Suherman, C.DAI., M.A., M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dapur-dapur Besar dan Pertanyaan yang Tertinggal
Setiap proyek besar selalu punya dua wajah: wajah idealisme dan wajah distribusi keuntungan.

Dapur-dapur Besar dan Pertanyaan yang Tertinggal

Di sebuah negeri yang katanya sedang mengejar kecerdasan generasi, tiba-tiba dapur menjadi pusat peradaban. Negara bicara dapur. Ormas bicara dapur. Pejabat bicara dapur. Anggaran bergerak, proyek berjalan, ribuan titik masak didirikan dengan narasi yang sama: demi rakyat, demi masa depan, demi gizi anak bangsa.

Semua terdengar mulia.

Tetapi seperti biasa, di tengah kemuliaan itu rakyat menyimpan satu pertanyaan yang tidak masuk dalam proposal: ini untuk mencerdaskan, atau sekadar mempercepat perputaran keuntungan?

Karena di negeri ini kita sudah terlalu sering melihat sesuatu yang dimulai dengan bahasa pengabdian berakhir dengan bahasa proyek.

Dapur, yang mestinya ruang sunyi tempat ibu menakar cinta dalam bentuk lauk sederhana, berubah menjadi istilah administratif. Ada tendernya. Ada distribusinya. Ada hitung-hitungan porsinya. Ada grafik serapannya. Dan tentu saja—ada yang kebagian dan ada yang tidak.

Yang menarik bukan pada makanannya, tetapi pada keramaiannya. Semua ingin terlibat. Semua ingin mengambil peran. Semua ingin terlihat peduli. Seolah-olah kecerdasan anak bangsa bisa lahir dari seberapa besar volume nasi yang dimasak, bukan dari seberapa jernih sistem pendidikan dibangun.

Padahal kita tahu, persoalan bangsa ini tidak pernah sesederhana lapar dan kenyang. Ada kualitas guru, ada akses buku, ada ketimpangan ekonomi keluarga, ada lingkungan yang membentuk mental anak. Tetapi dapur lebih cepat difoto. Lebih mudah dilaporkan. Lebih konkret dijadikan angka. Dan angka selalu terlihat meyakinkan.

Di sinilah publik mulai ragu. Bukan karena program memberi makan itu salah—memberi makan orang lapar adalah amal yang sangat mulia. Tidak ada yang menolak itu. Yang dipertanyakan adalah orientasinya: apakah ini sungguh-sungguh gerakan perbaikan manusia, atau hanya siklus ekonomi baru yang kebetulan memakai nama rakyat?

Karena setiap proyek besar selalu punya dua wajah: wajah idealisme dan wajah distribusi keuntungan.

Kalau niatnya murni mencerdaskan, maka yang paling sibuk seharusnya bukan hanya dapur, tetapi juga perpustakaan, ruang kelas, pelatihan guru, dan perbaikan keluarga sebagai lingkungan pertama anak belajar.

Kalau yang paling riuh justru pengadaan, katering, dan jaringan suplai, wajar bila orang bertanya: ini program pendidikan atau industri baru?

Pertanyaan itu bukan bentuk sinisme. Ia justru tanda bahwa masyarakat ingin memastikan bahwa kata “rakyat” tidak hanya menjadi label yang ditempel pada setiap kegiatan.

Sebab rakyat tidak butuh sekadar kenyang sesaat. Rakyat butuh sistem yang membuat mereka tidak terus-menerus lapar.

Pada akhirnya, dapur-dapur itu akan dinilai bukan dari jumlahnya, tetapi dari dampaknya. Apakah anak-anak benar-benar tumbuh lebih sehat dan lebih cerdas? Apakah ekonomi lokal benar-benar bergerak adil? Apakah yang kecil ikut hidup, atau hanya yang besar yang semakin besar?

Karena dalam sejarah negeri ini, yang sering membuat rakyat lelah bukan programnya—tetapi jarak antara niat yang diumumkan dan kenyataan yang dirasakan.

Dan rakyat selalu punya insting yang jujur untuk membaca: mana yang benar-benar pengabdian, dan mana yang hanya aroma bisnis yang kebetulan dimasak di dapur yang sama.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post