Suherman, C.DAI., M.A., M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Puasa dan Perpindahan Jam Makan
Puasa mengajarkan satu hal yang sering hilang dalam hidup modern: kemampuan untuk tidak selalu mengikuti keinginan.

Puasa dan Perpindahan Jam Makan

Di banyak rumah, menjelang Maghrib di bulan Ramadan, meja berubah menjadi perayaan. Gelas-gelas disusun, gorengan berbaris, kolak mengepul, nasi seperti menunggu pembalasan. Seharian menahan lapar seakan hanya jeda menuju kenyang yang lebih serius. Puasa pun diam-diam bergeser maknanya: bukan menahan, tetapi menunda.

Di titik ini para ulama mengingatkan—puasa memang sah bila sejak fajar hingga Maghrib kita tidak makan dan minum serta menjaga diri dari pembatal. Fiqih telah memberi batas yang jelas dan tegas. Tetapi fiqih juga seperti pagar: ia menjaga kebun, bukan tujuan dari kebun itu sendiri.

Imam Ghazali, dan banyak ulama setelah beliau, memandang puasa sebagai latihan menurunkan dominasi nafsu. Lapar bukan sekadar kosongnya perut, tetapi longgarnya cengkeraman syahwat. Karena ketika perut terlalu penuh, hati sering ikut berat. Pikiran lamban, malam dipenuhi kantuk, dan ibadah terasa seperti beban. Maka lapar—dalam kadar yang mendidik—membuat jiwa ringan dan akal jernih.

Di sinilah perbedaan antara puasa sebagai hukum dan puasa sebagai jalan.

Puasa yang hanya memindah jam makan berhenti pada batas sah. Ia tidak menyentuh lisan yang masih gemar melukai, mata yang masih bebas ke mana saja, telinga yang masih menikmati ghibah, dan hati yang masih dipenuhi ambisi dunia. Secara hukum ia selamat, tetapi secara makna ia belum berangkat.

Para ulama menyebut ada puasa orang awam, puasa orang khusus, dan puasa yang lebih khusus lagi. Puasa orang awam adalah menahan makan dan minum. Puasa orang khusus adalah menahan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sedangkan puasa yang paling dalam adalah ketika hati ikut berpuasa—tidak sibuk dengan selain Allah, tidak riya’, tidak sombong, tidak dipenuhi dendam.

Maka Ramadan sebenarnya bukan sekadar memindah jadwal, tetapi memindah pusat hidup: dari perut ke hati, dari kebiasaan ke kesadaran, dari nafsu ke ketaatan.

Sebab yang diinginkan dari puasa bukan rasa lapar itu sendiri. Allah tidak membutuhkan lapar kita. Yang dikehendaki adalah lahirnya taqwa—sebuah keadaan ketika manusia mampu mengatakan “cukup” pada dirinya sendiri.

Orang yang siangnya menahan, lalu malamnya berlebihan, sesungguhnya hanya memindah waktu kenyang. Tetapi orang yang siangnya menahan dan malamnya tetap terukur, dialah yang sedang belajar menguasai diri.

Puasa mengajarkan satu hal yang sering hilang dalam hidup modern: kemampuan untuk tidak selalu mengikuti keinginan.

Dan mungkin di situlah rahasia mengapa pahala puasa disebut langsung oleh Allah, tanpa ukuran angka. Karena yang dinilai bukan seberapa lama kita tidak makan, tetapi seberapa jauh kita berhasil menundukkan diri.

Jika setelah Ramadan yang berubah hanya jadwal makan, maka yang berpuasa hanyalah tubuh. Tetapi jika yang berubah adalah cara kita melihat dunia, cara kita berbicara, cara kita menahan keinginan—maka yang berpuasa adalah seluruh diri. Dan puasa seperti itulah yang oleh para ulama disebut bukan sekadar sah, tetapi sampai.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post