'Bangun Subuh' Antara Seragam dan Sajadah
Ada hal yang aneh dalam rumah-rumah kita. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar tinggi, seorang ibu bisa menjadi alarm paling setia. Ia mengetuk pintu kamar, memanggil nama anaknya, kadang sambil mengomel, kadang sambil mengancam: “Ayo bangun, nanti terlambat sekolah.”
Ajaibnya, anak pun akhirnya bangun. Dengan mata setengah terbuka, dengan tubuh yang masih berat, ia tetap bangkit. Seragam dikenakan. Tas disiapkan. Sepatu dicari. Sekolah tidak boleh terlambat.
Tapi ada pagi lain yang lebih awal. Pagi yang sunyi. Ketika langit belum sepenuhnya terang, dan udara masih memeluk bumi dengan dingin yang lembut.
Pagi itu bernama Subuh.
Tidak semua rumah gaduh pada waktu itu. Tidak semua orang tua mengetuk pintu kamar anaknya. Tidak semua suara memanggil dengan nada yang sama: “Ayo bangun, waktunya salat.” Padahal bedanya hanya beberapa menit. Beberapa menit sebelum sekolah.
Barangkali kita terlalu percaya pada masa depan yang bisa dihitung: nilai rapor, ijazah, pekerjaan, gaji. Hal-hal yang jelas jalurnya, jelas manfaatnya, jelas ukurannya. Sedang Subuh adalah sesuatu yang tak tampak hasilnya di mata. Tidak ada raportnya. Tidak ada sertifikatnya.
Padahal justru di situlah pendidikan paling awal dimulai: ketika seorang anak belajar bahwa hidup ini bukan hanya tentang mengejar dunia yang terlihat, tetapi juga tentang menjawab panggilan yang tak terdengar oleh ambisi.
Sekolah mengajarkan anak menjadi pintar. Namun subuh mengajarkan anak menjadi hamba.
Kita rajin memastikan anak tidak terlambat masuk kelas. Tapi kadang lupa memastikan ia tidak terlambat berdiri di hadapan Tuhannya.
Mungkin karena sekolah terasa penting. Sedang Tuhan… kita anggap sudah tahu sendiri jalan-Nya.
Dan pagi terus datang setiap hari. Dengan dua panggilan yang berbeda. Yang satu kita kejar. Yang satu sering kita tunda.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan