Suherman, C.DAI., M.A., M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
'Tarim' Kota Kecil dengan Keunggulan Para Wanitanya
Rahasia sebuah kota bukan pada bangunannya, bukan pula pada jumlah penduduknya. Tetapi pada apa yang paling sering diucapkan oleh lidah warganya

'Tarim' Kota Kecil dengan Keunggulan Para Wanitanya

Di Hadramaut Yaman ada sebuah kota kecil bernama Tarim. Tidak besar, tidak ramai seperti kota-kota dunia. Tapi dalam sejarah tasawuf, ia sering disebut dengan nama yang aneh sekaligus indah: kota seribu wali. Banyak orang bertanya: bagaimana mungkin sebuah kota kecil melahirkan begitu banyak ulama dan orang-orang saleh?

Suatu hari Habib Umar bin Hafidz pernah memberi jawaban yang sederhana. Jawaban yang tidak berbicara tentang gedung, kurikulum, atau sistem pendidikan yang rumit. Beliau justru menyebut sesuatu yang sering tidak dianggap penting: para perempuan Tarim.

Beliau bercerita bahwa para ibu di Tarim membesarkan anak-anak mereka dalam suasana dzikir dan salawat. Ketika menggendong anak, mereka berdzikir. Ketika menyusui, mereka bersalawat. Bahkan ketika memasak pun lidah mereka tetap mengingat Allah.

Seorang anak yang sejak bayi hidup di tengah suara dzikir tentu tumbuh dalam suasana yang berbeda. Ia belum mengerti kata-kata itu, tapi jiwanya sudah akrab dengan irama mengingat Tuhan. Barangkali dari situlah lahir generasi yang hatinya lembut dan mudah menerima cahaya ilmu.

Habib Umar juga pernah mengenang satu kebiasaan lain. Para wanita Tarim ketika berbicara dengan laki-laki yang bukan mahram tidak melembutkan suara mereka. Bahkan sering mereka mengeraskan suara seperti laki-laki—bukan karena kasar, tetapi karena rasa malu yang sangat dijaga. Mereka menjaga diri bukan hanya dengan pakaian, tapi juga dengan sikap.

Di situlah tampak bahwa sebuah masyarakat dibentuk bukan hanya oleh para ulama di mimbar, tetapi juga oleh para ibu di rumah.

Seorang ibu mungkin tidak menulis kitab. Tidak mengajar di majelis besar. Tidak dikenal orang banyak. Tapi ia menanamkan sesuatu yang jauh lebih awal: kebiasaan.

Dalam pandangan para ulama, kebiasaan adalah tanah tempat karakter tumbuh. Jika tanahnya dipenuhi dzikir, kesederhanaan, dan rasa malu, maka yang tumbuh sering adalah generasi yang dekat kepada Allah. Karena itu Tarim bukan hanya melahirkan ulama karena banyak madrasahnya. Tapi karena suasana hidupnya dipenuhi ingatan kepada Tuhan.

Dari kota kecil itu kemudian lahir para ulama yang berjalan jauh ke berbagai negeri—termasuk ke Nusantara. Mereka membawa ilmu, adab, dan cara beragama yang lembut. Ikatan antara Tarim dan Indonesia bukan sekadar hubungan nasab atau sejarah perjalanan ulama. Ia juga ikatan nilai: nilai dzikir, nilai adab, nilai cinta kepada Rasulullah.

Maka mungkin rahasia sebuah kota bukan pada bangunannya, bukan pula pada jumlah penduduknya. Tetapi pada apa yang paling sering diucapkan oleh lidah warganya—dan apa yang paling sering hidup di hati mereka.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post