung megah, namun melahirkan raksasa-raksasa ilmu seperti Abu Hurairah.
Setiap pendidikan Islam dan pesantren, dari yang paling kecil hingga yang paling besar, pada hakikatnya sedang berusaha meniru lingkungan As-Suffah. Pertanyaannya sekarang: sudahkah pendidikan Islam dan pesantren kita menjadi organisme yang hidup seperti As-Suffah? Ataukah kita masih terjebak menjadi sekadar lembaga yang rapuh? Jawabannya ada di tangan kita semua. Wallahu a'lam bi al-shawab.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan